Menu

Ponpes Al-Ihsani Bangkalan, Beri Ruang Dakwah Pada Para Ahli Disiplin Ilmu

  Dibaca : 152 kali
Ponpes Al-Ihsani Bangkalan, Beri Ruang Dakwah Pada Para Ahli Disiplin Ilmu
Pendiri Ponpes Al-Ihsani, Sendang Dajah, Labang, Bangkalan, K. M. Ihsan bin Tasir bin Ismail. (Foto for Mata Madura)
Link Banner

MataMaduraNews.comBANGKALAN-Dahulu kawasan Kecamatan Labang, Bangkalan, tak seperti masa kini. Kawasan ini jauh dari lalu-lalang alat transportasi. Begitu juga Desa Sendang Dajah, yang bertetangga dengan Desa Petapan. Desa Petapan merupakan kawasan keramat. Hal itu disebabkan di bumi tersebut bersemayam jasad waliyullah besar yang merupakan anak waliyullah besar. Tokoh tersebut ialah Kiai Putramenggolo atau yang kini dikenal dengan Sunan Putramenggolo. Sang wali merupakan anak sulung Sunan Cendana, Kwanyar, Bangkalan, leluhur mayoritas ulama di Madura dan wilayah Tapal Kuda pada khususnya.

Kembali pada Sendang Dajah, akses jalan ke sana dahulu tidak semulus saat ini. Jalan penghubung yang sekaligus juga jalan utama hanyalah berupa jalan kampung yang sempit. Kini, akses menuju kedua desa tersebut sudah merupakan jalur utama. Perkawinan Madura-Jawa melalui jembatan Suramadu membuat kedua tempat itu mudah dijangkau kini. Sebuah papan besar di jalur utama itu juga menuliskan posisi pasarean Sunan Putramenggolo, Sang Wali Putra Wali. Begitu juga gapura sebagai pintu masuk menuju desa Sendang Dajah. Setiap orang hanya tinggal membelokkan kendaraannya ke kanan (bagi yang dari timur Bangkalan) untuk menuju Sendang Dajah.

Kali ini Desa Sendang Dajah menjadi sasaran rubrik pesantren Mata Madura. Meski bukan pesantren kuna dan besar di Madura Barat, di desa ini terdapat sebuah pusat penggemblengan ilmu agama yang memiliki semangat besar. Berdiri tahun 1979, hingga saat ini santri sudah berjumlah hampir tiga ratusan.

”Sekitar 269. Itu termasuk yang tidak mukim,” kata K. Abdul Hannan bin Ihsan, pengasuh kedua pesantren bernama Al-Ihsani ini.

Menurut Bindara Hannan, panggilan K. Abdul Hannan, pesantren tersebut didirikan oleh almarhum ayahandanya, K. Ihsan bin Tasir bin Ismail. Santri awal disebutnya berjumlah dua orang.

K. Abdul Hannan atau Bindara Hannan, Pengasuh Ponpes Al-Ihsani saat ini. (Foto for Mata Madura)

Kiai Ihsan menurut cerita Bindara Hannan, saat awal mula dakwahnya tidak langsung mendirikan pesantren. Kiai Ihsan juga tidak memiliki warisan pesantren. Meski leluhurnya, menurut data silsilah keluarga Bindara Hannan masih bersambung pada salah satunya Kiai Putramenggolo, yang memang di antara keturunannya ialah kiai-kiai di daerah Petapan dan Sendang Dajah. Bahkan Kiai Ihsan juga ternyata bukan kelahiran Madura. Ia lahir di Surabaya. Tepatnya di Nyamplungan RT 2, RW 10. Kedua orang tua Kiai Ihsan hijrah dari Sendang Dajah ke kota Pahlawan.

”Awal mula dakwah bapak itu dengan mendirikan padepokan silat yang diberi nama Selendang Santri. Iurannya bukan dengan uang, tapi harus ikut ngaji Sullam Safinah,” kisah Bindara Hannan.

Kiai Ihsan menurut Bindara Hannan memang dikenal alim dan jago silat. Ilmu-ilmunya didapat dari pengembaraannya di beberapa belahan tempat tanah Jawa. Menurut Bindara Hannan, ayahnya dulu pernah kabur dari rumah setelah mencium kaki kedua orang tuanya saat tidur. Dalam perjalanan ini lantas diitemukan supir truk, dan dibawa ke Pasuruan. Di sana ia oleh supir itu dipasrahkan ke Nyai Mas Gondang, ibunda K. Mas Kholil Sidogiri. Oleh Nyimas Gondang, karena kasihan dianggap anak, makan di dalem. ”Setiap hari tugasnya belanja ke warung dowo untuk keperluan dapur. Setelah dewasa, dalam usia sangat muda dinikahkan hingga dua kali oleh Nyimas Gondang dengan gadis di Ngabar dan Ngempit,” kata Hannan.

Dari Sidogiri, K. Ihsan mengembara lagi ke pesantren asuhan Kiai Romli Tamim di Rejoso. Oleh Mbah Romli, ia lantas dianggap anak, makan di dalem sampai kemudian jadi juru tulis azimat beliau. Dari sana kemudian mengembara lagi ke Buntet Cirebon. ”Di sana beliau peroleh ilmu bela diri Cimande dan Sunda,” imbuh Hannan.

Oleh para gurunya, sebagaimana dikatakan Bindara Hannan, Kiai Ihsan disebut berada di maqom tajrid (diam). Namun karena dasarnya yang tak bisa diam, beliau setelah mengembara, lalu buka usaha, salah satunya dagang panci. Namun terus rugi dan sempat putus asa. ”Lalu ingat pesan gurunya sehingga beliau memutuskan diam. Nah lantas beliau dipercaya sebagai ketua keamanan pasar dan daerah sekitarnya. Jadi semua parkiran dikuasai beliau, kemudian dunia mengalir kepada beliau,” tutur Hannan.

Nah, ketika mengawali merintis pesantren seperti disebut di muka, lembaga ini mulai berkembang. Mula-mula membentuk Madrasah Ula (1979), Paket B (1999), TK (2000), SMP al-Ihsani (2004), SMA al-Ihsani (2006), Madrasah Wustho (2009), hingga Marcing band Gita Nada Ihsani (2012).

Kiai Ihsan meninggal dunia pada 2015, bersamaan dengan dibukanya lagi kegiatan pesantren. Sejak empat tahun sebelumnya, menurut Bindara Hannan pesantren memang sempat vakum karena kamar santri tidak ada. Saat ini pembangunan terus diupayakan. ”Seperti saat ini penambahan pembangunan kamar santri putra,” kata Hannan.

Hannan menyebut lembaganya itu sebagai ladang pengamalan ilmu dan pasar bagi pencarinya. Al-Ihsani juga disebutnya memberi ruang dakwah kepada para ahli disiplin ilmu untuk mencerdaskan ummat. ”Sesuai dengan salah satu misi kami: mendatangkan ahli di tiap disiplin ilmu,baik agama atau umum,” tambahnya.

Kepada para santri, Bindara Hannan senantiasa memberi semangat dan pesan yang selalu dipetuahkan oleh ayahnya. ”Berbekallah dengan ilmu, karena ilmu adalah kunci semua pintu rahmat. Tidak ada manusia terlahir membawa segala kebutuhannya. Kebutuhan itu didapat atau dicari setelah lahir. Saat lahir, ia mendapatkan dari orang tuanya. Tapi saat dewasa ia harus mencari, dan untuk mendapatkannya dengan mempunyai ilmu,” tutupnya.

R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
bprs-wtp-matamadura
opd-matamadura

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional