Siti Kholifah, Pahlawan Teater Rato Bhangsa

Siti Kholifah, perintis Teater Rato Bhangsa STIEBA Pamekasan. (Foto Olip for Mata Madura)
Siti Kholifah, perintis Teater Rato Bhangsa STIEBA Pamekasan.
(Foto Olip for Mata Madura)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Siti kholifah merupakan perempuan yang menjadi aktor penting dari berkembangnya teater Rato Bhangsa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bakti Bangsa (STIEBA) Pamekasan. Meski baru berumur tidak genap satu tahun, siapa yang tidak mengenal sanggar tersebut? Hal itu tentu tidak terlepas dari tangan dingin Olip, panggilannya, dalam memimpin sekaligus menjadi perintis.

Jadi, tak heran meski teater itu baru diresmikan 31 Desember tahun kemarin, sudah menerima banyak undangan ke berbagai komunitas seni, sanggar, maupun teater di Madura yang berada dalam naungan kampus. Perempuan kelahiran Pamekasan, 03 November 1996 itu mengaku sudah pernah bersua dengan  hampir semua teater kampus yang ada di Pulau Garam.

”Teater Pangestu UIM (Uiversitas Islam Madura, red) Pamekasan, Teater Akura Unira (Universitas Madura, red) Pamekasan, Teater Fataria STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, red) Pamekasan, Teater Kaged STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam, red) Al-Khairat Pamekasan, Tater Cemara Unija Sumenep, Teater Lentera STKIP PGR Sumenep, dan Teater Nanggala UTM (Universitas Trunojoyo Madura, red) Bangkalan. Banyak teater-teater masih di UTM yang berada di naungan fakultas, tapi kalau teater itu (Nanggala, red) milik universitas,” sebut perempuan yang tinggal di Dusun Selatan, Desa Tlesah, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, 12 Juni lalu.

Disamping itu, teater yang sedang dipimpinnya tidak hanya melakukan kunjungan atau menerima undangan dari teater yang berada di naungan kampus. Namun, ia mengaku juga pernah ke teater yang independen. ”Teater Lorong Art Independen dan di Sampang lagi lupa namanya, tapi itu independen bukan kampus,” imbuhnya.

Meski merupakan kaum hawa, ia tidak pernah gentar untuk tetap memperjuangkan teater rintisannya. Dengan rutin, Olip terus mengawal prosesl latihan yang diselenggarakan setiap satu kali dalam satu minggu. Tidak muluk-muluk, durasi waktu yang ditetapkan untuk latihan hanya dua jam setengah atau 150 menit atau setara dengan jam kuliah 3 SKS yang satu jamnya berdurasi 50 menit. ”Satu kali dalam seminggu, dari jam 2 sampai setengah 5 (14.00-16.30 WIB, red),” ujar dara manis itu.

Di sisi lain, ada yang beda dari diri Olip. Meski pergi melanglang buana untuk memperkenalkan dan menimba ilmu dalam dunia akting, ia tidak pernah melepas kerudung dalam sesi latihan atau pun pementasan. Itu juga yang ia tanamkan bagi rekan-rekannya untuk menjadi ciri khas di teaternya.

Meski sibuk di dunia seni peran, ternyata mahasiswi Prodi Ekonomi Islam Semester V itu tidak hanya menghabiskan waktu untuk mengurusi teater Rato Bhangsa dan belajar di bangku kuliah. Namun, Olip masih menjadi seorang organisatoris yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial di BEM STIEBA. Ia memiliki dua fokus untuk dipikirkan dalam memberikan kontribusi nyata untuk kampusnya, yaitu di teater sebagai ketua dan Menteri di BEM STIEBA.

Ditambah lagi, ia harus menyita waktu luang di malam hari yang biasanya kebanyakan orang digunakan untuk istirahat. Olip memiliki usaha kecil-kecilan yang ditempatkan di rumahnya dan dikelola sendiri, yaitu menjual cemilan seperti sosis dan lain sebagainya. Waktu yang tersita untuk itu, kata dia, dari jam 19.00-21.00 WIB.

”Untuk saya sendiri biar kalau mau apa tidak minta ke orang tua. Belajar mandiri,” ucap Olip tentang alasan usahanya.

| syahid

Tinggalkan Balasan