Menu

Ramadhan; Euforia Buka Bersama dan Tradisi Media

  Dibaca : 181 kali
Ramadhan; Euforia Buka Bersama dan Tradisi Media
Ainyyaturrahmah. (Foto for Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Ainyyaturrahmah*

Semua orang berencana. Sebelum Ramadhan orang-orang merencanakan agenda untuk menyambut dan meramaikan bulan Ramadhan. Memasuki Ramadhan pun orang-orang masih sibuk berencana agenda atau acara “spesial Ramadhan”. Tampaknya, mereka tak rela bila harus ketinggalan dan tak memanfaatkan momen-momen Ramadhan yang dijumpai setahun sekali. Duh, Ramadhan tiba-tiba menjadi bulan penuh rencana.

Sikap demikian sebenarnyalah wajar. Sebab, kita memang mendapati Ramadhan dengan berbagai momen tak terlewatkan setiap tahunnya. Mulai dari sahur, berbuka bersama, acara TV dan iklan spesial Ramadhan, acara radio, hingga ngabuburit. Ramadhan memang tak sekadar menjadi momen meningkatkan ibadah, berlomba dalam kebaikan dan perbanyak pahala. Lebih dari itu, Ramadhan juga menjadi momentum mengisi kantong dan kesempatan berkumpul dengan kawan, pun keluarga.

 

Buka Bersama

Momen Ramadhan pertama yang tak bakal terlewatkan setiap tahunnya adalah buka bersama. Bukber, demikian popular di bibir kita, mungkin menjadi tradisi yang paling ditunggu saat Ramadhan. Buka bersama menjadi momen melepas rindu, bercerita dan bersenda gurau. Dengannya, Ramadhan pun menjadi momen pertemuan dan berkumpul setelah sekian lama tak bertemu dan terpisah karena urusan pendidikan maupun pekerjaan. Di bulan penuh berkah ini, banyak orang berharap rindu bakal benar-benar terobati dengan acara buka bersama.

Soal rencana tadi, juga terkait tradisi bukber ini, saya pernah membaca di salah satu grup WhatsApp teman-temanalumni2014 Jurusan Agama MAN Sumenep belum lama ini. Penghuni grup pada sibuk merencanakan buka bersama yang menjadi tradisi sekali setiap tahun saat Ramadhan. Rencana sudah diobrolkan sebelum hingga masuk Ramadhan. Tradisi buka bersama tak boleh terlewatkan beralasan ingin melepas rindu. Mereka sibuk berencana tempat, waktu, makanan, dan harga. Sayang, obrolan itu hingga kini masih saja tanpa kejelasan.

Terlepas dari soal bukber yang menggantung di grup itu, kita memang tak pernah lupa untuk  mengajak teman ataupun kerabat berbuka puasa bersama sebagai tradisi yang seakan wajib di bulan Ramadhan. Kita juga tak lupa untuk mencari tempat mewah, elite atau memilih tempat leseh sebagai tempat berbuka. Tentu saja, berencana menu makanan dan minuman yang dipilih untuk membatalkan puasa menjadi pokok perbincangan yang juga utama. Berdoalah, semoga uang cukup untuk membayarnya. Meski uang mungkin tak bakal jadi halangan untuk kebersamaan. Entah euforia.

Alasan rindu, momen setahun sekali, dan tetek bengek lainnya membuat banyak orang menggelar buka bersama dengan kawan di mana-mana. Hal ini bahkan mungkin membuat kita justru lebih memilih buka bersama dengan teman-teman daripada bersama keluarga. Meski harus mengeluarkan sedikit atau bisa jadi banyak lembar berangka, rindu bersama teman-teman mungkin telah mengalahkan keinginan berbuka dengan keluarga tercinta. Mungkin. Demi kebersamaan, melepas rindu, atau sekadar hura-hura.

 

Tradisi Media

Kita mengingat banyak tradisi Ramadhan yang bisa dijumpai sebagaimana disebutkan di awal. Selain buka bersama, tradisi yang juga tak bakal terlewatkan saat Ramadhan yaitu acara-acara spesial Ramadhan yang tersaji di media seperti televisi. Sama dengan kita, stasiun televisi juga tak mau kalah ketinggalan meramaikan momentum Ramadhan. Acara-acara seperti ceramah, perlombaan, sinetron hingga iklan spesial Ramadhan marak dijumpai di berbagai stasiun televisi. Sepanjang bulan ini, televisi bakal memanjakan mata kita dengan berbagai acara Ramadhannya.

Coba hidupkan TV saat sahur dan lihatlah, maka kita akan diajak ngakak bersama para komedian yang berlagak lucu misalnya di acara sahur, seperti Sahurnya Pesbuker (ANTV) dan Sahur Segerr (Trans 7). Meski kadang saya dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah aktris yang menurut saya berlebihan dengan alasan hiburan. Tetapi, begitulah salah satu cara stasiun televisi meramaikan Ramadhan. Tak hanya itu, kita bisa memilih merenungi dosa-dosa dan memetik ilmu di acara ceramah yang juga menjadi proram spesial Ramadhan sejumlah stasiun televisi di berbagai waktu. Kemudian menjelang berbuka puasa dan seterusnya kita bakal banyak disuguhi acara-acara televisi spesial Ramadhan pula. Entah sinetron, talkshow, dan lainnya. Yang bila dirasakan lebih dalam, tak lebih dari sekadar euforia belaka daripada ibadah.

Beristirahat sejenak di antara acara yang terpilih, kita bakal dipertemukan dengan iklan-iklan Ramadhan. Iklan-iklan sengaja dikemas baru, tak seperti yang biasa terlihat sebelum Ramadhan. Iklan-iklan tersebut banyak menggambarkan suasana buka puasa dan sahur. Iklan-iklan seperti makanan, minuman, obat, sabun piring, pengharum mulut, pengharum baju hingga make up pun dikemas baru. Ada yang menarik, dengan iklan-iklan spesial Ramadhan. Iklan-iklan itu pasti diakhiri dengan ucapan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”. Wah, iklan-iklan pun jadi mendadak perhatian.

Kita bisa lihat bagaimana iklan-iklan dikemas semenarik mungkin agar menggoda. Iklan-iklan makanan dan minuman menggoda untuk dibeli dan dijadikan menu sahur ataupun berbuka puasa. Iklan-iklan sabun piring seperti Sunlight tergambarkan membuat waktu tak sia-sia, sehingga bakal banyak waktu untuk berbagi di bulan Ramadhan. Selanjutnya, iklan make up lipstik Wardah bakal membuat senyummu indah. Tentu saja, iklan-iklan produk lain tak kalah menggoda.

Saya kadang dibuat heran, bagaimana produsen begitu apik membuat iklan yang menurut saya kurang “nyambung”. Iklan lipstik Wardah mengajak untuk tebarkan senyuman kebaikan di bulan Ramadhan dengan warna lipstik. Iklan menjadi adegan menebar senyum indah “karena di balik senyuman selalu ada kebaikan”. Padahal, senyum kebaikan tak menuntut berlipstik. Hanya perlu senyum tulus nan ikhlas dari hati yang paling dalam. Senyum yang sesungguhnya benar-benar bisa menjadi sebuah ibadah, tanpa polesan dan euforia penampilan.

***

Tradisi Ramadhan mulai dari buka bersama hingga acara-acara spesial Ramadhan itu bakal menjadi kerinduan saat Ramadhan sudah meninggalkan kita. Bagi segelintir orang, mungkin kebersamaan dengan teman-teman saat buka bersama menjadi salah satu yang dirindukan. Atau kita bakal merindukan acara-acara TV yang memanjakan mata kita dari sahur hingga menjelang berbuka puasa. Ramadhan memang menjadi bulan ibadah, berkumpul, dan mengisi kantong pula.

Tapi percayalah, kita bakal lebih merindukan suasana rumah saat berbuka puasa bersama keluarga daripada sering menghabiskan waktu berbuka dengan teman-teman. Di meja makan, duduk bersama dengan keluarga sambil menunggu adzan berkumandang. Kemudian saat adzan terdengar, kita menyantap hidangan bersama dengan diselingi gelak tawa keluarga. Duh, menyenangkan bukan. Itu bakal menjaga keharmonisan dalam keluarga.

Maka bila untuk rencana-rencana buka bersama kita yang berjubel selama Ramadhan justru tak ada yang lebih dari sekadar berkumpul ngalor ngidul tanpa ada esensinya. Sebaiknyalah dipilih-pilih bukber manakah yang harus diadakan, dihadiri atau tidak, sehingga lebih sering punya kesempatan berbuka bersama keluarga. Bukan antibukber dengan teman, bukan tak ingin melepas rindu setahun sekali bersama kawan. Hanya bukankah tak baik di bulan penuh berkah ini jika harus terjebak dalam euforia buka bersama lainnya, namun meninggalkan keluarga? Tapi jika hadir bersama keluarga, dalam undangan bukber resmi pula, tentu beda lagi ceritanya. Apalagi diniatkan menyenangkan pengundang dan atau teman, mengisi kebersamaan bukber dengan agenda berpahala pula, insyaAllah tak percuma.

Bukan hanya buka bersama, tradisi media di atas juga layak jadi bahan perenungan yang sama. Bahwa demi hanya tak ketinggalan momentum, justru banyak hal yang dilakukan televise sekadar rutinitas dan euforia semata yang jelas menjebak kita. Memang lebih baik, Ramadhan ini berisi acara-acara spesial yang mengarah atau bertema puasa sampai yang religius seperti ceramah. Tetapi sebagaimana bukber yang perlu dipilah pilih, begitu pula jika rutinitas menonton televisi tak bisa ditinggalkan begitu saja. Artinya, demi menyaksikan acara spesial Ramadhan, ceramah sekalipun, jangan sampai meninggalkan kesempatan memperbanyak ibadah seperti mengaji dan lainnya. Sebab harus kita sadari, di antara program spesial Ramadhan yang berjibun itu, bukan programnya yang jadi sajian utama. Tapi iklanlah yang nyata pendapatannya.

Mari berencana agar buka bersama kita bukan sekadar berkumpul semata. Dan mari berusaha, agar di bulan penuh berkah ini tak terjebak dengan tradisi media. Semoga!

* Mahasiswi semester akhir Prodi MPI di STIT Al Karimiyyah Beraji, Gapura. Senang menulis sejak kuliah dan aktif di LPM Dialektika.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner
Link Banner Link Banner

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional