Sri Ariani, Rela Merantau Demi Menuntut Ilmu

Sri Ariani, Dara Cantik Desa Sokobanah Laok, Sokobanah, Sampang. (Foto for Mata Madura)
Sri Ariani, Dara Cantik Desa Sokobanah Laok, Sokobanah, Sampang. (Foto for Mata Madura)

MataMaduraNews.comSAMPANG – Lahir dan besar di Desa Sokobanah Laok, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Sri Ariani kini tinggal di Jember. Sebab, perempuan kelahiran 12 Mei 1996 itu sekarang sedang kuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Jember.

Jarak dari Kota Bahari (julukan Kabupaten Sampang) ke Kota Suwar-suwir (julukan Kabupaten Jember) memang terbilang jauh walau masih terbentang di provinsi yang sama. Tapi, perempuan berusia 21 tahun itu tidak pernah gentar untuk mengambil keputusan merantau. Ia menilai, jenis kelamin bukan suatu hambatan untuk menuntut ilmu.

”Niat menuntut ilmu dan jadikan orang tua sebagai motivasi kita belajar,” bebernya, 11 November lalu.

Terkorek oleh Mata Madura, Bunga Desa Sokobanah Laok tersebut memiliki cara tersendiri untuk menjaga diri di saat jauh dengan orang tua. Ia menyebutkan ada 2 cara yang bisa dilakukan para perantau, terutama kaum hawa. Yaitu memperkokoh keagamaan dan memfilter habitual action teman.

”Kuatkan agama kita biar menjadi tameng, maka kita akan terjauh dari hal yang tidak-tidak. Percayalah bahwa Allah selalu bersama dengan orang yang baik,” tutur mahasiswi Semester VII tersebut.

”Jangan pilih-pilih dalam berteman, tapi kita harus bisa memfilter mana yang bisa kita tiru dan ngak dari teman kita,” sambungnya.

Meski demikian, bukan berarti rantau demi ilmu mulus-mulus saja. Ani, panggilan akrabnya, mengaku terantuk batu sandungan di awal-awal perkuliahan. Pasalnya, ia masuk fakultas yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Memang fakultas yang diinginkan sama-sama berhubungan dengan kesehatan, tapi ia menginginkan bidang yang lain. Sayang, Ani tidak mau menjelaskan dengan detail untuk menghindari perbandingan bidang dalam kebidanan.

”Sebenarnya dulu pengennya bukan di keperawatan, tapi bidang kesehatan yang lain. Sekarang merasa kalau itu adalah panggilan jiwa. Selain jalan untuk sukses di masa depan, membahagiakan orang tua dan ilmu yang dimiliki bisa dirasakan oleh orang banyak manfaatnya,” tegas Ani.

Tak bisa dipungkiri, ia tidak menikmati proses perkuliahan di awal-awal semester. Namun dengan usaha yang keras, akhirnya juga mampu positive thinking. ”Awalnya kurang totalitas, tapi dengan berjalannya waktu saya bangga dengan profesi (belajar Ilmu Keperawatan, red) yang sekarang,” ucapnya.

Tentu menikmati bidang yang tidak disukai bukan hal yang mudah. Ani harus selalu mengingat pengorbanan orang tua untuk menguliahkannya demi mengatasi perang batin tersebut.

”Ingat pengorbanan orang tua yang tak gampang untuk menyekolahkan saya. Latar belakang saya bukan orang kaya, saya berpikir bagaimana usaha keras mereka. Jika saya tidak totalitas di bidang ini, pengorbanan mereka akan sia-sia,” katanya.

| syahid

Tinggalkan Balasan