Menu

Sivitas Kotheka, Nemor Kara Buju’ Raba, Dan Pamellengan

  Dibaca : 408 kali
Sivitas Kotheka, Nemor Kara Buju’ Raba, Dan Pamellengan
Nemor Kara Buju' Raba di Pendopo Budaya Pamekasan
Link Banner

SEBUAH pesan datang bersamaan dengan nada bunyinya. Pesan jaman now. Tanpa merpati, dan apalagi telepati. Pesan WhatsApp atau yang populer disingkat WA. Pesan itu berupa tulisan sekaligus gambar. Tulisannya berupa “undangan”, yang lebih tepatnya ajakan. Ajakan untuk menjadi pembicara—sekaligus pendengar—di sebuah kongkow budaya di Pamekasan.

Kenapa saya sebut ajakan, karena itu datangnya bukan dari penggelar acara, melainkan pembicara di acara itu. Pembicara tunggal sejatinya. Namun dengan bersedianya saya epega’ kaok, otomatis bukan tunggal lagi. Tapi tri-tunggal. Kenapa, karena ternyata selain saya ada satu pembicara lain yang juga “diajak”, eh, diundang.

Karena dadakan, ajakan berbungkus undangan itu membuat panitia merubah format acara. Di banner yang dijadikan back ground memang tertulis Kang Mansuhana, selaku pembicara. Namun pemandu acara mengenalkan juga saya dan satu teman lagi sebagai pembicara. Saya merasa geli sejatinya, karena saya sendiri merasa sebagai penyusup. Sebab hampir dipastikan saya satu-satunya warga Sumenep di Pendopo Wabup Pamekasan kala itu.

Flashback. Sore itu, Rabu (14/03), saya agak buru-buru menuju halte bus di terminal Wiraraja Sumenep. Siangnya sempat saya buka WA kalau acara kongkow mau dimulai pukul 18.30 WIB. Namun karena sesuatu dan lain hal, saya baru bisa berangkat sekitar jam 16.30 WIB. Padahal semula saya janji pada Kak Mansuhana habis adzan Ashar sudah di Pamekasan. Mau dijamu dulu katanya.

Setelah menunggu hampir lewat setengah jam yang setara dengan menghabiskan satu setengah batang rokok, bis AC yang saya tunggu muncul juga.

“Turun di Sotok,” kata saya pada kondektur.

Jam menunjukkan angka 17.10 WIB. Saya perkirakan satu jam waktu perjalanan yang dibutuhkan menuju “Sotok”. Sebuah “area” di kecamatan Pademawu. Sotok itu bukan nama kampung, sekaligus desa. Nama itu terkait sebenarnya dengan acara yang mau saya hadiri.

Di dalam bis, saya baru sempat buka WA. Bertumpuk. Saya lihat pesan dari Kak Mansuhana. Saya agak lega, karena acara katanya akan dimulai 19.30 WIB. Sampai di Sotok saya sudah ditunggu Kak Mansuhana. Dari sana langsung meluncur ke kampung Raba, desa Sumedangan, kecamatan Pademawu.

Habis sholat Maghrib, merokok, ngobrol sekaligus ngopi, sambil menambah isi baterai hape yang mulai lemah; “jamuan” Raba datang bersamaan dengan deru Mitsubishi Pajero milik Mas Faishal Baidlawi. Pembicara dadakan lainnya di acara kongkow. Hanya bedanya, ia asli Pamekasan. Masih famili dekat Mansuhana. Persamaannya, kita bertiga satu tim dalam 5wali Institute, sebuah wadah “cil-kecilan” yang concern dalam penggalian dan penelusuran profil tokoh-tokoh ulama awal Madura.

Pukul 19.30 kami bertiga bertolak ke Pendopo Wabup. Sugik Muhammad Sahar dan kawan-kawan Sivitas Kotheka selaku penggelar acara kongkow budaya sudah menunggu di sana. Begitu juga undangan yang kebanyakan mahasiswa. Ada juga tokoh-tokoh kiai muda. Ya, acaranya memang khusus membincang tentang Kiai Legendaris Gerbang Salam: Syaikh Abdurrahman alias Kiai Agung Raba.

Tema perbincangan ialah Nemor Kara Buju’ Raba. Meski musim saat ini sebenarnya pas nembara’. Namun ini memang tak ada kaitannya dengan musim. Semua merujuk pada tokoh sentral yang kini jasadnya esareyagi di bumi Raba itu.

Kak Mansuhana memang asli Raba. Nama aslinya Abdul Hamid. Ia keturunan kesembilan dari Kiai Adil, keponakan sekaligus pengganti Kiai Agung Raba. Karena Sang Wali Agung tak berketurunan. Saya kenal sekitar tiga tahun lampau. Dipertemukan lewat silsilah. Dalam sebuah kegiatan penelusuran dan kajian nasab bangaseppo.

Nah, karena Kiai Agung Raba asli ujung timur pulau Garam, saya diajak, eh diundang untuk berkolaborasi. Tentunya setelah dikomunikasikan dengan Sivitas Kotheka, yang ternyata menyambut dengan suka cita.

“Ini baru pertama. Tapi unik. Biasanya memang satu topik, satu pembicara. Uniknya ini terjadi di kali kesembilan kongkow budaya ini. Pas dengan pembicara yang keturunan kesembilan dari Kiai Raba, dan keturunan kesembilan dari Bindara Saut yang dari Sumenep,” kata Sugik Muhammad Sahar, Ketua Sivitas Kotheka. Dia mengungkap soal keturunan kesembilan Bindara Saut itu copy paste dari penuturan Mansuhana.

Bindara Saut memang ada kaitan dengan Kiai Agung Raba. Ayahnya, Bindara Bungso alias Entol Bungso alias Kiai Abdullah adalah keponakan Kiai Agung Raba. Kiai Abdullah bersaudara dengan Kiai Adil. Sama-sama anak Kiai Abdul Qidam dan Nyai Asri, saudari Kiai Agung Raba. Dalam kisah Nemor Kara, Kiai Agung Raba memang ditemani Kiai Abdullah. Melahirkan kisah legendaris yang melibatkan Rato Pemellengan kala itu.

Berbicara tentang sosok Kiai Agung Raba bagi saya tidak mudah. Meski juga tidak bisa dikatakan sulit. Tidak mudahnya karena kisah Sang Wali Agung ini kental dengan riwayat tutur yang susah dicerna “akal” sejarah. Seperti kisahnya yang mandi pangocap sejak masih kecil. Bilang hujan, langsung turun, meski kala itu disengat terik mentari. Dan banyak kisah lainnya termasuk pertemuannya dengan Nabiyullah Khidr ‘alaihissalam di tengah laut Sagatra (Laut merah). Nah, tidak sulitnya, saya hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para penutur kisah-kisah itu.

Namun cerita rakyat semacam ini atau yang lazim disebut folklore memang tidak bisa dilepaskan dalam penggalian sejarah di Madura khususnya. Inilah seni dalam dunia sejarah. Pintu atau informasi awal yang berharga. Dan inilah yang menjadi bahan kolaborasi Tim 5wali Institute (saya, Mansuhana, dan Faishal) di kongkow tersebut. Mengulang dengan menceritakan kembali. Mengambil teladan, menggali, untuk selanjutnya melakukan penelusuran. Bisa jadi menguatkan, atau mungkin menenggelamkan. Dan prosesnya tentu tidak mudah. Butuh waktu dan segala sesuatunya yang tidak sedikit. Tidak cukup di puluhan bahkan mungkin di ratusan kongkow atau giat budaya serupa.

Proses ini juga mungkin seperti Nemor Kara di Pamellengan, yang diperkirakan terjadi pada abad 17. Butuh perjuangan seorang Rato untuk menembus rahasia langit. Mengalami peristiwa kereta yang terperosok di rawa, dan esotok untuk mencapai tempat khalwat Sang Kekasih. Begitu pula sang Wali yang harus menanggung beban cangkolang “menyuruh” Sang Kuasa menjatuhkan butir-butir rahmatNya. Demi membasahi dahaga bumi Gerbang Salam. Berdo’a atau meminta bagi sebagian kalangan sufi memang terkadang dianggap sebagai suatu kekurangajaran (su’ul ‘adab).

Teladan Raja Ronggosukowati dan Kiai Agung Raba sebenarnya bukan untuk disingkap, tapi untuk diserap. Melalui kisah-kisah yang kaya makna, yang berasal dari penutur-penutur atau para pencerita yang baik. Meski sejarah memiliki kaidah-kaidah penyusunan yang mengacu pada otentisitas data dan peninggalan kuna, namun ia pun butuh sedikit seni untuk menyemarakkan isinya. Seperti pot bunga di halaman rumah mungil. Sedikit namun memperindah suasana.

Sejarah juga merupakan perkawinan ilmu dan seni itu sendiri. Dan ini jelas disadari betul oleh salah satunya, Sivitas Kotheka. Komunitas budaya yang baru berdiri satu tahun silam. Kelompok ini semacam rumah literasi di Pamellengan abad ini. Ikut mengumpulkan puing-puing reruntuhan informasi masa lampau yang terserak di mana-mana: seperti Kiai Raba, dan tokoh-tokoh awal Pamekasan lainnya. Mengajak semua untuk senantiasa berkarya.

Salam literasi

R. B. M. Farhan Muzammily, Redaktur Pelaksana Majalah Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
bprs-wtp-matamadura
opd-matamadura

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional