Sunan Dalem Kolak, Bangkalan; Sesepuh Di Kawasan Puluhan Waliyullah

Sebuah area makam di dekat kawasan pesisir Selatan Madura Barat dikenal dengan kawasan puluhan awliya Allah.Tokoh paling awal di area itu dikenal dengan sebutan Sunan Dalem Kolak. Siapakah sebenarnya tokoh agung ini?

MataMaduraNews.Com-BANGKALAN-Nama Sunan Dalem Kolak hampir tak dikenal oleh kebanyakan orang di pulau garam. Sebutan sunan di depan namanya menunjukkan identitas seorang yang berkedudukan tinggi. Sunan berasal dari kata Susuhunan, yang bermakna Yang Dijunjung Tinggi. Di masa keruntuhan Majapahit, sebutan Sunan digunakan oleh sembilan (atau lebih) Waliyullah Agung di tanah Jawa; Wali Sanga. Sebutan kehormatan tertinggi itu juga dipakai oleh penguasa Mataram, di antaranya Amangkurat dan Pakubuwana Surakarta.

Kompleks Pasarean Sunan Dalem Kolak di Patapan, Labang, Bangkalan. (Foto: R. M. Farhan)
Kompleks Pasarean Sunan Dalem Kolak di Patapan, Labang, Bangkalan. (Foto: R. M. Farhan)

Kembali pada Sunan Dalem Kolak, secara tak sengaja Mata Madura sampai di kawasan pasarean keramat ini saat menelusuri tokoh-tokoh keluarga Sunan Cendana, Kwanyar. Siang itu, sehabis nyalase ke pasarean Wali Akbar di Kwanyar itu, majalah ini meneruskan perjalanan menyisir tepi Selatan Madura Barat. Tujuannya mencari jejak keluarga Cendana yang kabarnya banyak esareyagi di kecamatan Labang, tepatnya di desa Sukalela. Kabar itu didapat dari hasil silaturrahim pada salah satu lora di dekat kawasan pasarean Sunan Cendana.

Sekitar sepuluh menit perjalanan mobil, majalah ini sampai di sebuah tanjakan yang di sisi kanan jalan merupakan masjid. Setelah bertanya sebentar, Mata Madura sampai di sebuah jalan kecil bercabang. Sesuai petunjuk, majalah ini belok ke kanan menuju arah Timur. Jalan itu putus. Kami pun menaiki tangga yang di ujungnya sebuah gapura bertuliskan Sunan Dalem Kolak. Nama yang juga tertulis di mulut jalan bercabang tadi.

Setelah mencapai puncak anak tangga, tampak area pemakaman kuna di sebuah kompleks yang cukup luas. Di sana ada sebuah mushalla kecil. Beberapa meter di depan mushalla, terdapat area makam yang dipagari batu bata. Di area itu terdapat belasan makam kuna yang berjejer memanjang. Makam-makam itu tanpa kijing. Hanya batu nisan berukuran cukup besar yang ditutupi kain putih. Setelah ijin pada penjaga makam, majalah ini membuka kain penutup untuk mendapatkan petunjuk. Benar saja, setelah terbuka beberapa nisan memiliki pahatan tulisan tentang nama ahli kubur. Tulisan arab. Hanya saja, dari tahun yang tertulis di nisan tidak sampai satu abad. Yakni 1262, yang dipastikan merupakan tahun Hijriah. Sehingga ada dua kemungkinan: pahatannya yang baru, atau sekaligus batu nisannya. Pasalnya, jika merujuk pada nama yang tertulis, paling tidak seharusnya nisan itu berusia lebih dari dua abad.

Angka 1262 itu di salah satu nisan yang bertuliskan nama Kiai Selase. Beliau ini merupakan suami Nyai Selase, di Petapan, cucu Sunan Cendana. Sunan Cendana diperkirakan hidup di paruh kedua 1500-an hingga paruh pertama 1600-an Masehi.Nah, di area itu juga terletak pasarean Sunan Dalem Kolak. Model batu nisannya juga sama. Sehingga kemungkinan usia batu nisan sang Sunan juga sama: yakni ada dua kemungkinan.

Asal-usul

Hampir setiap orang yang bisa ditemui di area pasarean Sunan Dalem Kolak tidak bisa menjelaskan mengenai tokoh ini. Riwayat turun-temurun yang tumbuh di sekitar pasarean hanya sebatas informasi keterangan nama. Di samping itu yang diketahui warga sekitar ialah beliau itu orang wali, ulama besar, atau buju’ karamat.

Super sedikitnya info tentang tokoh ini menarik Mata Madura untuk menelusuri lebih lanjut. Majalah ini lalu teringat pada nama Sunan Dalem dari Giri Kedaton. Sunan Dalem Giri merupakan salah satu putra dari Kangjeng Susuhunan Giri, Sultan Prabu Satmata, Raja Pertama Giri sekaligus salah satu tokoh Wali Sanga. Sunan Dalem merupakan pengganti Sunan Giri, yang bergelar Sunan Giri ke-II.

Hanya saja, pasarean Sunan Dalem bin Sunan Giri berada di kompleks Pasarean Giri, di Gresik. Makamnya berkumpul satu kompleks sesaudara, yaitu putra-putri Sunan Giri.Sunan Dalem mulai memegang peranan di Giri Kedaton sejak tahun 1506 Masehi, atau sezaman dengan Sultan Trenggana di kesultanan Demak Bintara.

Dugaan yang muncul bahwa Sunan Dalem Kolak adalah Sunan Dalem putra Sunan Giri ke-I berdasar setidaknya pada dua alasan. Pertama, sebutan Kolak. Meski saat ini nama Kolak itu menjadi nama kampung di lokasi pasarean Sunan Dalem Kolak.

Sebutan Kolak itu seperti terkait dengan tradisi yang dinisbahkan kepada Sunan Dalem, yakni buka puasa dengan “Kolak Ayam” yang dilaksanakan setiaptanggal 23 Ramadhan atau yang lebih dikenal juga dengan istilah “Sanggring”. Tradisi lokal ini hingga saat ini hidup di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Nah, menurut sebagian warga di Kolak, Sukalela, Sunan Dalem Kolak juga memiliki riwayat yang sama, yakni berbuka puasa dengan kolak ayam.

Tradisi lokal di Gumeno, Gresik itu terjadi setelah Sunan Dalem hijrah ke sana selama beberapa lama. Sehingga tak menutup kemungkinan Sunan Dalem juga pernah ke Madura. Mengingat banyak keluarga Giri Kedaton yang menetap di pulau garam.Nah, alasan kedua terkait erat dengan hal itu.

Seperti diketahui, banyak tokoh-tokoh ulama besar dan pembesar di Madura yang berasal dari dalam tembok Giri Kedaton. Contoh besarnya ialah, Sunan Cendana, yang sebelumnya bernama Pangeran Senapati Purnajaya atau Purnajiwo. Ibunda Sunan Cendana, Ratu Gede Kedatun ialah putri Sunan Kulon, saudara kandung Sunan Dalem. Contoh lainnya ialah Pangeran Khathib Mantu, saudara Ratu Gede Kedatun. Lalu juga ada Pangeran Ronggo, di Nepa, ayahanda Syarifah Ambami alias Ratu Ibu Bangkalan. Dan banyak yang lainnya.

Sehingga dari kedua alasan itu hampir bisa diasumsikan secara tepat, Sunan Dalem Kolak merupakan orang yang sama dengan Sunan Dalem Giri. Apakah berarti makamnya ada dua? Tentu yang lebih kuat ialah makam yang ada di Giri. Mungkin, makam beliau di Kolak merupakan petilasan beliau, yang lambat laun dikeramatkan warga. Hal yang biasa terjadi pada pribadi beberapa tokoh besar lainnya. Itulah sebabnya, banyak anak-cucu Sunan Cendana yang dimakamkan di area tersebut. Wa Allahu a’lam.

R B M Farhan Muzammily

Tinggalkan Balasan