Ponpes Bustanul Ulum Pamekasan, Berdiri Satu Tahun Sebelum NU Lahir

Generasi ulama memang generasi nomor satu. Tak hanya posisinya sebagai pewaris Nabi, semua hal yang berhubungan dengan kesehariannya juga berbuah banyak hal utama. Mereka juga tidak hanya meninggalkan nama, tapi juga manfaat. Lihat saja di Madura misalnya, pasarean-pasarean Agung para penegak agama Allah itu selalu dipadati pengunjung. Imbasnya, mereka yang tinggal di sekitar itu ikut merasakan aliran barokah. Baik doa atau rezeki. Peninggalan lain yang tak kalah besar manfaatnya ialah pengguron atau pesantren. Sumur ilmu yang tak habis-habis ditimba pencarinya.

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Di edisi kali ini, Mata Madura mengangkat profil salah satu pesantren besar di wilayah Pamekasan. Pesantren yang berdiri hampir bersamaan (ada yang mengatakan beberapa tahun sebelumnya) dengan Nahdlatul Ulama itu merupakan peninggalan salah satu ulama di Kota Gerbang Salam: Kiai Haji Rofi’ie. Beliau merupakan salah satu tokoh yang mengabdikan hidupnya di jalur jihad dan keilmuan.

 

Papan Nama Ponpes Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan. (Foto Johar, Mata Madura)
Papan Nama Ponpes Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan. (Foto Johar, Mata Madura)

Awal Berdiri

Pesantren buah tangan Kiai Rofi’ie itu bernama Bustanul Ulum. Lokasi pesantren berada di kampung Sumber Anom Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan.

Di kampung itu Kiai Rofi’ie merupakan pendatang.Dalam buku saku “Mengenal Sosok K. H. Rofi’ie Dan Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom Angsanah Palengaan Pamekasan”, Kiai Rofi’ie disebut berasal dari Bringin Lao’ Somber. Beliau putra kedua dari Kiai Masri’a alias Kiai Haji Tubat bin Kiai Haji Hasan.

Sebelum ditempati Kiai Rofi’ie, Sumber Anom, Angsanah dahulu merupakan lokasi yang angker. Tempat itu hanya dihuni alas belukar. Karena angker atau menakutkan, tak ada orang yang berani menginjakkan kaki di tempat itu. Namun atas upaya Kiai Tubat dengan Kiai Rofi’ie, dan kehendak Sang Kuasa, tempat yang dijauhi orang itu kini malah menjadi pusat berkumpulnya orang-orang yang haus ilmu. Di samping sang ayah, salah satu tokoh yang ikut berperan penting ialah Kiai Haji Sirajuddin, Bettet. Kiai Sirajuddin ini adalah menantu Kiai Tubat atau saudara ipar Kiai Rofi’ie. Bahkan Kiai Sirajuddin ini yang turut menyertai Kiai Rofi’ie dalam menuntut ilmu. Termasuk saat mondok di Makkah selama tujuh tahun.

Alkisah, proses awal pembabatan wilayah baru itu penuh perjuangan. Kiai Rofi’ie mengawalinya dengan mendirikan rumah seadanya. Setelah itu beliau mendirikan sebuah masjid (surau) yang didukung oleh masyarakat setempat yang peduli. Konon, informasinya beberapa sarana dan prasarananya diambil dari Bringin atau tempat asal Kiai Rofi’ie. Berdirinya masjid itu menjadi awal kegiatan da’wah dan transfer ilmu. Semacam embrio dari pondok pesantren yang berdiri hingga saat ini.

Dalam catatan ponpes, peristiwa itu terjadi pada tahun 1925 Masehi. Tahun itu lantas menjadi tahun berdirinya ponpes Bustanul Ulum. Meski ada yang berpendapat berdirinya ponpes itu pada tahun 1920 Masehi. Namun tahun 1925 sepertinya lebih kuat, karena angka tersebut terukir di salah satu tembok masjid.

 

Gerbang menuju komplek Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan. (Foto Johar, Mata Madura)
Gerbang menuju komplek Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan. (Foto Johar, Mata Madura)

Tumbuh Kembang

Periode awal pesantren diisi dengan kegiatan majelis silaturrahim yang selanjutnya berkembang menjadi majelis ilmu. Di kala itu dibentuk juga Jam’iyah Shalawat Jailani atau Bellasan. Jam’iyah itu awalnya ditempatkan di rumah Haji Sirat di Bunglateh, sebelah Utara Sumber Anom.

Sekitar 1941, Kiai Rofi’ie mulai aktif ke kegiatan Nahdlatul Ulama. Kala itu memang program ke-NU-an digerakkan dari Sumber Anom. Kala itu juga suasana kental dengan aksi perlawanan fisik melawan penjajah Belanda. Kiai Rofi’ie perhatiannya terbelah. Aktivitasnya tak hanya di wilayah internal, namun juga banyak di luar pesantren. Apalagi Kiai Rofi’ie merupakan salah satu pimpinan pasukan Sabilillah. Sebuah riwayat yang menjadi cerita rakyat, suatu saat Kiai Jeddin Bunangkah berkata pada masyarakat Bunangkah, ”Besok akan kedatangan tamu seorang panglima. Dengan ini masyarakat Bunangkah agar berkumpul dan bersih-bersih untuk menyambut tamu ini”. Ternyata tamu yang datang dan disambut dengan penuh kehormatan itu ialah Kiai Rofi’ie.

Dan juga, di tahun itu Kiai Rofi’ie banyak menerima santri dari Angsanah maupun dari luar. Tahun itu juga diadakan kajian kitab seadanya melalui sorogan, tadarus dan kegiatan keagamaan lainnya yang masih sangat sederhana. Santri juga semuanya menetap, tapi ada yang nyolok (tidak mukim). Yang nyolok biasanya dari Bringin, tempat asal Kiai Rofi’ie.

Setelah itu dengan dibantu beberapa tokoh dan masyarakat setempat, Kiai Rofi’ie membuat bangunan pondok sederhana yang letaknya di sebelah Timur kediamannya, atau dekat sungai.

Tahun 1957, jumlah santri berkisar 30 orang. Kegiatan pengajian yang diberikan Kiai Rofi’ie hampir sehari semalam. Dimulai dari jam 08.00 istiwa’ mengaji al-Quran. Setengah jam kemudian diisi dengan mengaji kitab salaf seperti Safinah, Sullam, dan Bidayah. Hal itu berlangsung hingga masuk shalat Dhuhur.

Pasca shalat Dhuhur berjamaah pengajian kitab Safinah Sullam dilanjut. Malam hari, ba’da Maghrib, santri diwajibkan mengaji al-Quran yang dilanjutkan dengan shalat Isya berjamaah. Setelah itu, Kiai Rofi’ie memberikan tausiah. Bagi santri yang tingkatannya lebih tinggi dilanjutkan dengan mengaji kitab Kifayah dan Bidayah. Kegiatan malam itu ditutup pada pukul 22.30 dengan pembacaan Shalawat Nariyah yang disebut dengan gerak batin.

Kiai Rofi’ie juga tidak lantas alergi dengan pendidikan formal atau umum. Beliau lantas mendirikan MWB atau Madrasah Wajib Belajar. Hingga tahun 1960-an akhir baru beliau membangun gedung pertama.

Sepeninggal Kiai Rofi’ie pada tahun 1968, kendali ponpes dipegang putranya, Kiai Haji Thoyyib hingga tahun 1980. Tahun itu Kiai Thoyyib pindah Lumajang meneruskan ponpes mertuanya. Akhirnya nakhoda ponpes diserahkan pada Putra Kiai Rofi’ie yang lain, yaitu Kiai Haji Moh. Hasyim. Masa beliau ini ponpes berkembang pesat. Beliau membentuk Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Raudlatul Atfal berselang beberapa tahun setelahnya. Tahun 1995, berlanjut dengan didirikannya Madrasah Aliyah yang seluruhnya di bawah naungan Yayasan Bustanul Ulum. Sepeninggal Kiai Hasyim di 2016 lalu, kursi pengasuh ditempati Kiai Haji Taufik bin Hasyim Rofi’ie.

| farhan

Tinggalkan Balasan