Ter-Ater, Tradisi Terpelihara di Sumenep

Oleh: Sri Indriyana*

Sri Indrayana, Guru SDN di Kabupaten Sumenep. Foto Sri for Mata Madura.
Sri Indrayana, Guru SDN Sera Timur, Bluto,  Sumenep. (Foto Sri for Mata Madura)

Sebutan “Pulau Garam” dengan lautan tidak bertepi dan daratan yang menawarkan panorama alam yang eksotik bagaikan mutiara ternyata menyimpan beragam tradisi luhur yang masih terpelihara sampai saat ini. Di antaranya tradisi “Ter-ater” yang masih terjaga dan masih bisa kita lihat di Kabupaten Sumenep. Walau tidak menutup kemungkinan tradisi serupa di belahan lain pulau Madura dengan nama berbeda juga ada di sana.

Ter-ater dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “Hantaran”. Tradisi  ini sering dilakukan masyarakat Sumenep pada hari-hari tertentu, seperti pada perayaan hari raya keagamaan umat Islam atau pada momen tertentu saat seeorang mempunyai hajatan pernikahan, sunatan. Makanan yang biasanya jadi menu ter-ater itu berupa masakan yang terdiri dari nase’ rasol (nasi yang ditata di atas piring menyerupai parabola), gulai daging, beragam lauk pauk, dan sepiring kue lengkap dengan secangkir teh atau kopi.

Ter-ater ini biasanya diantarkan kepada keluarga dekat, tetangga, kiai yang dituakan, dan tokoh masyarakat dengan tujuan sesuai jenis ter-ater tersebut, yang di antaranya dapat dijabarkan sebagian berdasarkan waktunya yaitu:

 

  • Ter-ater Sora

 

Ter-ater ini dilakukan pada bulan sora (Madura) atau bulan muharram. Khusus pada waktu ini, ter-ater berupa tajhin sora yaitu bubur beras dengan lauk dan kuah atau berupa nasi ketan dengan taburan kelapa parut sangrai dan lauk di atasnya.

  1. Ter-ater Sappar
    Pada bulan shafar umumnya masyarakat Sumenep membuat ter-ater dengan menu tajhin sappar yaitu bubur sumsum dan bubur candil dari tepung ketan. Ada pula sebagian yang membuat dodol merah putih.
  2. Ter-ater Tellasan Topa’
    Ter-ater ini biasanya dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri dengan menu berbahan dasar ketupat seperti soto atau ketupat lodeh.
  3. Ter-ater Salekoran
    Ter-ater ini dilakukan menyambut hari sepuluh terakhir bulan ramadan pada hari kedua puluh sampai menjelang malam dua puluh satu bulan ramadan. Menu yang menjadi hantaran berupa nasi rasol, kue serabi kuah santan, dan bermacam lauk pauk.
  4. Ter-ater Rebba
    Khusus pada ter-ater ini waktunya tidak tertentu, tetapi biasanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis sore dengan tujuan sebagai sedekah keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang melakukannya setiap ada undangan hajatan.

    Tradisi Ter-Ater di Madura. Foto: Kompas.com.
    Tradisi Ter-Ater di Madura.
    Foto: Kompas.com.

Tradisi ini banyak dijumpai terutama di daerah pedesaan, sehingga pada saat dilakukan bersamaan, contohnya pada saat Hari Raya Idul Fitri, maka di jalan banyak para ibu dan remaja putri menjunjung nampan saling mengantarkan masakannya ke rumah famili atau guru ngaji. Tetapi, hal penting yang menjadi catatan meskipun tradisi ter-ater dilakukan bersama-sama, pantang bagi orang yang melakukannya untuk menukar ter-ater milik orang untuk diantarkan kembali kepada orang yang berbeda. Sebab jika sampai ketahuan, pelakunya akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat sebagai pelaku penghinaan. Karena hantaran yang diberikan adalah bentuk penghargaan dari penghantar kepada orang yang mendapat hantaran. Jadi, apapun yang diberikan harus dinikmati sebagai balasan penghormatan.

Tradisi ini mengandung pengajaran luhur tentang pentingnya menjaga sebuah hubungan baik kekerabatan, teman, bertetangga, dan hubungan antara guru dan murid dengan semakin banyaknya intensitas pertemuan. Bahkan melebihi hal tersebut di atas, hubungan dengan keluarga yang sudah meninggalpun tetap diingat melalui Ter-ater Rebba. Jadi, tradisi ini sudah merupakan perekat yang dibuat para leluhur untuk tetap menjalin silaturrahmi dari generasi ke generasi berikutnya.

*Guru SDN Sera Timur, Bluto, Sumenep

Tinggalkan Balasan