Menu

Sunhiyah, Tokoh Sumenep Award 2017 Kategori Wanita Inspiratif

  Dibaca : 217 kali
Sunhiyah, Tokoh Sumenep Award 2017 Kategori Wanita Inspiratif
Sunhiyah, Tokoh Wanita Inspiratif dalam Sumenep Award 2017.
Link Banner

 

Sunhiyah, Tokoh Wanita Inspiratif dalam Sumenep Award 2017.

PERJUANGKAN RUANG NYAMAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

MataMaduraNews.comSUMENEP – Sunhiyah yang biasa dikenal dengan sapaan Achoe, lahir di Sumenep tanggal 02 januari 1973. Aktivis perempuan ini menempuh pendidikan MI, MTs dan MA, di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, karena ia memang lahir dan tumbuh dilingkungan pondok pesantren tersebut. Sejak MTs kegelisahannya untuk beraktivitas mulai tumbuh mengingat pondok pesantren tidak begitu memberi banyak ruang untuk perempuan. Dengan gagasan dan kegigihannya pada tahun 1988 saat masih di bangku MA, ia berhasil membentuk OSIS dan struktur pengurus putri pertama di lingkungan pesantren dan diikuti oleh semua komplek yang ada di Ponpes Annuqayah.

Terinspirasi dari ibu yang cerdas namun tidak berkesempatan memperoleh pendidikan yang layak, tapi berkeinginan kuat agar anak-anak perempuannya memperoleh pendidikan yang tinggi, maka tahun 1991 Achoe menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan jurusan Bimbingan Konseling Islam yang berdasar betapa sulitnya untuk membuat atau menciptakan ruang tutur yang nyaman bagi perempuan Madura. Sehingga, pasca sarjanapun ia tempuh dengan jurusan linier dan di kampus yang sama.

Ketertarikannya terhadap isu perempuan tidak hanya ia pelajari di jalur pendidikan formal, tapi ketika menjadi mahasiswa Achoe juga aktif di teater dan terlibat aktif di banyak kajian serta diskusi terkait isu perempuan atau feminisme dan bahkan kajian tentang post modernisme. Perspektif gerakan perempuan ia banyak peroleh setelah menempuh pendidikan informal, yakni Sekolah Analisis Gender dan juga ketika aktif menjadi Koordinator Pusat Kajian Gender di PMII Cabang Yogyakarta.

Sebagai pengelola pondok pesantren, tentu tidak bisa lepas dari tugas utamanya mengabdikan diri untuk mengajar atau menjadi tenaga pendidik. Namun selain itu, Achoe sadar bahwasanya pesantren juga merupakan salah satu rujukan masyarakat dalam mengambil keputusan, sehingga ia juga menjadi salah satu penggagas berdirinya Lakpesdam NU Sumenep di mana ia berpikir pola gerakannya seperti model LKPSM Jogja dengan membuat paralegal santri untuk mendampingi kasus ataupun advokasi nonletigasi.

Sunhiyah (Achoe), dalam peringatan Hari Perdamaian Dunia 2017: Perempuan Berdaya, Komunitas Damai.

Menurutnya, orang yang berpendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk memajukan negara. Makap pada tahun 1999, ia juga menjadi anggota KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) yang waktu itu banyak digagas oleh aktivis perempuan Indonesia seperti Wardah Hafidz, Lie Marcuse, Ratna Batara Murti, dan lainnya. Kemudian pada tahun 2000 ia tergabung di INVOLVEMENT (Indonesian Volunteer for Social Movement) sebagai salah satu model gerakan sosial bersama INSIST (lembaga yang foundingnya dari Jerman). Bahkan, pada tahun 2001 ia juga mampu mengaktifkan komunitas perempuan nelayan di Jakarta Utara yang merupakan salah satu balai perempuan KPI dan tahun 2002 ia bekerja di Yayasan PEKERTI (Perempuan Perkotaan Indonesia).

Pada 2003, Achoe juga berhasil membentuk KPI Sumenep dengan beberapa balai perempuan di 14 kecamatan se-Kabupaten Sumenep dan menjadi Sekcab KPI Sumenep dari Tahun 2003 – 2007. Selama masa kepemimpinannya banyak sekali gerakan advokasi kasus perempuan yang dilakukan mulai dari trafficking, buruh migran yang hilang dan pendidikan buat komunitas perempuan baik kelompok nelayan, petani, dan buruh migran. Bahkan, advokasi kebijakan ia kawal dari tahapan RUU, seperti sekarang terkait kebijakan usia menikah. Kemudian pada tahun 2008 – 2012, ia menjadi presidium KPI Wilayah Jatim dan tergabung pada Yayasan Perlindungan Hak Anak. Ia juga menjadi fasilitator pada tingkatan Nasional dan menjadi volunteer di beberapa daerah di Indonesia mulai Aceh, NTB, Lampung, Bandung, Sumatera Barat dan Sulawesi Utara.

Achoe berpikir bahwa perempuan harus bergerak dinamis sejalan dengan perubahan jaman. Dan melihat persoalan anak saat ini _khususnya di Sumenep, juga semakin kompleks, maka ia melanjutkan proses belajarnya hingga jenjang S3 sejak tahun 2015 hingga sekarang yang konsentrasinya pada pendidikan anak usia dini.

Selain ibu, neneknya juga menjadi sumber inspirasi yang dengan kegigihannya membeli tanah untuk medirikan pesantren Annuqayah. Ia pun jadi mengimpikan mendirikan Rumah Layak Anak yang mampu memberikan alternatif pendidikan rumah ramah anak & perlindungan khusus anak. Terbaru, dengan membentuk dan mendampingi komunitas damai di beberapa desa melalaui BPM Annuqayah bersama Wahid Institute beserta UN Women, ia berhasil menjadi salah satu yang menyukseskan Hari Perdamaian Internasional 2017 pada bulan Oktober 2017 yang dihadiri langsung oleh Presiden RI. Melihat perjuangan dan kegigihannya selama ini terhadap kemanusiaan dan emansipasi perempuan, sudah sangat layak jika Pemerintah Kabupaten Sumenep memberi penghargaan baginya sebagai Tokoh Wanita Inspiratif.

| Tim Penilai Sumenep Award 2017 Kategori Tokoh Wanita Inspiratif

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional