Menu

Nyai Agung Raba Pamekasan; Tulang Rusuk Pakunya Madura

  Dibaca : 340 kali
Nyai Agung Raba Pamekasan; Tulang Rusuk Pakunya Madura
Batu Nisan Nyai Agung Raba di Pademawu Pamekasan. (Foto/RM Farhan)
Link Banner

NAMA besar Kiai Agung Raba di Pademawu, Pamekasan, tak bisa dipungkiri. Sosoknya begitu melegenda dan menjadi buah bibir sepanjang masa, khususnya di poros Pamekasan-Sumenep. Pakunya Pulau Madura merupakan semat pada pribadi agung di Pulau Garam ini. Namun di balik kharisma itu ada sosok lain yang berdiri tegak di belakangnya, seorang makmum setia, tulang rusuk Sang Wali yang tak kalah agungnya: Nyai Agung Raba. Di batu nisannya yang kokoh, berdampingan dengan sang suami, terukir tulisan Kangjeng Nyai Agung Raba. Apa dan siapa tokoh perempuan ini, yang dalam lembaran sejarah tak pernah terkupas perannya di samping Sunan Kalijaganya Madura itu?

Asal Usul

Menurut naskah kuna di Raba maupun Sumenep, nama lain Nyai Agung Raba ialah Dewi Kebbun. Beliau merupakan salah satu putri dari Kiai Modin Teja, Pamekasan. Saudara Nyai Kebbun bernama Nyai Salama, yaitu yang diperisteri Kiai Khotib Bangil di Parongpong, Sumenep. Proses pertemuan Nyai Kebbun dan Kiai Agung Raba (Abdurrahman) terjadi setelah Kiai Agung Raba mengaji pada Kiai Aji Gunung di Sampang.

Dalam catatan atau riwayat keluarga Raba Pamekasan, Kiai Abdurrahman alias Kiai Agung Raba, saat dititah gurunya itu ke arah timur, yaitu Pamekasan, sowan terlebih dulu ke Kiai Modin Teja. Modin Teja ini berdomisili di Gar Bata (Langgar Bata), di kawasan Teja. Kenapa sowan Modin Teja? Menurut salah satu riwayat kuna, hal itu termasuk perintah Aji Gunung pada murid kesayangannya itu.

Nama Kiai Modin Teja seringkali disebut di banyak catatan tentang sejarah Sumenep dan Pamekasan. Meski hanya sekilas, nama beliau memang sangat penting untuk disebut. Khususnya yang berkaitan dengan genealogi. Ketokohannya memang tidak banyak dibincang. Namun posisinya sebagai sesepuh dan tokoh yang dita’zhimi di masanya itu menunjukkan kualitas dirinya baik dalam hal keilmuan dan sosial kemasyarakatan, khususnya di wilayah Pamekasan. Termasuk pesan Kiai Aji Gunung pada Kiai Agung Raba untuk acabis pada Modin Teja, semacam “pengakuan” penting akan ketokohannya.

Dalam hal keilmuan, berdasar informasi dari keluarga Raba, Pademawu, Pamekasan, sang Kiai merupakan ulama yang menjadi jujukan ilmu. Diceritakan dalam sebuah catatan kuna bertarikh paruh pertama 1900-an, bahwa Kiai Modin Teja memiliki semacam pesantren atau panggurun.

“Dulu, Kiai Raba atau Kiai Abdurrahman saat pertama menginjakkan kaki ke Pamekasan lebih dulu acabis (sowan; red) pada beliau,” kata Bindara Hamid, salah satu penerus estafet situs Raba sekaligus yang menyimpan catatan kuna tersebut pada Mata Madura.

Dalam buku Sejarah Sumenep (2003), disebutkan nama Kiai Modin Teja ini Abdullah. Dalam beberapa catatan silsilah, khususnya Silsilah Keluarga Keraton Sumenep (1989), susunan R B Abdul Fattah, Kiai Modin Teja tercatat sebagai putra Kiai Hakimuddin Teja. Nama lain Kiai Modin Teja tidak disebut. Babad Songennep (1914), tulisan Werdisastra, juga hanya menyebut Modin Teja saja. Begitu juga Zainalfattah (1952).

Sementara ke atas, Kiai Hakimuddin, di catatan silsilah Keraton Sumenep, disebut sebagai putra Kiai Cendana atau Sunan Cendana Kwanyar. Sedang di catatan lain, seperti di Pamekasan (sebagian) menulis bahwa Kiai Modin Teja adalah putra Kiai Gar Bata (Langgar Bata) atau Pandita Teja. Langgar Bata atau Pandita Teja ini disebut sebagai nama lain dari Kiai Hakimuddin. Di catatan Pamekasan juga menyebut putra lain Kiai Pandita (Langgar Bata), yaitu Kiai Agung Waru, leluhur beberapa tokoh pesantren besar di Pamekasan, di antaranya Banyuanyar dan Bata-bata.

Hanya, di catatan Pamekasan itu menyebut Kiai Pandita atau Hakimuddin bukan langsung putra Sunan Cendana. Seperti catatan yang dipegang Bindara Ilzam (Banyumas), Bindara Badri (Pakong), dan Ustadz Nurul Yaqin (Pasean), menyebut Kiai Pandita sebagai salah satu putra Nyai Selase, Bangkalan. Nyai Selase ialah putra Nyai Kumala binti Sunan Cendana. Suami Nyai Kumala ialah Kiai Abdullah Tonjung bin Kiai Khatib Pesapen bin Pangeran Khotib Mantu (Madegan). Sedang suami Nyai Selase ialah Kiai Selase, yang silsilahnya masih diperdebatkan. Catatan di Pamekasan ini, mengenai Kiai Pandita ke atas, sama dengan catatan milik beberapa keluarga kiai di Bangkalan.

Dipersunting Pakunya Madura

Seperti disebut di muka, Modin Teja memiliki dua orang putri, yaitu Dewi Kebbun Dan Nyai Salama. Dalam buku Kiai Agung Rabah, Rabah dan Sejarahnya, di Pesantren Modin Teja itulah terjadi pertemuan Kiai Abdurrahman dengan Dewi Kebbun. Singkat cerita, Dewi Kebbun dilamar oleh Kiai Agung Raba. Gayung bersambut, sekaligus mengantongi restu Kiai Modin Teja, dilangsungkanlah akad nikah keduanya di Teja

Sementara, putri lainnya, Nyai Salama diperisteri Kiai Khotib Bangil Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep. Dari pernikahan tersebut lahirlah tiga di antaranya Kiai Faqih (Ke Pekke) Lembung Sumenep, Nyai Nuriyam, dan Nyai Galuh. Kiai Faqih dikenal sebagai Kiai Lembung pertama, seorang ulama besar, sufi, ahli fiqih dan budayawan besar di masanya. Konon, keraton Mataram sampai mengundang beliau ke tanah Jawa (Sejarah Sumenep, 2003).

Nyai Nuriyam ini yang diperistri Kiai Abdullah (Bindara Bungso) bin Abdul Qidam Batuampar, Sumenep, dan punya anak yang salah satunya Bindara Saot (pembuka dinasti terakhir Keraton Sumenep). Sementara Nyai Galuh yang menikah dengan Kiai Jalaluddin di Parongpong punya anak Nyai Izza, istri Bindara Saut alias ibunda Panembahan Sumolo (Notokusumo I).

Kiai Khotib Bangil sendiri bersaudara kandung dengan Kiai Abdul Qidam Arsojih, Larangan, Pamekasan. Keduanya sama-sama anak Kiai Talang Parompong Sumenep.

Kembali pada Dewi Kebbun alias Nyai Agung Raba, setelah resmi menjadi istri Kiai Abdurrahman, keduanya sowan ke Kiai Aji Gunung. Oleh Kiai Aji Gunung, Kiai Abdurrahman dipinta meneruskan bertapa, bertirakat di tempat yang telah ditemukannya (Alas Raba), sesuai petunjuk Aji Gunung sendiri, dan ayah Kiai Abdurrahman; yaitu Kiai Sendir III yang membekali segenggam tanah Sendir, Lenteng, Sumenep.

Kiai Abdurrahman taat pada perintah gurunya, dan di saat bersamaan, Dewi Kebbun juga taat dan tunduk pada suaminya. Beliau memperbolehkan suaminya bertapa dan tirakat sesuai perintah gurunya. Akhirnya oleh Kiai Abdurrahman, Nyai Dewi Kebhun dititipkan ke ayahnya di Pesantren Gar Bata Teja. Keduanya sementara dipisahkan jarak.

Nyai Kebbun dengan setia menunggu bertahun-tahun lamanya, hingga sang suami usai bertapa di alas Raba (dalam Babad Songennep disebutkan Kiai Abdurrahman ditemani keponakannya yang bernama Bindara Bungso). Hingga kemudian Allah berkehendak mengabarkan kewalian Kiai Abdurrahman melalui peristiwa hujan di masa Panembahan Ronggosukowati. Kiai Abdurrahman lantas berjuluk Kiai Agung Raba. Setelah Raba perlahan menjadi pesantren, maka Dewi Kebbun pun berkumpul dan tinggal di pesantren Raba bersama suaminya.

Dewi Kebbun turut serta membantu Kiai Agung Raba mengasuh santri dan pesantren. Dalam riwayat turun-temurun di Raba, beliau dikenal sebagai sosok istri yang sabar, ikhlas dan taat pada suaminya. Meski Kiai Agung Raba lebih banyak berkhalwat, beliau dengan ikhlas mengasuh dan merawat sendiri para keponakan Kiai Agung Raba dan juga keponakan beliau sendiri yang juga mondok di pesantren Raba. Sebutlah Bindara Bungso dan Bindara Adil, yang keduanya adalah anak Kiai Abdul Qidam. Juga Kiai Faqih Lembung, serta santri-santri lainnya.

Dari perkawinan dengan Kiai Agung Raba, Dewi Kebbun tidak dianugerahi anak hingga Kiai Agung Raba wafat.  Tak lama kemudian, Dewi Kebbun pun wafat dan dimakamkan disamping suaminya. Batu nisan beliau dan Kiai Agung Raba merupakan hadiah dari Raja Sumenep yaitu Pangeran Notokusumo (Panembahan Sumolo), cucu Bindara Bungso, yang bertarikh 1200 H atau sekitar tahun 1786 M. Panembahan Sumolo menyebut beliau Kangjeng Nyai Agung Raba.

R B M Farhan Muzammily

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Link Banner
Link Banner
Link Banner

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional