Syukur dan Istrinya Bebas, Mathur: Penangkapannya Janggal

Syukur, Ketua MCW (depan) berselfi saat teman seperjuangannya menyambut kebebasan. foto for Mata Madura
Syukur, Ketua MCW (depan) berselfi saat teman seperjuangannya menyambut kebebasan.
foto for Mata Madura

MataMaduraNews.comBANGKALAN-Mathur Husyairi, Ketua LSM Jaka Jatim menilai penangkapan Syukur, Ketua Madura Corruption Watch (MCW) oleh Satreskoba Polrestabes Surabaya, Rabu (26/7/2017), ada kejanggalan.

Menurut Mathur, dalam operasi gabungan yang terdiri dari Satresnarkoba, Satsabhara, dan Satpol PP Surabaya itu, tidak ditemukan barang bukti Narkoba di kamar Syukur.

“Dalam operasi itu, Syukur dan isteri sirinya (Novitasari Rahma Sistianik,red.) hanya tidak memiliki surat nikah. Mestinya cukup diamankan ke kantor Satpol PP, bukan ke Mapolrestabes Surabaya,” terang Mathur, kepada MataMaduraNews.com, Jumat (28/7/2017) siang.

Mathur mengakui perempuan cantik  warga Sukomanunggal yang sekamar dengan Syukur merupakan isteri siri Syukur. Kata Mathur, sebelum operasi terjadi siang hari, Syukur dan Novitasari, baru selesai makan dan minum obat asam urat.

“Syukur memang lama indekos di Surabaya. Saat digeledah itu, tidak ditemukan barang bukti Narkoba di kamar Syukur. Tapi kenapa kok digelandang ke Mapolrestabes dan dites urine,” tanyanya.

Tidak lama di Mapolrestabes Surabaya, Syukur dan isterinya bisa menghirup udara bebas, terhitung Kamis (27/7/2017), siang.

Syukur dijemput koleganya, Fauzi, sejak pukul 12 .00 WIB. Kades Kokop, Kecamatan Kokop, Bangkalan ini sengaja menjemput Syukur dan mengajak ke daerah Jombang dalam acara keluarga.

“Sekitar pukul 21.30 WIB, Syukur tiba di kediamannya, Jalan Bromo, Mlajah, Bangkalan. Saya dan sejumlah teman-teman aktivis lainnya, menemuinya dan bicara banyak hal soal penangkapannya,” tambah Mathur.

Kebebasan Syukur terjadi setelah  Polrestabes Surabaya berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya.Sayang BNNK Surabaya tidak mengeluarkan surat resmi kepada Syukur terkait temuan zat yang mengandung matafetamin dan benzo.

“Saya berharap Syukur bisa mengantongi surat resmi dari BNNK Surabaya bahwa zat yang mengandung metafetamin dan benzo berasal dari jamu. Bukan Narkoba. Sayang, Syukur tidak dikasih surat resmi itu. Tapi disuruh pulang. Dan mulai tadi malam hingga sekarang, Syukur sudah ada di Bangkalan,” jelas Mathur.

Sebagaimana diketahui, Syukur (41) bersama Novitasari  diamankan Polrestabes Surabaya dalam razia, Rabu (26/7/2017).

Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya, AKBP Roni Faisal mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaan, Syukur merupakan Ketua MCW, dari hasil tes urine-nya positif matafetamin dan benzo,” sebut Roni, Kamis (27/7/2017), sebagaimana dikutip surabayatribunnews.com.

Hasil tes urine positif juga ditemukan pada wanita yang satu kamar bersama Syukur saat digrebek, yakni Novitasari Rahma Sistianik (26), asal Jl Simorukun, Simomulyo, Sukomanunggal, Surabaya. Keduanya positif menggunakan zat metafetamin, ametafitamin dan benzo.

Meski tes urine positif, polisi tidak menahan Syukur dan Novitasari. Keduanya harus menjalani rehabilitasi.

Roni mengatakan, pemakai narkoba dan dilakukan proses rehabilitasi itu sudah sesuai prosedur yang berlaku.

Roni juga menegaskan, razia akan terus dilakukan di Surabaya. Tujuannya menekan angka peredaran narkotika yang ada di Kota Pahlawan.

Untuk sasaran, lanjut Roni, razia akan gencar dilakukan di tempat-tempat kos, homestay apartemen, dan tempat hiburan malam.

Karena tempat tersebut kerap ditemukan adanya transaksi narkoba.

“Kami tidak akan berhenti melakukan razia, ratus dilakukan dan tempatnya pindah-pindah. Razia dilakukan secara masif dengan instansi lainnya,” ucap Roni.

Syukur saat proses pemeriksaan tes urine dalam razia di kos Jl Sriwijaya mengaku, dirinya bukan pemakai narkoba atau zat narkotika lainnya.

“Saya bukan habis memakai (narkoba), habis keluar makan dan langsung ke kamar,” aku Syukur di tempat kos Jl Sriwijaya.

Sumber: surabaya.tribunnews.com

Agus, Mata Bangkalan

Tinggalkan Balasan