Menu

Sufi dari Masa ke Masa: Pro Kontra Kehidupan Sufi (1)

  Dibaca : 458 kali
Sufi dari Masa ke Masa: Pro Kontra Kehidupan Sufi (1)
ilustrasi/google
Link Banner

Mulai edisi ini, redaksi menurunkan kisah kehidupan Sufi dari awal kelahiran; masa Nabi Muhammad Saw hingga berkembang ke masa sahabat Nabi Saw, tabi’in dan tabi’ut tabi’in hingga para generasi setelahnya.

Ajaran tasawuf sejak awal menjadi perdebatan. Sebab, ajaran tasawuf- dinilai sebagian kelompok, tidak terulas secara rinci dalam al-Qur’an maupun Hadits Nabi Saw. Ajaran tasawuf selalu dinisbatkan kepada orang yang memakai wol kasar dari bulu domba sebagai simbol kesederhanaan dan kemiskinan.

Sementara kelompok yang pro ajaran tasawuf menilai ajaran tasawuf merupakan praktek hidup Nabi Saw. Ketika itu, Nabi Muhammad Saw mengajarkan ‘uzlah. Sebelum umur 40 tahun, pada bulan-bulan tertentu, selama berminggu-minggu, Nabi Saw selalu menyepi di Gua Hira’. Menjauh dari hingar bingar kehidupan dunia.

Kehidupan Nabi Muhammad Saw juga mengajarkan hidup sederhana (zuhud) yang begitu terasa oleh istri-istrinya dan para sahabat yang selalu bersamanya. Sikap kesederhanaan Nabi Saw adalah hidup miskin tanpa kemilau harta.

Sikap asketisme Nabi Saw itulah yang menjadi titik tekan para Sufi (pengamal tasawuf) setelah beliau wafat. Namun, dibalik ajaran ‘uzlah dan zuhud Nabi Saw yang mengutamakan kehidupan akhirat, dinilai kelompok tertentu, mengabaikan nilai-nilai Islam yang bersifat universal.
Ajaran zuhud, ‘uzlah, wara’, diklaim menjadi sebab matinya kreativitas umat Islam untuk memperoleh kesejahteraan hidup dunia. Sehingga umat Islam jauh tertinggal dari peradaban Barat dalam berbagai lini kehidupan, seperti; sosial, ekonomi, politik.

Argumen lain juga menyebut, ajaran tasawuf menjadi sumber bid’ah, takhayyul dan khurafat. Kelompok ini menilai Nabi Saw tidak pernah mengajarkan ibadah sebagaimana dipraktikan kaum mutasawwif (sufi).

Sedangkan yang pro keberlangsungan tasawuf menilai ibadah yang terkandung di dalam tasawuf sebagai metode instan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk meraih cahaya Ilahi (makrifatullah). Sebagaimana praktek ‘uzlah Nabi Saw sebelum menerima wahyu Allah di Gua Hira’.

Ajaran tasawuf bagi Sufi sebagai ibadah bathin (esotoris) dengan olah hati, ruh, dan rasa secara berjenjang, dianggap sebagai jalan praktis dan efektif untuk merasakan kehadirat Ilahi yang bersemayam dalam hati manusia paling dalam.

Abu Nasr al-Thusi (w. 378/998) dalam Al-Luma’, menerangkan tujuh station yang harus ditempuh pencari Allah Swt (salik) sebelum mencapai hasil puncak spiritual (makrifatullah). Station itu dikenal dengan kondisi dan kedudukan spiritual (al-ahwal wal maqamat). Seperti istilah, tobat, wara’, zuhud,fakir, sabar,tawakkal, ridha, muraqabah, mahabbah, khauf, raja’, syauq, uns,thuma’ninah, musyahadah, dan yaqin.

Ciri pengamal tasawuf seperti digambarkan Abu Nasr sebenarnya telah berlangsung sejak Nabi Saw dan para sahabat Nabi serta generasi awal setelah sahabat (tabi’in). Para sahabat dan tabi’in menitikberatkan pada praktek nilai-nilai substansi ajaran daripada simbol-simbol atau nama-nama dalam kehidupan keseharian. Seperti, hidup sederhana walau memiliki kekayaan harta tapi tidak mencintai. Memperbanyak dzikir kepada Allah Swt, memperbanyak amalan ibadah sunnah selain ibadah wajib, dan sebagainya.

Abu al-Hasan Busanji menyebut kehidupan sufi yang hidup di zaman Sahabat Nabi dan tabi’in tanpa identitas atau simbol. Tapi secara kualitas dapat dibanggakan.

Ali ibnu Utsman Al-Hujwiri (w.456/1064) dalam Kasyf al-Mahjub menggambarkan praktek aktualisasi nilai-nilai substansi Islam itu berlangsung hingga masa para sahabat Nabi dan generasi awal setelahnya (tabi’in). Praktik tersebut dilakukan tanpa terpaku pada simbol-simbol, tanpa nama organisasi Sufi. Gerakan ibadahnya bersifat individu.

Namun, tiga ratus tahun sepeninggal Nabi Muhammad Saw, perilaku para salik (pengamal ajaran tasawuf) mulai diformalkan dalam bentuk pakaian dan organisasi tertentu.

Ali Sami al-Nashr, mengakui meskipun term tasawuf baru dikenal pada abad ke-2 Hijriyah, akan tetapi praktik dunia sufi sudah berlangsung sejak generasi pertama. Masyarakat muslim periode awal mendapatkan anjuran untuk hidup zuhud di dunia dan mengutamakan kehidupan akhirat dari ayat-ayat al-Qur’an dan contoh kehidupan Nabi Muhammad. Dari perilaku, etika, moral, dan pandangan hidup sebagian besar umat Islam generasi awal dapat dikatakan bahwa meskipun penyematan nama Sufi datang belakangan, namun secara de facto laku Sufi sudah dipraktikkan oleh umat Islam sejak awal mula kemunculannya.
BERSAMBUNG…..

sumber: Majalah Mata Madura

Link Banner
Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional