Pilkada Pamekasan; RBT & Kiai Kholil, Siapa Pemenang?

Kiai Kholil dan RBT (kanan)
Kiai Kholil dan RBT (kanan)

Catatan: Hambali Rasidi*

TANDA-TANDA KH Kholilurrahman (Kiai Kholil)  dan  Ra Badrud Tamam (RBT) bakal merebut kursi Bupati Pamekasan mulai ada titik terang. Meski pendaftaran calon belum dibuka oleh KPU Pamekasan, tapi manuver kedua tokoh ini sudah mulai jelas terbaca. Keduanya mendaftar ke sejumlah partai politik (Parpol) peraih suara di DPRD Pamekasan. Dan memohon restu ke sejumlah kiai dan tokoh Pamekasan.

RBT dan Kiai Kholil sama-sama mendaftar ke PPP Nasdem, Demokrat dan Gerindra. Keduanya saling berurutan. Jika RBT mendaftar lebih dulu, selang berapa jam, Kiai Kholil juga ikut mendaftar. Begitu sebaliknya.

Diantara Parpol yang membuka pendaftaran bakal calon bupati (Bacabup) dan bakal calon wakil bupati (Bacawabup), hanya RBT dan Kiai Kholil yang intens mendaftar sebagai Bacabup. Kecuali  Rudy Susanto (mantan Kepala Syahbandar Tlanakan) yang hanya mendaftar Bacabup ke PPP. Figur lain? Taufadi hanya intens di posisi Bacawabup. Komisaris PT Garam ini, terus bergerilya untuk mendapat restu dari sejumlah Parpol. Dibanding Roja’i, Samhari, Wazirul Jihad, Herman Kusnadi dan Brigjen Pur TNI Mas’ud Efendi. Mereka baru terlihat daftar ke PPP. Belakangan, Suli Faris, Ketua PBB baru terlihat mendaftar sebagai Bacabup di Gerindra.

‘Pertarungan’ RBT dan Kiai Kholil ini menarik diikuti. Kenapa? Dua figur ini masih satu rumpun. Dalam aliran politik, keduanya sama-sama dari PKB. RBT anggota DPRD Jatim dari PKB. Kiai Kholil, anggota DPR RI dari PKB. Dalam nasab keluarga, Kiai Kholil masih tercatat paman RBT. (Kajian RBT dan Kiai Kholil dalam Perspektif Ijtihad Politik Pamekasan akan diulas lain waktu).

Lalu, PPP sebagai Parpol pemenang Pemilu Pamekasan dengan raihan 9 kursi, hingga kini belum memunculkan kader terbaiknya untuk ikut berlaga di Pilkada 2018. Jika dikata PPP tidak memiliki kader yang memenuhi kualifikasi menjadi Cabup atau Cawabup, itu sangat  mustahil. Masih banyak stok yang qualified. Siapa itu? Sebut saja, Ahmad  Baidawi, penyambung lidah sejumlah Kiai Pamekasan. Dia kini menjabat anggota DPR RI dari PPP. Ada juga Halili Yasin, Ketua DPRD Pamekasan dan Kholil Asy’ari, Wabup Pamekasan. Masih banyak figur PPP lain yang belum dimunculkan ke publik. Tapi kenapa, tiga figur ini tidak ikut mendaftar Bacabup atau Bacawabup  yang digelar DPC PPP? Ini yang masih menjadi teka-teki publik.

Wartawan Mata Madura di Pamekasan berusaha mencari dan menggali informasi itu. Tapi, hingga kini, belum ada jawaban yang rasional. Kecuali kasak-kusuk terdengar sayup memberi dalih. Dalam ngerumpi politik, pasca OTT KPK yang melibatkan Bupati Syafii, peta politik Pamekasan ikut berubah. Wabup Kholil Asyari, konon, ingin pensiun dari politik praktis. Dia membulatkan tekad untuk tidak lagi terjun di dunia politik praktis setelah dua kali menjabat Ketua DPRD dan posisi terkahir Wabup. Dia ingin megikuti suara nuraninya. Bukan suara parpol atau pendukungnya.

Jika tidak memunculkan kader sendiri, apakah PPP akan memilih RBT atau Kiai Kholil sebagai pengusung? Lagi-lagi ini menjadi teka-teki politik. Pilihan PPP nanti seperti ingin memainkan peran utama dalam Pilkada Pamekasan. PPP  ingin menjadi kata kunci kemenangan salah satu calon. Apa parameternya? Kiai PPP yang memiliki rumus sendiri. Kiai PPP pasti memiliki epistemologi politik dalam melangkah. Apakah Istikharah Politik atau berdasar pertimbangan lain.

Lantas, bagaimana kesiapan Parpol RBT dan Kiai Kholil? PKB sudah jauh hari menjatuhkan pilihan ke RBT. PKB, dengan raihan 5 kursi, minimal masih butuh 4 kursi untuk mendapat tiket syarat mendaftar Cabup-Cawabup di KPU. 20% dari 45 kursi DPRD Pamekasan.

Lalu, kemana labuhan Kiai Kholil? Kasak kusuk yang santer, minimum sudah ada tiga Parpol yang menyatakan ready mengusung Kiai Kholil. Parpol itu, Gerindra, 3 kursi, Nasdem,4 kursi, dan PDI-P, 2 kursi. Jika dijumlah menjadi 9 kursi.

Darimana kepastian tiga Parpol itu untuk mengusung Kiai Kholil? Lagi-lagi ini kasak-kusuk. PDI-P dipastikan merekomendasi Kiai Kholil jika berpasangan dengan Taufadi.  Gerindra dan Nasdem? Gerindra bakal mengusung Kiai Kholil setelah melihat hasil rilis survey LSIN akhir Juli lalu. Dalam survey itu, elektabilitas Kiai Kholil (42,9 %) mengguli RBT dengan prosentase, 38,5%.

Dari berbagai survey menyebut, Kiai Kholil dan RBT yang bakal ‘bertarung’ merebut sebagai pemenang Pilkada. MH Said Abdullah, politisi ulung PDI-P punya pertimbangan tersendiri ketika menjatuhkan pilihan politik dalam setiap event Pilkada di Madura. Apalagi, Taufadi sebagai duta MH Said, terdengar-walau belum pasti-bakal mendampingi Kiai Kholil.

Gerindra Jatim juga berpikir realistis. Salah satu petinggi Gerindra Jatim sempat menelpon. Dia minta second opinion kepada saya diantara figur yang bakal ikut Pilkada Pamekasan. Politisi Gerindra itu juga minta kejelasan hasil survey LSIN yang mengungguli Kiai Kholil daripada RBT. Dalam telpon itu, saya jelaskan berdasar hasil rilis resmi Lembaga Survey Independen Nusantara (LSIN). Dan Gerindra Jatim seperti ingin mencari ‘kader’ baru lewat momentum Pilkada Pamekasan. Sebagaimana event Pilkada DKI yang sukses merekrut ‘kader’ baru merebut Gubernur DKI.

Bagaimana dengan Nasdem? Nah..diinternal Nasdem Pamekasan, masih ada dinamika dalam kepastian mendukung Kiai Kholil. Meski ada pernyataan resmi dari Zainullah, Ketua Bappilu Nasdem untuk mendukung Kiai Kholil. Tapi, pernyataan itu dibantah Apik, Humas Nasdem. Menurut anggota DPRD Pamekasan ini, pernyataan Zainullah bersifat pribadi. Apa pun yang terjadi dalam dinamika Nasdem, itu hal biasa dalam politik. Setidaknya, signal Zainullah memberi petunjuk bahwa Kiai Kholil telah mengantongi lampu hijau dari petinggi DPP Nasdem. Sebagai Parpol baru, Nasdem juga ingin mencari ‘kader’ baru di penguasa Pamekasan.

Bagaimana dengan Demokrat, PBB, PKS  dan Golkar? Demokrat sebagai partai pengusung Bupati Syafii di Pilkada 2013 lalu, seperti tidak ingin sebatas menjadi penonton terbaik di Pilkada Pamekasan 2018. Dari ngerumpi politik terbaca keinginan Demokrat Pamekasan untuk mengusung figur yang dipastikan menang. Siapa figurnya? Nah ini masih dalam permainan politik Demokrat. Setidaknya, raihan 5 kursi Demokrat membuka pendaftaran Bacabup dan Bacawabup untuk membangun koalisi. Hanya dari hasil ngerumpi politik, Demokrat bakal memilih figur yang memiliki kans terpilih dalam Pilkada 2018. Tentu saja, Demokrat memiliki kajian mendalam sebagai mantan partai penguasa.

Bagaimana dengan PBB? Ketua DPC PBB Pamekasan, Suli Faris menjadi icon politik PBB. Semula ia bersama PAN, PKS, Golkar, Nasdem dan Gerindra menyatakan diri dalam poros perubahan. Tapi, belakang peta berubah ketika PAN dengan raihan 5 kursi menyatakan diri mendukung RBT. Dengan mengantongi suara 5 kursi, Suli Faris masih optimis poros perubahan terwujud bersama partai lain. Sehingga dia ikut mendaftarkan diri sebagai Bacabup dalam penjaringan Gerindra.

Lalu, PKS dan Golkar?  Dinamika politik kedua partai ini masih senyap. Para politisi PKS dan Golkar tentu punya strategis sendiri jelang Pilkada Pamekasan. Tidak larut pada alur cerita Pilkada Pamekasan. Golkar, 4 kursi dan PKS, 3 kursi seperti wait and see, kemana alur ceritanya.

Jadi, siapa pemenang Pilkada Pamekasan? RBT apa Kiai Kholil?. Mari tunggu hasil hitung cepat bulan Juli 2018 mendatang.

*Hambali Rasidi, pernah jadi wartawan di Pamekasan

 

Tinggalkan Balasan