Ponpes Miftahul Qulub Pamekasan, Peduli Fakir Miskin dan Anak Yatim

TAMPAK HIJAU: Bangunan Masjid dan Ponpes Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan. (Foto Istimewa/Farhan)
TAMPAK HIJAU: Bangunan Masjid dan Ponpes Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan. (Foto Istimewa/Farhan)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Usia pondok pesantren ini sudah mencapai setengah abad lebih. Berdiri pada tahun 1960 M, dari tangan dingin seorang alim bernama Kiai Haji Fadholi Siraj. Jadi tepatnya, ponpes ini sudah berusia kurang lebih 57 tahun.

Kiai Haji Fadholi sejatinya bukan asli Desa Polagan, Kecamatan Galis, yakni lokasi berdirinya pesantren bernam Miftahul Qulub ini. Sang kiai berasal dari Desa Bettet. Beliau ialah putra Kiai Sirajuddin bin Nashiruddin.

Ketika bermukim di Desa Polagan, Kiai Fadholi tidak langsung membangun pesantren. Seperti halnya cikal-bakal pesantren pada umumnya, sang kiai mengamalkan ilmunya pada masyarakat sekitar. Mengisi pengajian atau tausiah keagamaan. Lalu beliau membangun sebuah masjid. Masjid tersebut lantas menjadi pusat beliau mengajar anak-anak setempat yang oleh orang tuanya dititipkan pada beliau untuk nyantri.

Nah, lambat laun masjid itu menyedot para generasi yang haus ilmu agama. Santri Kiai Fadholi semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Baik santri yang datang dari masyarakat setempat maupun dari luar kota Pamekasan. Tujuannya sama, untuk belajar agama dan membaca al-Qur’an.

Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari di pesantren, Kiai Fadholi dibantu oleh Drs. K. H. Moh. Salehoddin yang bertempat tinggal di sebelah utara lokasi pondok pesantren, kira-kira 100 meter ke arah utara. Drs Salehoddin inilah yang selalu mendampingi Kiai Fadholi. Sehingga ketika sang kiai wafat, beliau yang lantas membantu menjalankan roda ponpes. Karena putra Kiai Fadholi masih kecil-kecil dan masih berada dalam dunia pendidikan.

Di bawah Drs Salehoddin, pondok pesantren Miftahul Qulub semakin lama semakin terkenal dan semakin banyak pula santrinya.Untuk mengantisipasi lonjakan santri, diupayakan membuka sebuah madrasah diniyah yang didirikan pada tahun 1993. Madrasah tersebut diberi nama Madrasah Diniyah Miftahul Qulub. Pengelolaan pendidikan tersebut tetap ditangani oleh Drs Salehoddin.

 

Penerus

Alm R KH Fadhali Siraj, Pendiri Ponpes Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan. (Foto Istimewa/Farhan)
Alm R KH Fadhali Siraj, Pendiri Ponpes Miftahul Qulub Polagan, Galis, Pamekasan. (Foto Istimewa/Farhan)

Saat Kiai Fadholi Siraj berpulang ke rahmatullah, dan bersamaan dengan itu beliau punya menantu pertama, yaitu K. H. Syafiuddin, putra K. H. Abd. Wahid, Nangger Sempal, Kabupaten Sampang. Sang menantu merupakan alumni sebuah pesantren di Arab Saudi. Sejak saat itu, Kiai Syafiuddin untuk sementara ditunjuk sebagai pengasuh pondok pesantren. Beliau berduet dengan Drs Salehoddin.

Pada tahun 1991, K.H. Mukri Fadholi, salah satu anak lelaki Kiai Fadholi telah menamatkan studinya di beberapa pondok pesantren di Jawa timur. Nah saat itulah Kiai Syafiuddin selaku menantu Kiai Fadholi menyerahkan sepenuhnya pimpinan pondok pesantren dan juga pengolaan taman pendidikan Miftahul Qulub kepada Kiai Mukri. Namun, Kiai Mukri tetap didampingi oleh Drs Salehoddin.

Kiai Mukri Fadholi memulai upaya pembinaan dan pengembangan Taman Pendidikan Miftahul Qulub dan sekaligus meresmikan penamaan pondok pesantren dengan tetap mengambil nama Miftahul Qulub. Sebelumnya nama pesantren sudah dengan nama “Baqiatus Syabibah”, yang bermakna Taman Remaja.

Sejak masa Kiai Mukri mulai berdatanganlah para santri untuk belajar agama dari berbagai daerah. Sehingga kala itu mulai dibangunlah bilik-bilik untuk tempat menginap  para santri yang mukim. Atas usaha keras Kiai Mukri serta dukungan masyarakat, pada tanggal 10 Januari  1992 diresmikanlah berdirinya gedung pondok  pesantren sebanyak 20 lokal dengan luas 5m x 5m x 20 lokal.

Pada tahun 1996 Kiai Mukri mendirikan pondok pesantren baru di Blega, Kabupaten Bangkalan yang diberi nama ‘‘Sabilul Faizin”. Sejak saat itu kepemimpinan di Pondok Pesantren Miftahul Qulub diserahkan kepada K.H. Abdul Mannan Fadholi. Tahun 1996 itu merupakan akhir Kiai Abdul Mannan Fadholi dalam menamatkan pendidikannya. Jadilah tampuk pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Qulub dan pengelolaan taman pendidikan di tangan beliau. Namun sebagaimana kakaknya, beliau tetap didampingi oleh Drs Salehoddin.

***

Dilihat dari segi umur, pondok pesantren ini sebenarnya terbilang sangat muda. Namun minat masyarakat untuk belajar di sini cukup besar. Sehingga tidak heran dalam kurun waktu setengah abad, Pondok Pesantren ini telah mampu menampung lebih dari 500 orang santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya pulau Jawa dan kebanyakan mereka dari Jawa Timur.

Hal yang menjadikan pondok pesantren ini sebagai tumpuan orang tua untuk menyerahkan putra-putrinya untuk belajar adalah kepedulian ponpes terhadap nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. Mereka yang belajar di Pondok Pesantren ini pada umumnya memang dari keluarga tidak mampu. Para santri yang diterima sebagian besar dibebaskan dari segala pungutan dan sumbangan dana pendidikan, bahkan biaya sekolah ditanggung pesantren. Di samping belajar agama, para santri juga dilatih tampil bekerja dengan menekuni salah satu sektor keterampilan yang khusus disediakan bagi para santri. Hal ini dimaksudkan agar nantinya para santri biasa bekerja dan tidak menggantungkan nasibnya pada bantuan orang lain alias bisa mandiri. Adapun bentuk keterampilan yang diajarkan meliputi sektor pertanian, tata boga (memasak), perkoperasian, pengobatan tradisional, juga pijat refleksi.

| farhan (diolah dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan