Ponpes Bujahan Bangkalan Pertahankan Sistem Salaf

Sepintas memang sulit untuk memercayai bahwa di daerah ini terdapat sebuah pesantren yang usianya lebih tua dari Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena, kita tidak akan menemukan satupun ornamen atau tanda yang mencolok yang menunjukkan bahwa ini adalah sebuah pesantren seperti yang biasa kita temukan di pesantren pada umumnya. Yang ada hanyalah beberapa kamar dan sebuah musholla sederhana layaknya tempat tingal pada umumnya.

Namun, jangan salah inilah yang disebut dengan Pondok Pesantren Bujahan, Kelurahan Kemayoran Bangkalan. Pondok ini sudah ada sejak tahun 1940 sebelum Indonesia merdeka.

 

FORUM: Diskusi bulanan santri putra dan putri Ponpes Bujahan, Kemayoran, Bangkalan. (Foto Hasin, Mata Madura)
FORUM: Diskusi bulanan santri putra dan putri Ponpes Bujahan, Kemayoran, Bangkalan. (Foto Hasin, Mata Madura)

MataMaduraNews.comBANGKALAN – Awalnya pondok pesantren ini hanya bermula dari banyaknya masyarakat sekitar Bangkalan yang datang dan mengharap barokahnya kiai Muhammad Imron, putra dari ulama terkenal Syaichona Cholil Bangkalan yang kebetulan diambil menantu oleh Haji Muhammad Nor salah satu sesepuh di daerah Kemayoran tersebut. Kiai Muhammad Imron bersama dengan Nyai Maimunah binti Haji Muhammad Nor selanjutnya memiliki keturunan yang salah satunya Nyai Arfiah yang kemudian dinikahi oleh Kiai Ahmad Rofi’i.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, ternyata masyarakat sekitar tidak hanya datang berkunjung untuk mendapatkan barokahnya kiai Muhammad Imron. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang mengaji dan sebagian lagi menitipkan putra putrinya untuk menimba ilmu ke Kiai Akhmad Rofi’i, menantu Kiai Muhammad Imron. ”Sehingga tempat tersebut menjadi tempat kajian ilmu yang terus berlangsung sampai beberapa tahun, masyarakat yang tertarik belajar ilmu pun terus bertambah walaupun tidak terlalu signifikan jumlahnya,” ucap Kiai Syafi’ Rofi’i, putra dari pasangan Kiai Ahmad Rofi’i dan Nyai Arfiah sambil mengenang beberapa waktu silam.

Kegiatan Pondok Pesantren Bujahan terus berlangsung hingga akhirnya Kiai Ahmad Rofi’i wafat pada tahun 1963. Pada saat itu putra-putrinya masih kecil, sehingga kegiatan pondok pesantren terpaksa diasuh dan dilanjutkan oleh istri beliau yaitu Nyai Arfiah. Sang Nyai dibantu oleh beberapa santri Kiai Ahmad Rofi’i, yang saat itu sudah dianggap memiliki bekal ilmu yang mumpuni di bidang keagamaan.

Pada tahun 1979, Kiai Syafi’ Rofi’i pulang setelah selesai menimba ilmu dari pondok pesantren. Mulai saat itulah Kiai Syafi’ Rofi’i mulai membantu menjalankan kegiatan pondok pesantren. Walaupun belum sepenuhnya, karena masih sambil menempuh pendidikan sarjana di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Baru pada tahun 1988 setelah lulus sebagai sarjana, Kiai Syafi’ Rofi’i secara permanen menetap dan melanjutkan tugas kedua orang tuanya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bujahan.

”Pada saat itulah perkembangan pondok pesantren mulai signifikan bahkan jumlah santri pun bertambah banyak hingga kurang lebih 60 jumlah santri waktu itu, dari awalnya yang hanya sekitar 20-an lebih,” tutur kiai Syafi’ Rofi’i penuh bangga.

Salah satu asrama putra Ponpes Bujahan, Kemayoran, Bangkalan. (Foto Hasin, Mata Madura)
Salah satu asrama putra Ponpes Bujahan, Kemayoran, Bangkalan. (Foto Hasin, Mata Madura)

Kiai yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Bangkalan ini, sengaja tidak melengkapi pondok pesantrennya dengan lembaga pendidikan formal, karena ingin mempertahankan keasliannya. ”Ya, dari dulu sampai sekarang memang begitu (murni ngaji salaf, red),” ungkap kiai bersahaja tersebut.

Namun begitu, setiap santri diberikan kebebasan untuk menuntut ilmu umum di luar lingkungan pondok pesantren. Selain itu, keterbatasan lahan dan jumlah santri yang tidak banyak  juga menjadi salah satu alasan sehingga Pondok Pesantren Bujahan tidak mengembangkan dengan menyediakan lembaga pendidikan formal.

”Dan saya memiliki keyakinan bahwa lembaga pendidikan negeri jauh lebih baik untuk menjadi tempat santrinya menimba ilmu umum selama di sini (Ponpes Bujahan, red) belum bisa maksimal,” imbuhnya.

Kegiatan pondok pesantren pun akhirnya hanya dilaksanakan pada waktu pagi setelah shalat Subuh dan dimulai lagi setelah shalat Asar sampai jam 9 malam. Waktu-waktu tersebut diisi dengan kegiatan mengaji Al Qur’an, kajian kitab Al Qur’an dan hadis, musyawaroh, dan sesekali kuliah umum tentang dinamika sosial dan kemasyarakatan.

Saat disinggung tentang pengembangan pondok pesantren untuk ekspansi dan mencari tempat yang lebih luas, kiai yang juga disepuhkan di Kabupaten Bangkalan tersebut hanya mengatakan bahwa dirinya sudah sangat kerasan dan menikmati tempat yang merupakan peninggalan dari para pendahulunya, yaitu Kiai Muhammad Imron putra dari Syaichona Muhammad Cholil tersebut. Sehingga tidak ada sedikitpun niat terbersit untuk keluar walaupun dengan tujuan membesarkan pondok pesantren. ”Saya sangat kerasan dan enjoy disini,” tuturnya penuh rasa syukur.

Ayah dari Ahmad Musawwir itu pun hanya berharap putra tertuanya bisa melanjutkan dan meneruskan pondok pesantren warisan para pendahulunya itu. ”Harapan saya Ponpes Bujahan ini bisa dilanjutkan oleh putra saya Ahmad Musawwir. Karena selain usianya yang masih muda, dia (Ahmad Muasawwir, red) juga sudah lebih tinggi pengetahuan dan ilmunya dibandingkan saya,” pungkas Ra Syafi’, panggilan akrabnya.

| hasin/farhan

Tinggalkan Balasan