Tarekat dan Mursyid Tarekat dalam Masyarakat Madura (1)

Martin van Bruinessen
Martin van Bruinessen

Oleh: Martin van Bruinessen*

Tarekat atau persaudaraan sufi Muslim, telah memainkan peranan penting tapi hampir tidak terdokumentasi dalam masyarakat Madura. Informasi di dalam sastra pra-kemerdekaan Belanda hampir tidak menyebutkan nama-nama persaudaraan sufi tersebut (Schrieke 1919, 1920). Sementara studi etnografi baru-baru ini (Jordaan tahun 1985, Mansurnoor 1990, de Jonge 1988, Touwen-Bouwsma 1988) hanya memberi kita sekilas informasi tentang keberadaan dan pentingnya tarekat dalam masyarakat Madura. Terdapat juga beberapa sumber tertulis lain yang membahas tentang wacana ini. Sangat sedikit guru tarekat Madura pernah menulis tentang persaudaraan sufi (tarekat) mereka (yang paling produktif dan informatif dari mereka adalah Habib Muhsin Aly Alhinduan- seorang keturuanan Arab yang mengajar di Madura).

Sebuah kontroversi di kalangan orang Madura melibatkan tarekat penting di Jawa Timur, yakni Tijaniyah yang dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan pemberitaan luas oleh pers nasional, seperti yang terjadi pada lebih dari satu dekade sebelumnya mengenai konflik yang melibatkan Kiai Musta’in Romly dari Jombang, Seorang keturunan Madura yang hingga saat ini menjadi mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Jawa Timur dan Madura yang paling berpengaruh. Selain itu, terdapat beberapa hal ‘rahasia umum’ yang membahas tentang pentingnya tarekat di kalangan orang Madura dan masyarakat Indonesia lain pada umumnya, namun jarang dipublikasikan.

Tulisan ini memiliki tujuan sederhana: untuk membuat penelitian singkat mengenai tarekat dan para mursyid tarekat di Madura, memberi sketsa perkembangan tarekat tersebut, meneliti beberapa karakteristik unik yang membedakan pengikut tarekat di Madura dengan tempat lain, serta menjelaskan konflik yang timbul di dalam tarekat –seperti sudah disinggung sebelumnya- dan meletakkan mereka ke dalam peta politik yang lebih luas. Karena saya (Martin van Bruinessen) tidak memiliki waktu yang cukup panjang untuk melakukan penelitian di lapangan, maka saya harus menahan diri untuk melakukan analisis yang lebih tajam. Sumber utama informasi saya terdiri dari serangkaian wawancara dengan guru tarekat di Madura, para pengikut tarekat, serta beberapa informan lain yang bersedia berbagi informasi. Di sisi lain, saya tidak akan membatasi pembahasan saya hanya di pulau Madura saja tetapi juga memperhitungkan Jawa Timur, Jakarta dan Kalimantan Barat juga.

Terdapat tiga tarekat yang paling mencolok di antara orang Madura adalah Naqsabandiyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan Tijaniyah. Tarekat terakhir ini, dewasa ini mengalami kemajuan cukup signifikan, hingga sampai batas tertentu ‘mengalahkan’ yang kedua. Saya tidak berani membuat perkiraan jumlah pengikut masing-masing, tapi seperti terdapat kesan bahwa tarekat Naqsabandiyah masih memiliki pengikut paling banyak, dan diikuti oleh Tijaniyah.

Hal ini menjelaskan bahwa terdapat perubahan mencolok dari situasi tiga perempat abad yang lalu, ketika Schrieke membuat pertanyaan pada subjek yang sama. Informan mengatakan kepadanya bahwa Qadiriyah (atau mungkin berarti Qadiriyah wa Naqsabandiyah) memiliki ‘sangat banyak’ pengikut sementara pengikut Naqsabandiyah cukup sedikit. Sedangkan Syattariyah -tarekat yang banyak dan cukup mudah menampung tradisi dan kepercayaan lokal- juga memiliki banyak pengikut, meskipun bukan yang paling banyak (Schrieke 1919). Situasi saat ini, sekilas mencerminkan adanya pergeseran ke arah ortodoksi yang lebih ketat. Tarekat Naqsabandiyah yang menyebar ke Madura, dikenal lebih berorientasi syariah daripada kebanyakan tarekat lainnya. Sedangkan Tijaniyah, sering dikritik karena dianggap memiliki beberapa keyakinan yang kontroversial. Kontroversi tersebut memiliki banyak aspek kesamaan dengan gerakan reformasi Islam. Baik Naqsabandiyah dan Qadiriyah wa Naqsabandiyah pertama kali memasuki Madura sekitar pergantian abad; sedangkan Tijaniyah datang beberapa dekade kemudian, dan Qadiriyah diperkirakan telah hadir di Madura pada waktu sebelumnya. Hal ini terlihat dari adanya kultus terhadap para guru tarekat pengikut SyekhAbd al-Qadir al-Jilani di banyak tempat di Nusantara (Asmoro 1926: 252; lih van Bruinessen 1989).

Tetapi bagaimanapun, kami tidak memiliki informasi kuat tentang nama mursyid, atau pusat tarekat Qadiriyah, serta tidak ada indikasi tentang suatu ritual tertentu yang dapat diasosiasikan sebagai tarekat Qadiriyah. Hal yang sama berlaku bagi Syattariyah; adalah mungkin bahwa masih ada guru tarekat Syattari di suatu tempat di Madura atau di kalangan penduduk Madura di Jawa Timur, tetapi disinyalir tidak memiliki banyak pengikut.
Pengaruh dari ide mistis Syattariyah mungkin masih hidup karena tarekat ini banyak menggabungkannya dengan praktek mistis dan magis yang populer di Madura. Tetapi apapun itu, spiritualitas tarekat Syattariyah sulit untuk dipisahkan dari keseluruhan ide magis yang berkembang di masyarakat. Namun tarekat lain rupanya meninggalkan jejak mendalam terhadap budaya populer Madura, meskipun budaya tersebut dikenal tidak dalam kapasitasnya sebagai bagian dari praktek tarekat tersebut. Hiburan yang dulu populer disebut Ratep (Ar. ratib) dan Samman (cf Bouvier 1989: 217, 221-2) kemungkinan berasal dari ritual tarekat Sammaniyah, yang terkenal di banyak bagian di Nusantara pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Hiburan serupa dengan menggunakan nama yang sama juga dikenali di Aceh dan Banten, pada umumnya dikaitkan dengan kehadiran tarekat Sammaniyah di masa sebelumnya (Snouck Hurgronje 1894: 220-5).
bersambung…
*Tulisan ini disadur dari hasil penelitian Martin van Bruinessen, yang berjudul, ‘Tarekat and Tarekat Teachers in Madurese Society’ yang dipublish dalam buku Across Madura Strait: The Dynamics of an Insular Society. Leiden: KITLV.Press, 1995, di halaman 91-117.

Tinggalkan Balasan