Menu

Panembahan Blingi; Pemimpin Para Wali di Sepudi

  Dibaca : 779 kali
Panembahan Blingi; Pemimpin Para Wali di Sepudi
Pasarean Panembahan Blingi, di Gayam, Sepudi,Sumenep. (Foto/RM Farhan)

Matamaduranews.comSUMENEP-Sepudi, yaitu nama sebuah pulau di Sumenep, konon berasal dari kata Sepuh Dewe. Maknanya yang paling sepuh. Di pulau yang oleh lidah orang Sumenep ini disebut Poday, konon merupakan pulau yang paling awal dibabat. Sebagian berpendapat, Islam pertama kali masuk di pulau ini, dibanding pulau-pulau lainnya: yakni gugusan pulau di kawasan pulau Garam. Tokoh yang diyakini merupakan pembabat pulau ini ialah Sayyid Ali Murtadla, saudara tua Sunan Ampel. Keduanya ialah dua di antara beberapa anak laki-laki Sayyid Ibrahim Zainal Akbar as-Samarqandi al-Husaini alias Sayyid Ibrahim Asmorokandi atau Sayyid Ibrahim Asmoro.

Dalam beberapa literatur sejarah, Sayyid Ali Murtadla dikenal dengan nama Raja Pandita. Makamnya ada di Gresik. Sementara di catatan Sejarah Sumenep (2003), Sayyid Ali disebut dengan nama lain, Sunan Lembayung Fadal.

Mencari jejak Sayyid Ali Murtadla atau Raja Pandita, dan juga atau Sunan Lembayung Fadhal di Sepudi seperti mencari selembar jerami di tumpukan jarum. Masyarakat setempat juga sempat menggelengkan kepala saat ditanya soal itu. “Memang dari sejarah yang saya dengar nama itu disebut sebagai leluhur Wali Keramat di pulau ini,” kata Kus, salah satu warga di kecamatan Gayam.

Wali keramat yang dimaksud Kus ialah Panembahan Blingi, atau yang diketahui masyarakat di sana bernama Wirokromo. Nama lainnya lagi ialah Ario Pulangjiwo. “Disebut Blingi, artinya pemimpinnya reng Balli (orang perpangkat Waliyullah) di pulau ini,” kata H. Abdurrahman, penjaga pasarean Panembahan Blingi.

Dalam buku Babad Songennep (1914) karya Raden Werdisastra, nama Panembahan Blingi atau Balinge memang disebut sebagai sesepuh di Pulau Sepudi. Istilah Panembahan di sini sejatinya perlu dikaji ulang. Karena pada umumnya, Panembahan ialah gelar bagi penguasa kerajaan Islam. Nah, apakah benar di Sepudi dahulu adalah kerajaan?

“Kalau merujuk babad, itu masa berdirinya Majapahit. Sehingga penggunaan gelar penguasa Islam masih tergolong resistan. Dan untuk Sepudi memang belum bisa dipastikan sebagai salah satu pusat pemerintahan,” kata R. B. Hairil Anwar, pemerhati sejarah di Sumenep.

Babad Songennep menyebut Panembahan Blingi sebagai ayah dari dua bersaudara pertapa sakti: Adipoday dan Adirasa. Adipoday adalah ayahanda Jokotole alias Pangeran Saccadiningrat III, adipati Sumenep yang keratonnya di Lapa, Dungkek (meski ada pendapat lain yang membantahnya).

Blingi atau Balinge, ejaan aslinya ialah Wlingi atau Walinge. Seperti disebut di atas bermakna kumpulan para Waliyullah. Namun bahasa Madura memang tidak menggunakan huruf “w” kecuali sebagai pelancar. Seperti sawah, menjadi saba; perwira menjadi parbira; sawo menjadi sabu; dan lain sebagainya. Sehingga Wlingi atau Walinge pun dilafalkan Blingi atau Balinge.

R. T. A. Zainalfattah, sejarahwan legendaris Madura memiliki versi lain mengenai Panembahan Blingi ini. Baik sumber di Sepudi, babad, dan buku sejarah di Sumenep kompak menyebut nama lain sang Panembahan ini ialah Ario Pulangjiwo. Hanya, di buku catatan Zainalfattah, Ario Pulangjiwo disebut sebagai kuasa untuk Pamekasan yang diturunkan (baca: diutus) dari Majapahit. Mengenai siapa dan asal-usul Ario Pulangjiwo, Zainalfattah tidak memberi keterangan lebih lanjut.

Sehingga spontan, satu-satunya info mengenai asal-usul Ario Pulangjiwo hanya catatan Sumenep. Yaitu menyebut beliau sebagai anak Sunan Lembayung Fadal alias Raja Pandita alias Sayyid Ali Murtadla. Genealogi ini sepertinya saat ini menjadi perdebatan di kalangan pakar nasab. Pasalnya, Ali Murtadla adalah juga disebut sebagai ayah dari Sayyid Haji Utsman. Haji Utsman ini adalah ayah Sunan Paddusan. Dalam catatan silsilah Sumenep, dan buku Babad, Sunan Paddusan adalah anak menantu Jokotole. Sementara Jokotole adalah anak Adipoday.

“Perlu analisa tahun di dalamnya juga,” kata R. B. Ja’far Shadiq, pemerhati silsilah di Sumenep.

*****

Kendati berada di pulau yang mesti diseberangi dalam waktu 2 hingga 3 jam perjalanan laut dari Pelabuhan Kalianget, pasarean Panembahan Blingi di Sepudi ramai peziarah. Tidak hanya dari Madura, namun juga dari Jawa dan luar Jawa.

H. Abdurrahman, penjaga Pasarean Panembahan Blingi. (Foto/RM Farhan)

“Tidak sedikit yang karena memiliki niat, misalnya jika punya hajat yang tercapai akan berziarah ke sini,” kata H. Mang, panggilan Abdurrahman, penjaga pasarean.

Pasarean Panembahan Blingi memiliki bentuk khas. Jirat dan badan makam terbuat dari kayu. Sepintas mirip perahu. Menurut Haji Mang, sejak dirinya masih kecil, kondisi makam tak mengalami pemugaran. “Dari kayu jati. Kalau setahu saya itu sudah mulai dari dulu begitu,” katanya.

Tak hanya makam Panembahan Blingi, makam Adipoday di kompleks yang lain juga ramai peziarah. Kompleks Asta Nyamplong. Berada dalam sebuah kubah, pasarean Adipoday berkumpul dengan isterinya, Raden Ayu Saini alias Pottre Koneng, yaitu ibunda Jokotole. Hanya saja pasarean Adipoday sudah dipugar. Kijingnya dikeramik

Dalam cerita rakyat, Adipoday bertapa di gunung Gegger, Bangkalan. Setelah menikah dengan Pottre Koneng, Adipoday dikisahkan kembali ke Sepudi dan menjadi pemimpin di sana. Beliau dikenal dengan kebiasaannya berdzikir dengan memakai tasbih dari biji buah Nyamplong. Konon, kebiasaan itu menjadi tradisi masyarakat khususnya para ulama dan kiai generasi setelahnya di Pulau Sepudi.

R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
BPRS-MATA MADURA

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional