Menu

Ponpes Al-Hikam Burneh Bangkalan, Padukan Dua Poros Keilmuan

  Dibaca : 330 kali
Ponpes Al-Hikam Burneh Bangkalan, Padukan Dua Poros Keilmuan
VIEW: Kompleks Ponpes Al-Hikam, Tonjung, Burneh, Bangkalan dari atas. (Foto Istimewa/alhikam.com)
Link Banner

Pesantren di ujung barat Pulau Madura ini masih cukup belia. Usianya bahkan belum sampai seperempat abad. Berdiri empat belas tahun silam, pesantren ini sudah menjadi tujuan utama hampir dua ribu orang untuk nyantri, menimba ilmu agama. Kunci utamanya ialah memadukan dua poros keilmuan: agama dan umum.

MataMaduraNews.comBANGKALAN-Bangkalan bisa dikata gudangnya pesantren. Kota ujung barat Tanah Garam ini juga sekaligus gudangnya ulama. Proses islamisasi jelas masuknya melalui Kota Salak ini, khususnya yang kaitannya dengan Islamisasi Wali Sanga. Meski teori tentang masuknya Islam sekaligus islamisasi masih terus digali dan berkembang. Belumlah final.

Di ujung barat, nama Kiai Cendana alias Sayyid Zainal Abidin di Kwanyar begitu melegenda. Begitu juga nama Pangeran Musyarrif atau Sayyid Abdurrahman. Di periode berikutnya, tokoh-tokoh pesantren awal bermunculan dari anak-cucu Kiai Cendana sekaligus Pangeran Musyarrif, maupun tokoh-tokoh lainnya yang secara garis semenda masih terkait keduanya, khususnya Kiai Cendana.

Kiranya, periode puncak bisa dikata terjadi di abad 19 hingga 20. Nama besar Syaikhona Mohammad Khalil, mahaguru ulama Nusantara di masanya, hingga kini masih bergaung keras. Mengakar, dan sekaligus membentuk dahan dan cabang yang menaungi bumi Cakraningrat ini. Ulama-ulama ini benar-benar menjelma barokah nyata. Pusat-pusat belajar ilmu agama terus menjadi payung-payung yang menaungi masyarakat dari perubahan-perubahan iklim zaman.

Untuk kesekian kalinya, Mata Madura kembali mengangkat profil pesantren di kota yang konon berasal dari nama Bang Kulon ini. Pesantren yang diangkat kini kendati bukan pesantren kuna, yang masih “remaja”, namun sudah diserbu ribuan santri. Pesantren ini terletak di Tonjung, Burneh. Al-Hikam namanya. Seperti nama sebuah kitab populer karya Ibnu Athaillah.

***

Menurut K H M Nuruddin A Rahman, mengutip sumber dari website pesantren ini, berdirinya Al-Hikam berawal dari keinginan mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren, yang menyatukan unsur IPTEK dan IMTAQ. Maka pada tahun 1996, Kiai Nuruddin membebaskan sebidang tanah  di pinggiran Kota Bangkalan. Lahan yang tepatnya  berada di Jalan Raya Perumnas No 01 Kelurahan Tonjung, Kecamatan Burneh ini. Di atas sebidang tanah itulah kemudian didirikan pondok pesantren yang diberi nama Al-Hikam. Mula-mula, di area Pesantren ini didirikan sebuah Masjid. Pembangunan masjid itu terjadi pada tahun 1998.

Dari sumber sama, Pondok Pesantren Al-Hikam Bangkalan secara resmi didirikan dan dibuka pada tahun 2003. Pesantren ini dilengkapi dengan Unit Pendidikan PAUD/TKA, Madrasah Ibtidaiyah Diniyah (MID), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan 2 jurusan yaitu IPA dan IPS. Di samping ada juga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan 2 jurusan, yaitu Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).

”Jadi pondok di sini bisa dikatakan semi formal, karena dua ilmu yang sama-sama penting bisa diperoleh,” kata Kiai Nuruddin, saat acara Haflah Ikhtitam dan Wisuda tahun ajaran 2016/2017, Rabu, 24 Mei 2017 lalu.

Sesuai dengan Fokus Central Visi dan Misi pendirian Pondok  Pesantren Al-Hikam, unit-unit Pendidikan Al-Hikam memang menggabungkan antara Kurikulum Formal (Pemerintah) dengan Non Formal (ala Pesantren) yang menambahkan Muatan Lokal berupa pelajaran-pelajaran Agama Islam.

Sama halnya dengan Pesantren Salafiah lainnya, Al-Hikam merupakan sebuah tempat untuk menimba ilmu Agama dan mendalami ilmu Agama. Metode Belajar dalam menimba Keilmuan Agama Islam terbagi menjadi berbagai macam metode, di antaranya adalah berupa jenjang pendidikan Agama, Ngaji Kitab Kuning (Kuliah Shubuh), kelompok belajar tambahan serta Bahtsul Masa’il.

Dalam mendidik santri dan siswanya, Al-Hikam menggunakan sistem pendidikan yang sangat mengutamakan hubungan harmonis antara pengasuh, pendidik dan santri, sehingga memberikan suasana belajar -mengajar yang nyaman dan kondusif. Sistem pendidikan yang digunakan oleh Pondok Pesantren Al-Hikam ditujukan untuk melahirkan generasi Santri yang mampu bersaing di Dunia Global. Selain itu Al-Hikam membentuk Generasi Muda yang menjunjung tinggi Nilai Agama, Moral dan Tradisi Indonesia dengan mengedepankan faham Ahlus Sunnah  wal Jama’ah yang dianut oleh Mayoritas Ulama Pendahulu.

Saat ini, seperti yang dikatakan Kiai Nuruddin, Al-Hikam memang baru berdiri sejak 14 tahun yang lalu. Namun menurutnya, meskipun tergolong baru, pondok pesantren yang dipimpinnya itu sudah manampung sebanyak 1750 santri. ”Santri-santri itu adalah amanat bagi dari para orang tua,” ujarnya.

| R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional