Pemimpin Itu Pelayan, Maka Layanilah Tuannya

Oleh: Khoirul Kirom*

Khoirul Kirom
Khoirul Kirom

Pemimpin adalah orang yang sangat penting dalam semua hal, keadaan, zaman, tempat, kejadian, organisasi, perusahaan, ataupun pemerintahan. Akan tetapi, kali ini saya akan sedikit mencondongkan pemimpin dalam tulisan ini kepada pemimpin negara.  Berbicara pemimpin negara, maka juga berbicara politik pemerintahan. Sebab, pemimpin pada era demokrasi ini tengah salah mengartikan maknanya sebagai seorang pemimpin yang hakikatnya adalah pelayan dari rakyat.

Politik memang merupakan hal yang sering diperbincangkan terkait sosok pemimpin. Di era demokrasi, banyak beraneka latar belakang orang-orang bermain dalam ranah politik. Namun, tidak semua dari mereka paham dan mengerti menjadi pemimpin yang baik secara publik. “Tugasku untuk partai berakhir ketika tugasku untuk negara dimulai,” demikian diucapkan Manuel L. Quezon, presiden Persemakmuran Filipina dari tahun 1935 hingga 1944.

Menjadi pemimpin haruslah mencebur diri dalam totalitas tanpa batas. Apa maksudnya? Total dalam arti mengabdi dan berjuang, tidak setengah-setengah atau sekedar mementingkan ambisi-ambisi pribadi. Dalam kepemimpinan politik, totalitas merupakan konsekuensi logis dari niat bahwa berpolitik itu panggilan. Totalitas berarti bekerja secara utuh, sungguh-sungguh. Ia bekerja sepenuh pengabdian dan kedalaman.

Pemimpin yang total dan sungguh-sungguh tidak akan berleha-leha dalam memimpin. Sejak dari niat memantapkan keyakinan, pemahaman dan kesadaran eksistensial memimpin adalah amanat. Ia akan berusaha tidak menyia-nyiakannya, dia akan sungguh-sungguh dalam memimpin tidak akan sembrono, apalagi mementingkan kepentingan dan kesenangan sendiri di atas penderitaan mereka yang dipimpin. ”Untuk menjadi benar-benar hebat kita harus berdiri bersama rakyat tidak diatasnya,” begitulah kata Montesquieu.

Dengan semua itu, lantas lahirlah pertanyaan apakah pemimpin haruslah di depan? Jawabnnya tidak selalu. Kata Ki Hajar Dewantoro, prinsip kepemimpinan itu bisa di depan, di tengah, dan di belakang. Menurutnya, prinsip kepemimpinan itu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kalau posisinya di depan pemimpin harus menjadi teladan, jika pemimpin di tengah harus menjadi prakarsa, dan jika di belakang memberi dukungan dan dorongan. Pemimpin adalah manusia optimis, penggerak, motivator, dan dinamis, bukan statis.

Jadi, apakah benar pemimpin itu melayani? Benar. Memimpin itu hakikatnya melayani, bukan dilayani. Seorang kepala negara atau pemerintahan yang dipilih secara langsung-demokratis, hakikatnya adalah pelayan dari mereka yang memilih ataupun yang tidak memilih. Konsep melayani itu tidak lebih mulia daripada dilayani. Maka, menjadi pemimpin janganlah sombong. Tapi jangan lupa, sebagaimana kualitas kalian (yang dipimpin), begitulah pula pemimpin kalian.

Akhirnya, jika pemimpin hakikatnya adalah pelayan, maka semestinyalah melayani tuannya, rakyatnya. Jangan lagi terbalik, pemimpin menjadi tuan, sementara rakyat harus melayani. Sebab jika masih demikian, bukan hanya arogansi yang terjadi. Tetapi, pemimpin jelas kurang peduli karena merasa tinggi.

*Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Tinggalkan Balasan