Menu

Nyai Cendana Kwanyar; Ibunda Ulama Madura

  Dibaca : 592 kali
Nyai Cendana Kwanyar; Ibunda Ulama Madura
BELAHAN JIWA. Pasarean Nyai Cendana (kanan) di samping Pasarean Sunan Cendana di Asta Kwanyar, Bangkalan. (Foto/R M Farhan)

MataMaduraNews.com-BANGKALAN-Tokoh-tokoh di jagad sejarah hampir jarang memunculkan sosok-sosok dari kalangan perempuan. Meski memang tidak menafikan sama sekali adanya sosok-sosok dari kalangan hawa ini, jika diprosentasikan atau dibuat perbandingan dengan tokoh-tokoh pria, tentu hasilnya menunjukkan porsi kalangan hawa yang jauh lebih sedikit. Apakah ini semacam bias gender?

Di masa lampau, kedudukan perempuan, khususnya di masa jahiliyah atau pra kerasulan Muhammad Saw, dipastikan tak dilirik meski seperempat belah mata. Perempuan dianggap sebagai objek jajahan, dalam segala hal. Hingga Islam datang dan mengangkat martabat mereka setinggi-tingginya, dan semulia-mulianya. Sejajar dengan pria dalam hal hak dan kewajiban.

Meski peran perempuan besar, memang ada batasan tertentu yang diatur oleh norma agama dan budaya. Seperti kiprahnya di ruang publik. Meski dewasa ini sekat itu sudah setipis helaian rambut. Dulu hampir tidak dikenal pemimpin perempuan dalam sejarah Islam klasik, namun kini sebaliknya.

Tokoh-tokoh sejarah memang kebanyakan dari kalangan Adam. Namun ada juga yang nyata-nyatanya mengungkap peran perempuan di balik beberapa peristiwa besar sejarah. Peran utama sebagai isteri dan ibu jelas lebih utama di banding peran apapun.

Lihat contoh Imam asy-Syafi’i yang ditinggal ayahnya dan hanya berada di naungan kasih sayang sang ibu. Lihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Sultonul Awliya’, yang juga besar dalam didikan tulus seorang ibu sahaja. Dan banyak juga kisah-kisah tokoh besar lainnya, seperti penguasa atau tokoh utama sejarah di sebuah zaman yang mencapai posisi gemilang sekaligus terpuruk hingga ke bawah lantai kekuasaan, karena sebab peran dan ulah tangan seorang isterinya.

Dalam konteks rubrik Jejak Ulama, media ini memang pernah menampilkan sosok tokoh ulama perempuan, seperti Nyai Selase. Kali ini, MataMaduraNews.com kembali menampilkan sosok perempuan yang kehadirannya jelas menjadi sebab besar yang membawa peradaban Madura khususnya, dan luar Madura pada umumnya: Nyai Cendana atau Ratu Cendana, atau sebutan sepadan lainnya yang bermakna Isteri Sunan Cendana, tokoh Ulama dan Waliyullah Agung di Madura Barat.

Hampir tak pernah ditemukan mengenai kisah hidup perempuan yang menjadi ibu dan leluhur banyak tokoh agung di Madura dan Tapal kuda ini. Baik di riwayat lisan maupun tulisan, lebih-lebih buku sejarah dan babad. Satu-satunya yang ada hanya catatan silsilah. Itupun bukan catatan mandiri. Dalam arti, catatan silsilah merupakan catatan umum, tidak memuat bahasan khusus, melainkan bagan yang menunjukkan asal-usul dan keterkaitan hubungan orang perorang atau tokoh pertokoh secara genealogi.

Siapakah Nyai Cendana ini? Dalam sebuah catatan silsilah di Madura Barat, Nyai Cendana disebut sebagai isteri pertama Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin), Kwanyar, Bangkalan. Dalam tradisi pararaton atau bangsawan, posisi beliau seperti permaisuri atau padmi atau isteri utama. Catatan itu berasal dari upaya inventarisir oleh beberapa pemerhati nasab ulama Madura terhadap penelusuran catatan dan asal-usul tokoh ulama keturunan Wali Sanga di Madura. Di antaranya yang digiatkan oleh Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) dan Tim 5wali Institute.

Sedikit informasi mengenai Nyai Cendana ialah mengenai nasab beliau. Ayah Nyai Cendana ialah Pangeran Bukabu, anak Pangeran Mandaraga dan Nyai Gede Kentil. Pangeran Mandaraga ini kalau ditarik ke atas berasal dari Kudus.

“Berdasar catatan silsilah keraton Sumenep yang ditulis ulang R B Abdul Fatah, Pangeran Mandaraga adalah anak Panembahan Kalijaga bin Sunan Kudus,” kata R B Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep pada MataMaduraNews.com.

Catatan lebih tua dari itu, yang merupakan sumber catatan saat ini berasal dari tulisan kuna di keluarga keraton Sumenep yang saat ini disimpan di salah satunya di kampung Pangeran Le’nan Kapanjin. Dalam pantauan media ini, salah satu kiai di Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep juga memiliki catatan serupa dengan model dan penulis berbeda.

Hanya saja, di catatan Madura Timur, anak-anak Pangeran Bukabu yang disebut ialah Kiai Astamana dan Kiai Andasmana. Ada juga dua nama perempuan, namun tanpa keterangan. Nah, satu-satunya keterangan bahwa salah satu anak perempuan Pangeran Bukabu yang menjadi isteri Sunan Cendana hanya catatan Madura Barat. Catatan itu didapat oleh salah satu anggota NAAT, Ustadz K Nurkhalis Uzairi. “Catatan dari almarhum Bindara Habib, Murombuh, Bangkalan,” katanya.

Kalau mengacu pada catatan tersebut, antara Sunan Cendana dan Nyai Cendana masih ada hubungan kefamilian yang cukup dekat. Pangeran Bukabu adalah putra Nyai Gede Kentil. Sedang Nyai Kentil ini adalah saudara Nyai Gede Kedaton, ibunda Sunan Cendana.

“Jadi hubungan Sunan Cendana dengan Pangeran Bukabu adalah saudara sepupu. Sehingga dari segi nasab Sunan Cendana menikahi keponakan sepupunya,” kata R B Ja’far Sadiq, salah satu anggota Tim 5wali Institute.

Dari Nyai Cendana ini lahirlah anak sulung Sunan Cendana yang dikenal waliyullah besar Madura Barat di masanya. Yaitu Kiai Putramenggolo. Di beberapa catatan beliau ditulis dengan banyak nama lain, seperti Panembahan Sampang; Ratu Lor Petapan; Sunan Putromenggolo; Kiai Adipati Putromenggolo; dan lainnya.

“Sunan Putromenggolo ini menurunkan banyak tokoh-tokoh besar di Madura hingga tapal kuda. Dari putranya yang bernama Pangeran Saba Pele lahirlah Raden Macan Alas Waru, yaitu leluhur tokoh-tokoh keraton di Madura Timur, juga ulama-ulama besar di Pamekasan,” kata R B Nurul Hidayat, pemerhati sejarah Sumenep lainnya.

Salah satu cucu Raden Macan Alas adalah Raden Entol Anom alias Raden Ario Onggodiwongso, Patih Sumenep. Entol Anom merupakan leluhur Kiai Macan atau Kiai Demang Singoleksono Ambunten, waliyullah besar di masanya. Tokoh yang membawa tradisi Sintung di Sumenep. Sementara saudara Raden Entol Anom, yaitu Raden Entol Janingrat menurunkan Nyai Agung Waru, leluhur kiai-kiai di Pamekasan hingga Tapal kuda. Di antara keturunan Nyai Agung ialah keluarga besar pesantren Banyuanyar dan Bata-bata. “Isteri Kiai Abdul Hamid bin Itsbat, Nyai Halimah, adalah keturunan Nyai Agung Waru,” kata K. Muhammad Ali Muqit, Tempurejo, Jember, salah satu keturunan Kiai Abdul Hamid dan Nyai Halimah.

Kembali pada Nyai Cendana, tidak ada keterangan tentang masa hidup hingga akhir hayatnya. Namun jika melihat pada peninggalannya yaitu anak-cucunya yang menjadi orang-orang besar dan menjadi tokoh-tokoh panutan masyarakat, bahkan hingga pusaranya pun tetap ramai diziarahi, Nyai Cendana merupakan tokoh besar yang mastur atau tersembunyi.

R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
BPRS-MATA MADURA

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional