Menu

Sang Wali Putra Wali; Kangjeng Sunan Putromenggolo, Petapan

  Dibaca : 791 kali
Sang Wali Putra Wali; Kangjeng Sunan Putromenggolo, Petapan
Pasarean Kangjeng Sunan Putromenggolo di Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/Rusydiyono, Mata Sumenep)
Link Banner

Di kawasan Madura Barat, Sunan Putromenggolo merupakan legenda yang tak pernah kering di benak setiap lapisan masyarakat. Laksana sumber mata air Petapan yang tak terpengaruh musim. Terus memancar, mengairi dan membasahi tiap-tiap dahaga dari masa ke masa.

MataMaduraNews.Com-BANGKALAN-Gerimis yang semakin menderas sempat mengiringi perjalanan kru Mata Madura menuju area Pasarean Sang Wali Agung di bumi Petapan ini. Sempat nyasar sekira 1 hingga 1,5 kilometer ke arah Timur menambah sedikit suasana cemas, karena sepanjang mata memandang hanya berupa hamparan sawah di kedua sisi jalan.

“Masih terus ke Timur, pak,” kata seorang kakek di tengah guyuran hujan sedang, melalui separuh kaca mobil yang terbuka.

Tak percaya. Buntut dari insting yang disokong oleh petunjuk awal di jalan utama menuju jembatan Suramadu sebelumnya. Jelas di papan tulisan tertera kata-kata: lebih kurang 500 meter; dengan tanda panah ke arah timur untuk menuju lokasi pasarean. Akhirnya kru memutuskan kembali memutar kemudi ke arah Barat dengan tanpa mengindahkan petunjuk si kakek.

Benar saja. Tempat yang dituju telah dilewati. Rupanya si kakek tadi salah tanggap, mungkin disangkanya kru bertanya tentang pasarean Sunan Cendana. Ditambah situasi cuaca yang tak mendukung memang agak mengganggu pendengaran si kakek. Apalagi jalan tersebut jika terus ditarik ke timur akan sampai di kecamatan Kwanyar. Tempat yang sejatinya memiliki benang merah dengan tujuan kru; karena pasarean yang hendak didatangi bercikal-bakal pada asta Kwanyar.


Tuuut… Bunyi nada sambung yang diharapkan muncul juga, setelah sebelumnya tidak bisa connect akibat signal lemah. Kemudian terdengar suara salam di seberang sana. Setelah membalas salam, terjadi perbincangan hangat antara Mata Madura dengan pemilik suara dari dalam ponsel. Pemilik suara di seberang sana itu bernama Bindara Yahya atau Lora Yahya. Ia merupakan warga asli desa Petapan, kecamatan Labang, kabupaten Bangkalan.

Sayang, Bindara Yahya saat itu sedang ada di Pamekasan. Kebetulan ia memang menikah dengan orang Pamekasan. Sewaktu-waktu saja ia di Petapan. Padahal ia yang kami harap bisa menyertai napak tilas edisi kali ini. Karena disamping warga setempat yang tahu dan hafal seluk-beluk kisah sang Wali, ia juga masih memiliki garis silsilah hingga sang tokoh.

Namun hal itu tak lantas memudarkan keinginan untuk menelusuri jejak sang Wali. Melalui sambungan ponsel, sedikit demi sedikit info tergali. Bindara Yahya lantas menceritakan sekelumit kisah, sekaligus memberi beberapa petunjuk sebelum ziaroh ke pasarean Kangjeng Sunan Putromenggolo. Salah satunya agar kami menyempatkan mandi atau sekadar ambil wudlu di sumber alias mata air keramat Petapan.

“Jangan lupa, membawa airnya, Gus. Simpan dalam botol. Untuk didahar. Sebaiknya ngambilnya di hulu, lebih jernih karena langsung di pusat sumber. Kalau tidak sambil mandi tidak bisa ke hulu. Jadi bisa minta tolong pada warga atau anak-anak yang tengah mandi,” pesannya.

Sesampainya di sumber mata air Petapan, bertepatan dengan dimulainya shalat Ashar. Sehingga area sumber yang dibagi menjadi dua—satu digunakan laki-laki dan satunya lagi khusus perempuan—itu sudah sepi. Warga banyak yang shalat berjamaah. Karena di dekat lokasi sumber didirikan masjid.

Setelah memarkir mobil, kru mencoba mencari info lebih lanjut. Kebetulan ada sebuah toko dekat situ. Kru kemudian juga membeli empat botol kosong untuk masing-masing anggota. Pemilik toko yang ramah lalu menyuruh seorang anak lelaki yang masih kerabatnya untuk mengisi botol-botol kami dengan air sumber.

Dengan sigap si anak meraih keempat botol kosong itu. Lantas dengan diiringi kru, ia dan dua orang temannya yang sebaya masuk ke lokasi sumber khusus laki-laki. Kebetulan di situlah pusat sumber berada. Si anak lalu mencopot bajunya, dan byuuur…, dengan lincah ia berenang serta mengisi keempat botol sampai penuh.

“Berapa ongkosnya, nak?,” tanya kami.

Ia menggeleng. Tanda tak mau dibayar.

Lho, jangan. Bilang saja berapa?,” desak kami.

“Tidak usah, pak,” katanya. Singkat, sambil berlalu. Kru pun saling pandang.

Usut punya usut ternyata memang ada larangan menjual air sumber keramat. Larangan itu sejak dulu kala. Tak jelas sejak kapan dan siapa yang pertama melarang.

Setelah ambil wudlu, kru Mata Madura menuju pasarean Sang Wali. Lokasinya di sebelah utara mata air Petapan. Dataran tinggi. Semacam bukit kecil. Ditempuh dengan berjalan kaki.

SANG WALI PUTRA WALI

Sunan Putromenggolo merupakan putra sareyang (sulung) Kangjeng Sunan Cendana, Kwanyar, Bangkalan. Dalam catatan kuna trah Cendana, dari tiga isteri, Sunan Cendana atau Sayyid Zainal Abidin alias Pangeran Purnojoyo (Sejarahwan Zainalfattah menulis Pangeran Purnojiwo dalam bukunya) disebut memiliki enam atau tujuh putra-putri. Putra pertamanya ialah Sunan Putromenggolo atau ditulis juga Kiai Putromenggolo. Nama dagingnya Ya’qub. Putra kedua, Kiai Jasad. Lalu Nyai Sholeh, Nyai Nur di Petapan, Nyai Kumala di Tanjung, dan Nyai Aminah di Lembung. Di catatan Sumenep masyhur nama Kiai Syits bin Sunan Cendana, namun di catatan lain disebut sebagai cucu Kiai Jasad. Pendapat lain mengatakan jika Kiai Syits adalah nama lain Kiai Jasad.

Sunan Putromenggolo banyak menurunkan para ulama dan bangsawan di Madura. Di catatan lain, Sunan Putromenggolo ditulis dengan nama Kiai Adipati Putromenggolo. Beliau juga disebut memiliki gelar Panembahan Sampang dan juga Ratu Lor Petapan. Kedua sebutan itu bersumber pada catatan Sumenep dan Pamekasan.

Gelar panembahan dan ratu merupakan gelar penguasa di jaman lampau. Sementara Sampang menandakan tempat kekuasaannya. Di jaman Madura kuna, yang dikenal awal adalah Sumenep, Sampang, dan Pamelingan (Pamekasan). Hingga kemudian Islam masuk, Sampang terbagi dalam beberapa daerah Mardikan dengan beberapa penguasa kecil. Sementara di bagian paling barat penguasanya berkedudukan di Arosbaya. Istilah Bangkalan belum dikenal, Madura Barat merujuk pada Sampang. Sehingga dulu Petapan merupakan bagian dari Sampang.

Pemerintahan di abad 17 juga berpusat di Sampang, mengacu pada pelantikan Raden Prasena sebagai Cakraningrat I di tahun 1624. Istilah Bangkalan baru ada di kurun 1700-an, yaitu di masa Cakraadiningrat V atau Sido Mukti, pasca peristiwa Ke’ Lessap.

Kekuasaan Panembahan Sampang yang dalam hal ini Sunan Putromenggolo sebatas daerah merdeka (mardikan). Disebabkan pengaruh beliau dan ayahnya, sehingga penguasa Madura Barat sangat ta’zhim kepada beliau dan keturunannya. Apalagi dari segi nasab, masih ada hubungan darah antara dinasti Cakraningrat dengan trah Cendana. Sunan Cendana berasal dari keluarga bangsawan Giri Kedaton, dan terhitung kakek dari Syarifah Ambami alias Rato Ebu, leluhur dinasti Cakraningrat.

“Memang dulu Petapan ini merupakan daerah Mardikan. Bahkan sejak dulu ketika ada masalah, raja Bangkalan biasanya musyawarah dengan keluarga Petapan. Tempat musyarawahnya juga di Petapan,” kata Bindara Yahya.

Sunan Putramenggolo memiliki beberapa putra-putri. Putra sulungnya bernama Pangeran Saba Pele (dalam catatan Petapan disebut bergelar Kiai Putromenggolo atau Menggolo Anom). Pangeran Saba Pele ini berputra beberapa orang yang salah satunya Raden Sutojoyo atau Macan Alas Waru. Raden Sutojoyo ini dipercaya sebagai Kepala Angkatan Perang yang menjaga pintu gerbang utara bangket Barat Keraton Sumenep, dengan berkedudukan di Sotabar. Lokasinya di pantura, daerah pesisir atau pantai utara.

Raden Sutojoyo berputra tiga orang semuanya lelaki. Yang pertama Raden Entol Anom bergelar Raden Ario Onggodiwongso (ada yang menyebut Ronggodiboso atau Ronggodiwongso), Patih Sumenep (kemungkinan di masa dinasti Yudonegoro). Yang kedua ialah Raden Entol Bagus, Jaksa di Sumenep. Dan yang terakhir, Raden Entol Janingrat (Arja Ningrat atau Ario Ningrat).

Raden Ario Onggodiwongso berputra dua orang yang juga semuanya lelaki, yaitu Raden Demang Wongsonegoro yang menggantinya sebagai Patih di Sumenep, dan Raden Kromosure yang menggantikan kakeknya, Raden Sutojoyo di Sotabar. Sedangkan Raden Entol Janingrat hanya memiliki seorang putri yang dikenal sebagai Waliyullah perempuan, yaitu Nyai Agung di Waru Pamekasan. Nyai Agung ini berputra di antaranya Kiai Bayan (Waru, Pamekasan); Kiai Pakes, Pamekasan; dan Bindara Fata, Langgar Qodas Ambunten, Sumenep.

Putra Sunan Putromenggolo yang lain ialah Kiai Koneng di Petapan, Kiai Arbanu (Sulaiman) di Pasuruan, Nyai Ardiba di Petapan, dan Kiai Nursiya. Di antara kelima putra Sunan Putramenggolo, hanya Pangeran Saba Pele yang dilahirkan oleh ibu Padmi (isteri utama). Sedangkan keempat putra lain dilahirkan oleh ampian (isteri selir).

PETAPAN DAN TONGKAT KWANYAR

Sumber Mata Air Keramat Petapan di desa Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/RM Farhan, Mata Madura)

Sumber Mata Air Keramat Petapan di desa Petapan, Labang, Bangkalan. (Foto/RM Farhan, Mata Madura)

Kembali lagi pada mata air keramat Petapan. Sebutan Petapan maupun asal-usul sumber keramat itu mengacu pada Sunan Putromenggolo sekaligus Sunan Cendana. Menurut cerita Bindara Yahya, pada suatu masa, Sunan Putromenggolo lama tidak pulang ke Kwanyar. Sang Ayah, Sunan Cendana lantas memohon petunjuk kepada Allah SWT akan keberadaan sang Sareyang.

“Beliau lalu melempar tongkatnya. Tongkat itu tidak jatuh melainkan melesat atau bergerak terus di udara hingga jatuh tepat di depan Sunan Putromenggolo yang tengah bertapa,” kata Bindara Yahya.

Sunan Cendana mengikuti arah tongkat. Setelah bertemu sang Putra, yang kala itu duduk dengan ditemani seekor ular besar berbisa, terjadilah dialog seperti digambarkan sekaligus ditirukan Bindara Yahya.

“Rupanya engkau di sini, Nak. Katakan apa yang kurang dari tempat ini?”, tanya Sunan Cendana.

“Di sini tidak ada air maupun sumber air, Ayah,” kata Sunan Putromenggolo.

Lalu Sunan Cendana mengambil tongkat yang ada di hadapan putranya, dan menancapkannya ke tanah. Atas ijin Allah, begitu tongkat dicabut, memancarlah air jernih yang rasanya segar. Karena begitu derasnya, sang Wali lalu memukulkan tongkatnya pada pusat sumber air sambil berseru “Jaggung”. Air pun memancar perlahan. Peristiwa memancarnya air tersebut dalam riwayat turun-temurun tercatat terjadi di hari Jum’at Wage.

“Sampai sekarang biasa ada ritual mengambil air tiap malam Jum’at Wage,” ungkap Bindara Yahya.

Air sumber itu sangat jernih. Rasanya sangat sejuk dan juga khas. Tawar, mirip air zamzam. Air itu juga tahan lama, ia tidak berjamur kendati disimpan dalam wadah hingga jangka waktu lama.

“Sampeyan nanti bisa buktikan. Rasa dan bentuknya tidak akan berubah meski disimpan lebih dari setahun. Itu dialami oleh banyak peziarah yang mengambil, yang rata-rata juga banyak dari luar Madura dan luar Jawa,” imbuh Yahya.

Dikisahkan juga oleh Yahya, Sunan Putromenggolo biasa menyantap ikan bakar. Namun suatu ketika ikan yang sudah tiada berdaging itu, yang hanya tinggal kepala dan tulangnya, atas kehendak Allah hidup kembali usai dilemparkan sang Wali ke mata air Petapan.

Setelah berapa lama, Sunan Cendana kemudian kembali ke Kwanyar. Diceritakan, sepanjang jalan hingga beberapa kilo meter ke utara, bekas seretan tongkat beliau diikuti aliran sumber di Petapan dan menjadi anak sungai atau leke. Beliau juga diikuti oleh ular berbisa dan seekor katak. Lantas beliau dengan disaksikan pengikutnya berkata kepada kedua hewan itu. “Kau ular, selama di sekitar mata air ini jangan menggigit atau menyengat orang. Dan kau katak jangan bersuara keras,” sabda sang Wali.

“Hingga saat ini ular berbisa seperti apapun selama masih ada di sungai atau leke Petapan in sya Allah tidak akan menyengat. Begitu juga katak tidak berbunyi seperti biasanya,” kata Bindara Yahya.

Lambat laun, kehadiran Sunan Putramenggolo dan mata air di tempat itu tercium orang lain. Warga lantas berdatangan dan mengabdi pada sang Wali. Tempat itu kemudian menjadi ramai dengan beberapa perkampungan. Nama daerah itu kemudian dikenal dengan sebutan Petapan, yakni berasal dari kata petapaan atau pertapaan Sunan Putromenggolo.

(Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Majalah Mata Madura Edisi 5, Tanggal 29 Agustus 2016)

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

1 Komentar

  1. Hidrochin Sabarudin Selasa, 27 Juni 2017
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional