Menu

Sri Kuntari, Tak Pernah Lelah Urus Anak Berkebutuhan Khusus

  Dibaca : 94 kali
Sri Kuntari, Tak Pernah Lelah Urus Anak Berkebutuhan Khusus
Sri Kuntari, pemilik PAUD Ananda Pamekasan. (Foto Sri for Mata Madura)

MataMaduraNews.comPAMEKASAN – Tidak mudah untuk mendidik Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Melakukannya tentu sangat dibutuhkan kesabaran ekstra. Tapi, Sri Kuntari telah memperlihatkan contoh yang nyata. Bahwa empati merupakan faktor utama dan terpenting dalam menghadapi mereka.

Pemilik PAUD Ananda yang fokus pada Anak-Anak Berkebutuhan Khusus itu menuturkan, jumlah Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Pamekasan ternyata cukup banyak. Paling banyak adalah anak yang gifted, anak-anak yang sebenarnya pandai tapi memperlihatkan perilaku kekanak-kanakan. Menyusul berikutnya adalah hyperaktif, anak yang suka pindah-pindah fokus. Dan posisi terkahir adalah autis, anak yang hanya mau fokus pada satu fokus saja.

”Anak-anak Berkebutuhan Khusus itu seperti puncak gunung es. Di permukaan kelihatan sedikit, tapi di bawah yang tak terlihat banyak,” kata Kuntari membuka pembicaraan dengan Mata Madura di kediamannya, di kawasan Kelurahan Juncangcang, Pamekasan, Kamis, 20 Juli lalu.

Kenapa seperti puncak gunung es? Putri budayawan almarhum M. Thayib itu menjelaskan, karena  ada beberapa faktor. Pertama dan yang menjadi mayoritas, masih banyak orang tua yang memandang fenomena Anak Berkebutuhan Khusus sebagai aib.

”Akibat stigma ini, anak-anak gagal tertangani. Karena penanganan terbaik untuk Anak Berkebutuhan Khusus adalah sebelum berusia dua tahun,” urai ibu dari Betty, Tria, dan Badi itu.

Dan karena sejumlah alasan demikanlah, wanita berusia 47 tahun itu memilih mendirikan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis Tempat Penitipan Anak (TPA). Menurutnya, dengan TPA yang didirikan 7 tahun silam, ia bisa menerima anak yang usianya di bawah 2 tahun. Dan alhamdulillah, berkat rasa empati yang besar dari kalangan guru-guru di PAUD Ananda miliknya, banyak anak yang berkebutuhan khusus bisa tertangani tanpa lelah.

Namun sebagai seorang pemilik lembaga pendidikan bagi  Anak-anak berkebutuhan Khusus itu, Kuntari berharap agar pemerintah lebih serius lagi memperhatikan nasib mereka. Ia cukup prihatin, karena masih banyak lembaga pendidikan yang tidak memiliki ahli terapis untuk mengatasi Anak-anak Berkebutuhan Khusus yang menuntut perhatian ekstra.

| johar/rafiqi

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Kategori Pilihan

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional