Ponpes Nazhatut Thullab Sampang, Pesantren Tertua di Sampang

GAPURA: Pintu masuk Ponpes Nazhatut Thullab, Prajjan, Sampang. (Foto/Istimewa)
GAPURA: Pintu masuk Ponpes Nazhatut Thullab, Prajjan, Sampang. (Foto/Istimewa)

MataMaduraNews.comSAMPANG – Pondok Pesantren Nazhatut Thullab, di Prajjan, Sampang merupakan salah satu pesantren paling awal di Madura. Meski nama Nazhatut Thullab masih belum berusia satu abad, namun secara estafet, pesantren itu berakar pada abad ke 18. Pesantren tersebut tercatat berdiri sejak awal 1700-an Masehi. Tokoh awal pesantren itu ialah Kiai Abdul Allam, salah satu dari trio murid utama Kiai Aji Gunung, Sampang.

Dalam beberapa sumber lisan maupun tulisan, Kiai Abdul Allam dikenal sebagai pembabat bukit Prajjan. Beliau diceritakan bertapa di atas bukit sumber Prajjan. Dari sanalah lentera ilmu memancarkan cahayanya di bumi Kota Bahari.

Asal-usul Kiai Abdul Allam ada beberapa versi. Dalam catatan keluarga Bangkalan, disebutkan bahwa Kiai Abdul Allam adalah putra Nyai Selase, Petapan, Labang. Itu dikuatkan dengan catatan milik Bindara Muhsin, pemilik catatan Bani Batokolong di Bangkalan.

”Di sini tertulis putra-putri Nyai Selase dan Kiai Selase di antaranya Kiai Pandita, Kiai Abdul Azhim, dan Kiai Abdul Allam,” kata Muhsin via aplikasi WhatsApp kepada Mata Madura.

Namun Muhsin mengatakan pihak keluarga Bani Abdul Allam Prajjan menolak jika Kiai Abdul Allam disebut putra Kiai Selase. Menurut mereka, Kiai Abdul Allam lain ayah dengan putra-putri Nyai Selase lainnya. ”Mereka hanya terima data bahwa Kiai Abdul Allam beribukan Nyai Selase,” kata Muhsin, pekan kedua Oktober lalu.

Riwayat bahwa Kiai Abdul Allam berasal dari Bangkalan memiliki banyak sumber kuna. Riwayat lisan dari Konang, Bangkalan misalnya. ”Dalam riwayat sesepuh di Konang, Kiai Abdul Allam pernah aduko (bermukim) di Omben, sebelum membabat bukit Prajjan,” kata Bindara Sudi, di Bangkalan, beberapa waktu lalu.

Sementara dalam catatan Prajjan, Kiai Abdul Allam adalah putra Kiai Pangrato Bumi. Catatan tersebut mirip dengan catatan di Sumenep yang disusun Isma’il Jamal dan Kiai Haji Usymuni Tarate. Pangrato Bumi bernama lain Syaikh Abdul Allam dan Bagus Papatu. Di catatan tulisan Kiai Haji Abunawas Bakri, Sumenep, disebut Bagus Palatuk. Bagus Palatuk ditulis putra Pangeran Waringin Pitu, anak Nyai Ageng Sawo binti Sunan Giri.

Kiai Abdul Allam disebut memiliki beberapa anak. Catatan Prajjan menyebut tiga anak. Yaitu Kiai Abdul Kamal, Langgar Genteng, yang meneruskan estafet pesantren Kiai Abdul Allam. Pesantren itu kini bernama Nazhatut Thullab, Prajjan. Putra kedua  bernama Nyai Sayyidah, Jaranguan. Dan putra ketiga ialah Nyai Syaibah, Langgar Tana, Prajjan.

Dalam manuskrip (layang) Toronan, Pamekasan, Kiai Abdul Allam menikah dengan putri Nyai Aminah binti Sunan Cendana, Kwanyar. Artinya, Kiai Abdul Allam menikah dengan bibi sepupu dari ibunya. ”Nyai Selase ‘kan putri Nyai Kumala binti Sunan Cendana,” kata Bindara Ilzam, yang menyimpan manuskrip tersebut, beberapa waktu lalu.

***

Prasasti STAI NATA Prajjan Sampang. (Foto/Istimewa)
Prasasti STAI NATA Prajjan Sampang. (Foto/Istimewa)

Dalam kisah Babat Tanah Prajjan, mulai tahun 1702 M hingga sekarang, pesantren tersebut telah berjalan hingga sepuluh generasi. Dimulai dari Kiai Abdul Allam, Kiai Abdul Kamal bin Abdul ‘Allam, Kiai Masajid bin Abdul Kamal, Kiai Su’aidi bin Masajid, Kiai Sufyanah bin Su’aidi, Kiai Alimuddin bin Sufyanah, KH Syabrawi bin Alimuddin, KH Muhammad Zaini bin Syabrawi, KH Ahmad Mu’afi Alif Zaini bin Muhammad Zaini, dan Kiai Muhammad bin Ahmad Mu’afi Alif Zaini (saat ini).

Adapun nama Pondok Pesantren Nazhatut Thullab bermula pada generasi ke-7, yaitu sekitar tahun 1932 M, yang diprakarsai oleh “Catur Tunggal” Nazhatut Thullab, yaitu KH Syabrawi bin Kiai Alimuddin, Kiai Bahri bin KH Syabrawi, KH Muhammad Zaini bin KH Syabrawi, dan KH Fatah Yasin (Mantan Menteri Alim Ulama di tahun 1965).

Nama Nazhatut Thullab berasal dari bahasa Arab yang berarti Nazhatu artinya kebun atau taman dan at-Thullab yang bermakna pelajar atau siswa. Sehingga jika dirangkai, maka Pondok Pesantren Nazhatut Thullab adalah Taman Siswa. Penamaan itu mungkin saja ada kaitannya dengan istilah Taman Siswo yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa.

Sejak itu Nazhatut Thullab mulai menata diri. Bahkan, sejak masa itu, ponpes tersebut menjadi pioner sistem pendidikan klasik, yang selanjutnya telah melahirkan berbagai lembaga pendidikan dengan sistem yang sama pada masanya.

Mulai dari periode ke-9 , Ponpes Nazhatut Thullab mengembangkan diri dengan mendirikan beberapa unit lembaga pendidikan formal yang berinduk kepada beberapa Departemen. Yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Departemen Agama dan Departemen Kesehatan.

Lembaga yang didirikan meliputi  Madrasah Diniyah (didirikan sejak tahun 1702 M), MTs NATA (didirikan pada tahun 1969), SMP NATA (didirikan pada tahun 1995), MA Keagamaan NATA (didirikan pada tahun 2001), SMA NATA (didirikan pada tahun 1988), SMK NATA (didirikan pada tahun 2003), dan STITNAT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nazhatut Thullab).

STITNAT didirikan pada tahun 1988, dan pada tahun 2010 alih status menjadi STAI NATA dengan masuknya program studi baru yaitu al-Ahwal al-Syahsyiyah (hukum perdata) dan ekonomi syari’ah. Tak hanya itu, Ponpes Nazhatut Thullab juga mendirikan AKPER NATA Sampang pada tahun 2002.

Di samping membekali santrinya dengan pendidikan agama dan umum, Ponpes Nazhatut Thullab juga membekali berbagai keterampilan guna mencapai tujuan Pendidikan Berbasis Komperhensif (PBK) dan Pendidikan Berbasis Kultural (PBKu). Seperti bordir, jahit, tata boga, tata rias, kaligrafi, seni hadrah, PMR dan lain-lain yang cukup mendukung dengan pola pendidikan tersebut.

| R B M Farhan Muzammily

Tinggalkan Balasan