Menu

Sufi dari Masa ke Masa: Benih Ajaran Tasawuf (2)

  Dibaca : 472 kali
Sufi dari Masa ke Masa: Benih Ajaran Tasawuf (2)
Link Banner

Kehidupan Nabi Saw, para Sahabat Nabi serta tabi’in menjadi benih embrio lahirnya ajaran Sufi

Pasca Nabi Saw wafat, benih kebangkitan gerakan spritualitas (kehidupan ukhrawi) bermunculan di sejumlah kota. Seperti Madinah, Bashra, Kufah, Damaskus, Kairo, Baghdad, termasuk di daerah gurun pasir di Arabia, Sinai, hingga Mesopotamia dan Khurasan (Persia) yang menjadi pusat gerakan para ‘pencari’ Allah Swt.

Sufi Era Tabi’in; Hasan al Bashri
Hasan al Bashri, salah satu tokoh Sufi dari golongan tabi’in yang memiliki kecerdasan dan kepandaian di dalam ilmu agama. Beliau lahir pada tahun 21 H (641 M) di Madinah, tepat dua hari sebelum Khalifah Umar bin Khattab meninggal. Beliau sempat bertemu dengan 70 sahabat Nabi Saw yang turut menyaksikan perang Badar dan 300 orang sahabat Nabi Saw lainnya. Beliau wafat pada hari Kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728 M).

Hasan al Bashri disebut oleh para peneliti tasawuf adalah seorang tokoh sufi yang awal meletakkan ilmu dasar tasawuf. Pemikirannya tentang ilmu tasawuf menjadi referensi oleh para sufi sesudahnya. Terutama di daerah Masjid Bashrah.

Hasan al-Bashri tergolong zahid yang amat mansyur dalam kalangan tabi’in. Hasan al Bashri memiliki nama lengkap Abu Sa’id al Hasan bin Yasar. Beliau lahir dari ibu yang bernama Khairah, seorang hamba Sahaya Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad saw. Hasan al-Bashri pernah menyusu pada Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw. Ketika itu, ibu Hasan keluar melaksanakan suruhan isteri Rasul.
Ayah Hasan bernama Yasar, keturunan Persi beragama Nasrani. Ayahnya adalah seorang budak yang ditangkap di Maisan, yang di kemudian dimerdekakan oleh Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah Saw yang sekaligus juru tulis wahyu. Karena itulah, Hasan biasa dipanggil Yasar Maula Zaid bin Tsabit.

Kelahiran Hasan al Bashri membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya. Kedua orang tua Hasan terbebas dari status hamba sahaya.
Hasan al Bashri tumbuh di kalangan orang-orang shaleh yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam yaitu di keluarga Nabi Saw.
Hassan al Bashri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul Saw sehingga beliau muncul sebagai ulama terkemuka di zamannya.

Pada masa remaja, Hasan al Bashri melanjutkan pendidikan di Hijaz. Beliau berguru pada sejumlan ulama Hijaz.
Hasan al Bashri sempat berada di masa konflik. Masa pemberontakan terhadap Khalifah Usman ibn Affan. Kondisi politik Madinah memporak-porandakan umat Islam. Kondisi tersebut menyebabkan keluarga Hasan al Bashri hijrah ke Bashrah. Di empat baru, membuat Hasan masyhur dengan nama Hasan al Bashri.

Hasan al Bashri adalah orang yang pertama kali menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian akhlaq dan usaha mensucikan jiwa di dalam masjid Bashrah. Ajaran kerohaniannya berdasar al-Qur’an dan sunah-sunah Nabi Saw.
Sahabat-sahabat Nabi Saw, yang masih hidup mengakui kepandaiannya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika Ali ibn Thalib masuk ke dalam Masjid Bashrah, di dalam masjid ada seorang pemuda sedang bercerita agama di hadapan umum. Ali mendekatinya dan berkata ”Hai pemuda! Aku hendak bertanya kepadamu mengenai dua perkara, jika engkau dapat menjawabnya dengan benar, maka engkau boleh meneruskan berbicara agama di depan khalayak”. Anak muda itu mendatangi Ali ibn Abi Thalib dengan tawadlu’, dan berkata: ”Tanyalah, ya Amir al Mu’minin, apa dua perkara itu?”. Ali ibn Abi Thalib bertanya: ”Ceritakan kepadaku, apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa yang dapat merusak agama?”. Hasan al Bashri menjawab: ”Yang dapat menyelamatkan agama adalah wara’ dan yang dapat merusaknya adalah tamak”.

Ali ibn Abi Thalib terlihat gembira dengan jawaban Hasan al Bashri dan berkata: ”Benar engkau dan teruskanlah bicaramu, orang semacam engkau layak berbicara di hadapan orang banyak”.

Ajaran tasawuf menurut Hasan al Bashri adalah senatiasa bersedih hati, senatiasa takut kalau tidak dapat melaksanakan perintah Allah sepenuhnya. Dan menghentikan larangan Allah dengan sepenuhnya. Sehingga Hasan al Bashri menjadikan zuhud sebagai pola hidupnya.
Hasan al Bashri menolak segala kemegahan dunia. Hidupnya semata-mata menuju Allah. Tawakkal, khauf dan raja’ menjadi landasan dalam ikhtiarnya.

BERSAMBUNG…..

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional