Siti Arini, Buktikan Muslimah Bisa Aktif dan Beprestasi

Prestasi haya bonus dari usaha, bukan jalan menyombongkan diri, apalagi berbelok arah dari kewajiban menuju kemungkaran.
(Aktivis Muslimah, Duta Kampus STAIN Pamekasan 2017)

Siti Arini, Duta Kampus STAIN Pamekasan 2016-2017. (Foto for Mata Madura)
Siti Arini, Duta Kampus STAIN Pamekasan 2016-2017. (Foto for Mata Madura)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Siti Arini merasa menjadi korban dari kesadaran bahwa muslimah di dunia tengah dihina dan dilemahkan dari gerak publik. Aktivis muslimah di kampus STAIN Pamekasan itu melihat dunia lebih memilih wanita yang obral dan elegan dibanding wanita rapi dan sopan, yakni kaum muslimah. Akan tetapi, sebagai muslimah yang taat, Arini-panggilannya, tidak menghiraukan keramaian publik yang sangat mengintimidasi gerakan wanita muslim. Justru dirinya menjadikan semua itu adalah tantangan keras yang harus dihadapi oleh semua muslimah Madura, Indonesia bahkkan seluruh dunia.

Dahulu di jaman kebodohan wanita dipandang hina dan direndahkan, dipandang sebelah mata tanpa sedikit kasih sayang. Bersyukurlah kemudian ada sosok Muhammad yang memuliakan perempuan di dunia ini dengan keteladanannya, sehingga bisa keluar dari zona ironis dengan kepercayaan yang penuh atraktif.

Lambat laun di tengah derasnya arus globalisasi, kaum muslimah seakan kembali tidak mempunyai tempat yang elegan dan nyaman lagi. Di era modernis muslimah hanya dijadikan tontonan dan sedikit pula diberikan ruang. Sebagaimana muslimah bernama Mona Alfadli, 25 tahun, di Selandia Baru yang ditolak lamaran kerjanya hanya karena tidak mau melepas hijab. ”Hal inilah yang kemudian membuat banyak sekali wanita muslim pesimis dengan pengaruh modernis yang sedikit menjajah kaum hawa,” katanya kepada Mata Madura.

Mahasiswi semester IV Prodi Perbankan Syariah itu mencoba menjawab sedikit keraguan muslimah, khususnya pada civitas akademika di lingkungannya. Dinobatkan sebagai Duta Kampus STAIN Pamekasan periode 2016-2017 tepat saat Hari Kartini, menambah motivasinya terus menggapai cita. Bukan lantas menjadi ajang merebut kekuasaan atau sedikit mengarogansikan kepribadian, melainkan hanya peringatan dari Sang Khalik bahwa menjadi aktivis tak harus melupakan kewajiban.

”Prestasi haya bonus dari usaha, bukan jalan menyombongkan diri, apalagi berbelok arah dari kewajiban menuju kemungkaran,” ungkapnya.

Mahasiswi yang kompeten dan penuh dedikasi tinggi itu mencoba mengartikan kuliah adalah proses kematangan membangun mental kedewasaan. Suka belajar ilmu-ilmu barat bukan lantas meniru peradaban barat. ”Akan tetapi mengintip ciri khas dan kebiasaan orang kafir yang selama ini kerjaannya mendiskreditkan orang-orang Islam,” terang dara kelahiran 03 Juli 1996 itu.

Aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus meningkatkan kepercayaannya bahwa mahasiswi tidak harus tunduk pada teori yang membosankan. Ia berkesimpulan, adakalanya hidup harus berlari dan berjuang menggapai impian yang diperintah Tuhan. Tetap tegar di jalan lurus sambil menikmati indahnya hidup harus menjadi pegangan.

| kirom/rafiqi

Tinggalkan Balasan