Ponpes Nurul Ulum Sampang; Cetak Sedikit Santri dengan Banyak Manfaat bagi Umat

Ikhlas adalah salah satu kata kunci dalam sebuah wujud perhambaan diri kepada Allah SWT. Jika itu benar-benar mampu diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, maka insya Allah rahmat dan barokah pun akan mengalir dengan sendirinya. Kurang lebih itulah ungkapan indah yang Mata Madura ingat ketika menyambangi Pondok Pesantren Nurul Ulum, Banyuanyar, Sampang.

CIKAL BAKAL: Mushalla pertama kali yang dijadikan tempat mengajar oleh pendiri Ponpes Nurul Ulum, Banyuanyar, Sampang, KH. Madani. (Foto Azis Mata Madura)
CIKAL BAKAL: Mushalla pertama kali yang dijadikan tempat mengajar oleh pendiri Ponpes Nurul Ulum, Banyuanyar, Sampang, KH. Madani. (Foto Azis Mata Madura)

MataMaduraNews.comSAMPANG – Berada di jalan yang sangat strategis penghubung Sampang-Pamekasan, tepatnya di Jalan Agus Salim No. 3 Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Pondok Pesantren Darul Ulum konon sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Suasana nampak ramai pagi itu ketika Mata Madura menyambangi pondok pesantren yang nampak asri karena banyak pepohonan yang tumbuh di tengah halaman. Terlihat banyak calon santri diantarkan oleh keluarganya untuk mendaftar mondok.

Ditemui di tengah kesibukannya, Kiai Haji Su’adi selaku Ketua Yayasan sekaligus putra dari sang pengasuh pondok pesantren, menuturkan bahwasanya ponpes tersebut telah ada sejak 1940-an. Sebelum menjadi pondok, diceritakan Kiai Haji Madani sang pendiri pertama kali ‘morok’ di sebuah langgar kecil miliknya yang sekarang sudah menjadi mushalla besar.

”Langgar kecil itu menjadi cikal-bakal berdirinya pondok pesantren ini,” terang Kiai Haji Su’adi, pekan kedua Juli lalu.

Sepeninggal Kiai Madani pada tahun 1942, pondok pesantren yang merupakan salah satu pondok tertua di kawasan Sampang kota itu dipimpin oleh menantu beliau yakni Kiai Haji Zayyadi sampai tahun 1994. Sekarang ponpes diasuh oleh Kiai Haji Mas’ud sebagai generasi ketiga sekaligus ayahanda dari Kiai Su’adi.

Sebagaimana dikatakan Kiai Su’adi, sesuai namanya, Nurul Ulum yang bermakna cahaya ilmu, diharapkan benar-benar menjadi representasi terhadap ilmu yang diperoleh agar benar-benar menjadi cahaya bagi kehidupan para santri kelak.

Sama seperti pondok pesantren pada umumnya, kegiatan pondok pesantren tersebut dimulai sekitar jam 3 dini hari, dengan melaksanakan kegiatan shalat tahajjud dan dzikir bersama sampai waktu subuh tiba. Selain itu, ada program prioritas di pondok pesantren itu, seperti program Tahfidz, bahasa Arab, dan Ilmu Nahwu. Dan juga setiap santri yang masuk diwajibkan hafal juz 30 atau yang lebih dikenal dengan JuzAmma.

Pondok Pesantren Nurul Ulum juga menyediakan sekolah formal bagi setiap santrinya yaitu tingkat madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah, juga madrasah diniyah di waktu sore harinya. Program ekstrakulikulernyapun beragam, yakni pencak silat, hadrah, al-banjari, mesin jahit, seni tilawah, komputer dan memasak. Hal tersebut dilakukan agar menunjang kemampuan santri selain belajar tentang ilmu agama.

Ahmad Yasin (19), yang sudah 4 tahun mondok di pesantren itu mengaku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari pondok pesantren Nurul Ulum. Santri yang kini duduk di kelas dua Madrasah Aliyah tersebut merasa mendapatkan banyak hal semisal pribadinya yang semakin hari semakin lebih baik. Apalagi sekarang, Yasin, panggilannya, yang sudah hafal 15 juz Alquran.

”Alhamdulillah banyak perubahan yang lebih baik saya rasakan,” akunya.

Tak jauh beda dengan Ahmad Yasin, Mata Madura juga bertemu dengan Ro’isul Akbar yang merupakan salah satu ustadz sekaligus alumni pondok pesantren yang juga bersyukur sudah menjadi bagian keluarga besar pesantren. Pria yang sudah 9 tahun mengabdi itu juga mengaku betah dan ingin terus menjadi bagian perjuangan dari pondok pesantren tersebut.

”Ini merupakan inisiatif sendiri untuk masih dan terus berada di pondok pesantren ini. Cuma berharap barakah dalam hidup ini,” ucapnya.

Selain itu, pria yang juga menjabat sebagai bendahara pondok pesantren tersebut mengungkapkan hal yang menarik kepada Mata Madura. Ustadz Ro’is, panggilan akrabnya, menceritakan fenomena aneh di pondok pesantren Nurul Ulum, yaitu terkait jumlah santri yang masuk.

Selama pengamatannya semenjak nyantri sampai sekarang menjadi ustadz, jumlah santri yang masuk setiap tahunnya konstan, yakni tidak lebih dari seratus dan tidak kurang dari sepuluh. Hal tersebut mengingatkan ustadz tersebut terhadap dabuna salah satu kiai sepuh terdahulu yang mengatakan tidak perlu santri banyak, sedikit tapi patuh dan benar-benar mau belajar sekaligus bisa bermanfaat.

”Saya teringat ucapan kiai pengasuh dulu bahwasannya beliau mengatakan tidak perlu santri yang banyak, sedikit tapi patuh dan bisa benar-benar bermanfaat,” imbuhnya.

GAPURA: Pintu gerbang menuju komplek Ponpes Nurul Ulum, Banyuanyar, Sampang. (Foto Azis Mata Madura)
GAPURA: Pintu gerbang menuju komplek Ponpes Nurul Ulum, Banyuanyar, Sampang. (Foto Azis Mata Madura)

Kembali pada perjumpaan kami dengan Kiai Su’adi, ada kalimat yang membuat suasana pada waktu itu terasa semakin tenang di hati. Menurutnya, ikhlas adalah kunci dalam beramal. Segala sesuatu harus didasari dengan keikhlasan, karena di balik keikhlasan ada keberkahan. ”Sebaliknya jika segala sesuatu itu tidak didasari dengan ikhlas apalagi motifnya uang, maka keberkahan yang didapat pun akan berkurang bahkan justru tidak ada. Termasuk perjuangan akan berdirinya pondok pesantren ini, jika setiap langkah tidak didasari dengan rasa ihklas, maka semuanya akan terasa berat. Tidak lain ini semua dilakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT,” jelasnya.

Selain rasa ikhlas tersebut, ada karakter lain yang pondok pesantren Nurul Ulum ingin tanamkan kepada diri santri-santrinya, yakni mandiri. Sikap mandiri dirasa sangat penting ditanamkan agar para santri siap menghadapi kerasnya kehidupan. Dimulai dengan hal-hal kecil, misalnya para santri diajarkan agar melakukan kegiatannya sendiri seperti memasak, cuci baju, dan segala hal kebutuhannya.

Fenomena sekarang dengan majunya teknologi terutama media sosial yang semakin hari sulit terkontrol, menurut Kiai Su’adi kadang membuat anak muda justru lebih mendengarkan nasihat-nasihat dari medsos daripada nasihat orang terdekat, semisal orang tua. Yang lebih miris lagi adalah minat belajar yang semakin berkurang, termasuk para santrinya juga.

Terkait dengan pembangunan pondok pesantren ke depan, Kiai Su’adi tidak menampik adanya kendala dana yang terbatas. Namun menurutnya, itu bukan kendala utama. Baginya, yang terpenting adalah ikhlas dan berusaha dengan tekad yang kuat. “In sya Allah ada jalan untuk merealisasikan ke depan agar lebih baik,” katanya, optimis.

Terakhir beliau menyampaikan harapannya agar para santri bisa takwa dan bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu yang didapat bisa diimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

”Ilmu terasa manfaatnya jika benar-benar dilaksanakan, dan saya harap para santri bisa melakukannya dan masyarakat merasakan manfaat,” harapnya singkat.

| azis/farhan

Tinggalkan Balasan