Saat Bahagia Bagi Indah Triana Febriani

Ada banyak cara orang untuk bekerja sekaligus merasakan kesenangan di dalamanya. Dan bagi Indah Triana Febriani, bahagia adalah ketika bisa bermanfaat kepada sesama.

Indah Triana Febriani, Pekerja Sosial Kementerian Sosial RI di Bangkalan. (Foto Indah for Mata Madura)
Indah Triana Febriani, Pekerja Sosial Kementerian Sosial RI di Bangkalan.
(Foto Indah for Mata Madura)

MataMaduraNews.comBANGKALAN – Mendaftar sebagai pekerja sosial perlindungan anak di bawah naungan Kementerian Sosial RI, Indah Triana Febriani lolos tes dan diterima tanpa disangka-sangka. Padahal, ia hanya coba-coba setelah mendapat share info lowongan kerja dari temannya.

”Karena saya menganggur dan belum memiliki pekerjaan tetap, maka saya mencoba untuk mendaftar. Alhamdulilah keterima,” tutur dara cantik tersebut penuh syukur, akhir Juni lalu.

Indah-panggilannya, mulai bertugas tepat pada awal 2016 lalu. Pertama menyandang status pekerja sosial, ia menyatakan tidak tahu tugasnya seperti apa dan bagaimana. Tapi setelah dibimbing oleh para senior di tempatnya bekerja, Indah pun mulai sedikit memahami dan menikmati. Bahkan, ”Lama kelamaan saya mulai jatuh cinta dengan pekerjaan saya,” tuturnya sambil tersenyum.

Tugasnya sebagai pekerja sosial perlindungan anak memang tidak mudah. Indah harus mendampingi anak-anak yang menjadi korban kekerasan, baik kekerasan fisik maupun seksual, mulai dari proses pelaporan, proses BAP sampai ke persidangan. ”Bahkan juga sampai anak tersebut benar-benar pulih dan bisa diterima di lingkungannya,” kata perempuan berkacamata tersebut, menambahkan.

Selama dua tahun terakhir, terdapat 23 kasus berhubungan dengan anak yang sudah berhasil Indah dampingi. Hal tersulit selama proses pendampingan menurutnya adalah saat melakukan pendekatan terhadap korban. Sebab, biasanya korban mengalami trauma dan takut terhadap orang yang belum dikenal, sehingga tidak mau diajak bicara. ”Nah, untuk hal yang seperti ini kita memang butuh ekstra sabar dan kreatif agar bisa membujuk si korban tersebut,” ujarnya dengan nada agak gereget.

Lain lagi jika yang didampingi adalah kasus kekerasan seksual. Tidak jarang, Indah mendapat ancaman dari pihak yang merasa dirugikan. Namun, perempuan yang masih single itu tidak mau menganggap beberapa kesulitan di atas sebagai penghalang. ”Justru itu merupakan tantangan untuk saya yang memilih menjadi seorang pekerja sosial,” katanya, menegaskan.

Setiap kejadian dianggapnya pula sebagai pengalaman yang berharga. Pernah suatu ketika, ia menemukan anak yang putus sekolah dan tidak mau berinteraksi dengan orang sekitar. Setelah dilakukan beberapa kali pendampingan secara rutin, akhirnya anak tersebut bisa kembali normal dan kembali sekolah seperti anak pada umumnya. ”Nah, di situ saya merasakan bahagia yang tak terkira dan selalu saya ingat sampai sekarang,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca merasa bahagia. ”Karena bahagia adalah ketika saya bisa bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya penuh keyakinan.

Bayaran untuk seorang pekerja sosial perlindungan anak seperti Indah memang sudah lumayan dan sudah mencukupi kebutuhan diri maupun untuk membantu keluarganya. Namun bagi Indah, gaji bukanlah yang utama. ”Karena yang terpenting adalah saya masih bisa melindungi hak-hak anak,” tegasnya dengan sangat mantap.

| hasin/rafiqi

Tinggalkan Balasan