Menu

Ponpes Darussalam Pamekasan, Terhimpit Kehidupan Modern

  Dibaca : 363 kali
Ponpes Darussalam Pamekasan, Terhimpit Kehidupan Modern
Acara haul pendiri Ponpes Darussalam, KHRP Sya'rani Cokrosudarso yang dihadiri Menpora Imam Nahrawi. (Foto/Istimewa)
Link Banner
Acara haul pendiri Ponpes Darussalam, KHRP Sya'rani Cokrosudarso yang dihadiri Menpora Imam Nahrawi. (Foto/Istimewa)

Acara haul pendiri Ponpes Darussalam, KHRP Sya’rani Cokrosudarso yang dihadiri Menpora Imam Nahrawi. (Foto/Istimewa)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Pondok Pesantren Darussalam di Jalan KH Hasan Shinhaji, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan merupakan ponpes tertua di kawasan kota. Ponpes ini didirikan oleh salah satu sesepuh NU Pamekasan, KHRP Sya’rani Cokrosudarso (Sja’rani Tjokrosoedarso). Huruf RP di depan nama Kiai Sya’rani menunjukkan yang bersangkutan masih berdarah biru. Ya, Kiai Raden Panji Sya’rani memang berasal dari keluarga ningrat di Pamekasan. Leluhurnya, Gung Seppo alias Raden Tumenggung Ario Cokroadiningrat ke-I, adalah adipati Pamekasan di paruh kedua 1700-an Masehi.

Cucu Gung Seppo, yaitu Raden Panji Adikoro menjadi Patih Sumenep di era Pangeran Pakunataningrat. Adikoro ini berputra salah satunya bernama Raden Panji Cokroatmojo alias Kiai Haji Ahmad Marzuqi, di Parteker, Pamekasan. RP Cokroatmojo merupakan ulama besar Pamekasan di masanya. Beliau dikisahkan satu perguruan dengan Syaikhona Kholil Bangkalan, dan sangat dekat dengan Syaikh Nawawi al-Bantani. ”Salah satu saudara perempuan Syaikh Nawawi diperisteri Kiai Ahmad Marzuqi Cokroatmojo. Namun dari isteri tersebut tidak dikaruniai keturunan,” kata KHRP Thariq Adikara, pengasuh Ponpes Darussalam saat ini, kepada Mata Madura.

RP Cokroatmojo mendirikan pesantren di Parteker, yang hingga kini sudah tinggal bekasnya. Santri-santri Cokroatmojo banyak yang menjadi ulama besar di Pamekasan, salah satu di antaranya ialah Kiai Jazuli, Tattango, Proppo.

Salah satu putra RP Cokroatmojo, RP Atmojo Adikoro juga dikenal sebagai salah satu tokoh ulama Pamekasan yang disegani. Atmojo Adikoro ini adalah ayahanda Kiai Sya’rani, Jungcancang.

***

KHRP Sya'rani Cokrosudarso, Pendiri Ponpes Darussalam. (Foto/Istimewa)

KHRP Sya’rani Cokrosudarso, Pendiri Ponpes Darussalam. (Foto/Istimewa)

Lokasi berdirinya Ponpes Darussalam tepat di dalam kota, yang terhimpit kehidupan modern di sekitarnya. Meski begitu, Ponpes Darussalam hingga saat ini masih terus bertahan. Ponpes tersebut menekankan religiusitas dengan mengutamakan kesalehan sosial.

Semasa hidupnya, pendiri ponpes, Kiai Sya’rani populer sebagai tokoh Anshor. Bahkan nama Sya’roni, tetap terkenal sampai saat ini. Di era 70-an, pondok Darussalam dikenal dengan pondok modern. Menurut tutur Kiai Thariq Adikara, Kiai Sya’rani sejak masih muda memang lekat dengan aksi heroik. ”Beliau selepas nyantri, di usia belasan tahun sudah aktif dalam ikut serta mempertahankan kemerdekaan,” kata Thariq, yang tak lain adalah putra Kiai Sya’rani.

Memasuki kawasan pesantren layaknya memasuki kota santri. Sore hari kala itu misalnya, para santri berduyun-duyun ke masjid Darusalam. Para santriwati mengenakan mukena dan santri memakai busana muslim. Bersiap menyambut panggilan ilahi di waktu Ashar.

Menjelang maghrib, para santri bersiap diba’an dan salawatan hingga masuk waktu shalat. Di pondok ini terdapat lembaga pendidikan muallimin dengan lama belajar enam tahun. Madrasah ini didirikan Kiai Sya’rani pada 1966. Lulus muallimin berarti telah menyelesaikan setingkat tsanawiyah dan aliyah dalam satu kali tempuh. Kemudian dari muallimin beralih menjadi MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah).

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Jungcangcang lahir dari madrasah muallimin Kiai Sya’rani. Madrasah ini diusulkan kepada pemerintah untuk dinegerikan, danberdasarkan SK Menteri Agama Nomor: 70 Tahun 1970 usul itu diterima dan berubah nama menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri Jungcangcang dengan lokasi sementara menempati gedung MI di lingkungan Pondok Pesantren Modern Darus Salam. Pada tahun 1984, Madrasah tersebut pindah lokasi, menempati gedung baru yang terdiri atas tiga ruang kelas, satu ruang kantor dan empat KM/WC, lokasi itu beralamat di Desa Lawangan Daya Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan berdekatan jarak (sekitar 250 meter) dengan PGAN yang kemudian alih fungsi menjadi MAN Pamekasan.

***

KHRP Thariq Sya'rani Cokrosudarso, Pengasuh Ponpes Darussalam. (Foto/Istimewa)

KHRP Thariq Sya’rani Cokrosudarso, Pengasuh Ponpes Darussalam. (Foto/Istimewa)

Saat ini, kaum santri Ponpes Darussalam terbagi dua. Yakni muqimin (menetap di pondok) dan colokan (santri yang berada di pondok pada jam pembelajaran).

Sebagian santri terdiri atas kaum perempuan di usia belajar setingkat SD – SMA. Mereka menempa ilmu agama mulai dari membaca Alquran, diba’an, tahlilan, belajar khitabah, dan salawatan.

Kiai Thariq mengatakan bahwa titik tekan pendidikan di pondoknya berpaut dengan penguatan agama. Ini diberlakukan lantaran generasi yang tinggal di perkotaan terancam secara aqidah dan akhlakul karimah. ”Karena jika tidak dikuatkan, kami khawatir mentalitas remaja kian rapuh dan mudah menerima budaya negatif,” katanya.

Tak hanya itu, Kiai Thariq juga mengatakan bahwa pondok pesantrennya menerapkan kesalehan sosial dan saling membantu. Alasannya, masa depan sosial penduduk perkotaan terancam. Zaman modern menurrutnya cenderung menghendaki rasa sosial agar kian tercerabut. Akibatnya, masyarakat perkotaan memilih hidup secara individualistis. Terutama masyarakat yang berada di kota besar. ”Kami sangat prihatin masa depan persaudaraan di perkotaan,” tuturnya.

Selain itu, Ponpes Darussalam menerapkan tradisi NU yang diwariskan pendahulunya. Dia menganggap doa sebagai sadaqah bagi orang lain yang memerlukan. Ayah tiga orang anak itu menerapkan rasa keberagamaan dan kesalehan sosial dalam tradisi NU. Di tradisi NU, kata Kiai Thariq, pendekatan kultural lebih diterima masyarakat.

Secara tak langsung, NU menerapkan tiga hal sekaligus. Yakni pemantapan berakidah, berakhlakul karimah, dan berbagi kasih dengan masyarakat. Misalnya, santri seringkali dilibatkan dalam acara yang berbaur dengan masyarakat. ”Kami sentuh santri dengan tidak membiarkan orang lain sengsara,” tutup Thariq.

| R B M Farhan Muzammily

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional