Tari Sorong Ka Sereng Sampang, Berakar Kalangan Pesisir

Kesenian satu ini hanya ada di Kota Bahari. Ia juga berasal dari bahari. Dicipta oleh anak-anak bahari. Sifat bahari pun menyatu dengan seni tradisional ini. Nyaghara, kata orang sepuh di sini. Apa pasal? Kenyataannya, kini, seni ini “membahari” di tengah-tengah bagian kerasnya bumi. Darat dan laut, menari, menyukuri karunia Ilahi.

SENI TARI TRADISIONAL SAMPANG: Tari Sorong Ka Sereng yang berakar pada kalangan pesisir Sampang. (Foto Istimewa/Gerbang Madura)
SENI TARI TRADISIONAL SAMPANG: Tari Sorong Ka Sereng yang berakar pada kalangan pesisir Sampang. (Foto Istimewa/Gerbang Madura)

MataMaduraNews.comSAMPANG – Madura kaya dengan ragam seni dan budaya. Pulau ini memang unik. Terdiri dari empat kabupaten, Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Di masa lampau, sedikitnya ada tiga bagian wilayah di Madura. Yaitu Madura Timur (Sumenep), Pamellengan (Pamekasan), dan Madura Barat (Sampang). Istilah Bangkalan muncul belakangan.

Uniknya, meski satu bahasa ibu, namun memiliki logat berbeda. Bahasa ini juga tergolong bahasa sulit bagi yang baru belajar menggunakannya. Tak hanya ejaan, kesulitan bahasa ini juga pada pelafalannya. Hal itu disebabkan, bahasa ini juga bahasa nada. Ambil saja contoh kata “baja” dalam bahasa Madura. Maknanya ada empat. Belum lagi fungsi pentingnya tanda “bhisat”. Sebuah uji coba kecil-kecilan membuktikan bahwa belajar bahasa Madura jauh lebih sulit dibanding belajar bahasa asing internasional: Inggris, dan Arab.

Kembali pada seni dan budaya, mengingat letak pulau ini yang dikelilingi laut, tak sedikit yang berkaitan dengan permukaan bumi terluas itu. Salah satunya seni tari Sorong ka Sereng.

***

Di jaman dahulu, wilayah Sampang membentang hingga ke ujung barat Pulau Garam. Pemerintahan Madura Barat di abad 17 Masehi juga berpusat di Sampang, mengacu pada pelantikan Raden Prasena sebagai Cakraningrat I di tahun 1624 M. Keratonnya di Madegan. Wilayah yang kini menjadi lokasi situs Rato Ebu (Ratu Ibu) Madegan. Rato Ebu Madegan adalah ibunda Prasena. Sementara sebutan Bangkalan baru ada di paruh kedua kurun 1700-an, yaitu di masa Cakraadiningrat V atau Sido Mukti, pasca peristiwa Ke’ Lessap.

Sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat pemerintahan, di Kota Bahari ini, banyak dijumpai peninggalan sejarah, budaya, maupun tradisi. Di situ banyak dijumpai situs sejarah; seperti situs Pababaran Trunajaya, situs Rato Ebu Madegan, situs Pangeran Santo Merto (pengganti sementara kevakuman pemerintahan di Madura Barat pasca invasi Mataram ke Madura), situs Bangsacara dan Ragapatmi, dan lainnya. Begitu juga tradisi pengantin Blabar, kesenian Daul Dug-dug, Rokat tase’, dan lainnya, termasuk tak terkecuali seni tari Sorong ka Sereng.

SENI TARI TRADISIONAL SAMPANG: Tari Sorong Ka Sereng yang berakar pada kalangan pesisir Sampang. (Foto Istimewa/jawatimuran.net)
SENI TARI TRADISIONAL SAMPANG: Tari Sorong Ka Sereng yang berakar pada kalangan pesisir Sampang. (Foto Istimewa/jawatimuran.net)

Seni tari Sorong ka Sereng ini lahir di Sampang. Kota Bahari. Dulu, tarian ini dimainkan anak nelayan saat air laut pasang. Yaitu ketika para anak itu membantu para orang tuanya menurunkan ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebuah ekspresi kegembiraan atas rezeki dari laut yang diberikan oleh Sang Kuasa.

Istilah Sorong ka Sereng itu bermakna dorong ke pesisir. Mereka beramai-ramai turun ke laut. Gembira ria, bermain tari-tarian, membantu, sekaligus bersyukur. Terlihat saat mereka membantu mendorong muatan berisi ikan itu ke pesisir.

Mengutip jawatimuran.net, konon, dengan menggunakan wadah bakul yang difungsikan sebagai alat untuk menurunkan ikan dari perahu ke daratan, anak-anak terus bergerak menurunkan hasil tangkapan. Gerakan-gerakan anak-anak ini sungguh menjadi pesona sendiri. Maka, dari tradisi inilah, kemudian muncul tarian Sorong ka Sereng yang diartikan sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil tangkapan ikan yang melimpah. Tari ini menonjolkan gerakan dinamis, ekspresif dan menunjukkan ekspresi kesenangan masa anak-anak.

Dalam perkembangannya, tingkah laku anak-anak ini dikenal dengan sebutan tari Sorong ka Sereng yang dikombinasikan dengan pakaian baju adat Madura dan sarung bermotif batik khas Sampang.

Tari Sorong ka Sereng ini juga lantas tak hanya dimainkan oleh anak-anak nelayan saja, tapi seringkali pula ditampilkan dalam even yang dihadiri oleh pejabat. Seperti tari-tarian lain yang ada di Madura, Tari Sorong ka Sereng juga diiringi dengan alunan musik khas Madura yang disebut Saronen.

Kini untuk melengkapi keelokan daan kekhasan Madura, penari juga dihiasi aneka pernak-pernik pakaian seperti bunga yang dikenakan sanggul kepala, serta gelang di bagian kaki kiri, ditambah kombinasi pakaian khas bermotif batik Sampang. Banyak kalangan berharap batik-batik Sampang padu padan dengan tarian ini dengan menampilkan fragmentasi suasana anak-anak nelayan tersebut.

”Unsur dari sebuah kesenian itu banyak. Bila seni tari, unsurnya bu­kan hanya gerakan indah, tapi juga busana dan aksesoris lain. Karena itu, akan lebih hebat lagi bila kesenian ini didukung seni batik untuk menyiapkan busananya, atau motif-motif lain untuk aksesorisnya,” kata Abdussomad, warga Sampang, dalam situs di atas.

Dan tentu saja musik. Gerakan gemulai penari tak bisa lepas dari irama musik. Kedua tangan penari sesekali terlempar gemulai seiring alunan musik Saronen. Intan, salah seorang penari Sorong ka Sereng, mengaku senang bisa “nguri-uri” budaya leluhur. Selain itu, kesenian bisa menghaluskan budi sebab ada olah rasa. Meski orang Madura dikenal memiliki karakter keras, tapi bisa diimbangi dengan berolah rasa. ”Seneng saja, Mas. Selain saya bisa memahami budaya sendiri, Tari Sorong ka Sereng ini pernah menjuarai kejuaraan tari tingkat regional Jawa Timur,” terang Intan (20), satu penari asal Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Kota Sampang, melansir jawatimuran.net.

| han

Tinggalkan Balasan