Toko Tiara, Bangkit dari Keterpurukan Berkat Suntikan Modal BPRS

Bangkit dari keterpurukan tentu bukan hal mudah bagi Giyanto. Untungnya, dalam upaya lelaki asal Solo itu berdiri kembali membangun usaha yang pernah mencapai kejayaan, ada BPRS Bhakti Sumekar menyambut dengan suntikan modal.

BANGKIT: Toko Tiara, Pasar Jangara, Paberasan, Sumenep. (Foto Rafiqi, Mata Madura)
BANGKIT: Toko Tiara, Pasar Jangara, Paberasan, Sumenep. (Foto Rafiqi, Mata Madura)

MataMaduraNews.com SUMENEP – Selama 10 tahun lebih, Giyanto menggenggam kesuksesan dalam usahanya. Toko Tiara di Pasar Jangara, Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, yang dirintisnya sejak 2004 sudah bisa meraup omzet Rp 10 juta perhari hingga awal tahun 2015 silam. Barang dagangan berupa sembako dan kebutuhan sehari-hari di masyarakat sekitar menjadi isi dari toko berukuran 5×15 meter itu.

Toko Tiara memanjang ke belakang. Juga ada dua gudang  yang cukup besar, masing-masing berukuran antara 6×12 meter. Kata Giyanto, toko yang dibangunnya dengan modal hasil menjual mobil dan simpanan kerja selama bertahun-tahun itu berdiri di lahan desa tanpa ada uang sewa. ”Ini tanah desa. Jadi, dulu waktu mau bangun cuma izin ke desa dan membayar karcis (retribusi) tiap hari. Gitu aja,” ujarnya, saat ditemui Mata Madura.

Maka wajar, saat renovasi pasar dilakukan oleh pemerintah desa setempat pada tahun 2015 lalu, ia hampir tak bisa apa-apa selain menerima. Toko yang dibuka untung-untungan setelah menekuni dunia kontraktor kemudian menjalankan usaha mobil omprengan/angkot di awal tahun 2000 itu, rata dengan tanah. ”Selama renovasi, saya pindah ke tempat sementara di tengah sawah belakang sana (pasar, red) bersama pedagang dan pemilik toko lainnya,” cerita Giyanto, Selasa, 13 Juni lalu.

Sebenarnya, suami Siti Aisyah itu sangat kecewa. Sebab, selain tidak mendapat ganti rugi, penetapan ukuran bagi setiap pemilik toko ditentukan oleh pemerintah desa dengan sama rata. Semuanya berukuran 3×3 meter dengan harga beli yang tinggi, yakni Rp 37.500.000 perruangan.

Tapi nasib memang tak berpihak pada lelaki Solo yang masuk Madura sejak 1990 itu. Pasalnya, ia tak hanya  kehilangan toko. Menjelang renovasi pasar waktu itu, anaknya mengalami kecelakaan dan harus dioperasi berkali-kali selama enam bulan opname di salah satu rumah sakit di Surabaya. Parahnya, Giyanto dan istrinya pun harus rela kehilangan anak tercinta mereka.

”Terus terang, saya kehabisan modal setelah musibah beruntun itu. Makanya saya mengajukan pinjaman ke BPRS di tahun 2016. Karena selama merawat anak, saya dengan istri tidak kerja, sehingga modal kami habis, bahkan mulai berhutang kemana-mana,” kisahnya penuh haru.

Giyanto, Pemilik Toko Tiara, Pasar Jangara, Paberasan, Sumenep. (Foto Rafiqi, Mata Madura)
Giyanto, Pemilik Toko Tiara, Pasar Jangara, Paberasan, Sumenep. (Foto Rafiqi, Mata Madura)

Berada di titik nol, bahkan minus, tentu bukan hal mudah bagi Giyanto. Untungnya, dalam kondisi hampir stres, ada BPRS Bhakti Sumekar menyambut dengan suntikan modal. Upaya kembali membangun usaha yang pernah mencapai kejayaan berhasil dilakukan meski masih jauh dari kondisi semula. Yang pasti, dengan toko kecil berukuran 3×3 meter yang dimilikinya kini, omzetnya berubah. ”Belum 20 persen dari kondisi dulu, bisa dikata belum stabillah,” ujar Giyanto.

Meski demikian, ayah tiga anak itu sangat bersyukur mendapat bantuan dari BPRS. Ia merasa sangat terbantu dalam kondisi ekonominya yang minus dan hampir putus asa. ”Alhamdulillah, dengan adanya bantuan BPRS sedikit demi sedikit toko saya bisa jalan seperti sekarang,” ungkapnya.

Giyanto mengajukan pinjaman modal Rp 20 juta untuk modal tokonya dan baru melakukan angsuran sebanyak 4 atau 5 kali hingga bulan ini. ”Tapi, waktu itu saya tidak langsung ke BPRS. Saya sempat studi banding produk pembiayaan/pinjaman ke beberapa bank,” jelasnya. Ternyata, dari sistem pinjaman atau produk-produk bank yang ada, BPRS-lah yang paling kena di hati Giyanto. ”Karena istilahnya gak ambil uang, gak pinjam uang. Tapi saya ambil barang,” tambahnya.

Pinjaman modal yang didapat Giyanto dari BPRS murni syariah. Karena yang dilakukan, menurutnya adalah kredit barang, sehingga kerja sama yang terjalin pun tanpa bunga. ”Waktu itu saya mengajukan bantuan pinjaman modal sebesar Rp 20 juta, setelah saya kurs-kan ke barang. Jadi saya mengorder barang, kira-kira saya sudah tahu harganya sebesar itu, dan BPRS yang membayari. Makanya saya dapatnya bukan uang, tapi langsung barang,” tutur Giyanto sambil melayani pembeli yang cukup ramai di tokonya siang itu.

Ia berharap, BPRS tetap mempertahankan program atau produk pembiayaan syariah seperti yang dirasakannya. Sebab ia menilai, produk tersebut sejalan dengan apa yang pelajarinya dalam Islam. ”Produk seperti ini bisa mendukung. Karena kalau pinjam uang dengan bunga dalam agama saya (Islam, red) tidak boleh. Makanya saya pilih cara kredit barang kepada BPRS ini,” tegasnya.

Apalagi, angsuran perbulan dirasakannya tidak sampai memberatkan. BPRS tidak menuntut mitra atau nasabah melakukan pengembalian dari modal yang dipinjam setiap bulannya. Angsuran, kata Giyanto, diambilkan dari keuntungan yang diperoleh nasabah atau mitra dari modal yang dipinjamkan.

Perhitungan Usaha”Setoran saya sekarang itu Rp 1.053.333 (satu juta lima puluh tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah), sementara kalkulasi keuntungan perbulan rata-rata mencapai Rp 3 juta. Jadi untuk setoran ke BPRS itu saya tidak ambil dari modal lagi, tetapi dari keuntungan kerja modal itu,” terangnya.

Dengan omzet hanya sebesar Rp 3 juta perbulan, Giyanto juga sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan kerukunan sosial dalam bermasyarakat. Selebihnya, sedikit demi sedikit ia tambahkan ke modal usaha. Bahkan, dapat mengikis tumpukan hutang yang kini hampir lunas karena dibayar secara rutin selama lebih setahun.

Sedangkan soal kepercayaan Giyanto terhadap BPRS, sebenarnya sudah terjalin sebelum pengajuan modal usaha toko barunya yang dibuka Januari 2016 lalu. Ia bercerita, di awal tahun 2015 sudah pernah mendapat pinjaman modal Rp 20 juta dari BPRS untuk perbaikan lantai toko yang amblas. ”Cuma karena terbentur dengan beberapa musibah waktu itu, akhirnya uangnya saya pakai. Saya mengajukan modal kembali karena pinjaman yang pertama sudah lunas,” pungkasnya.

| inforial

Tinggalkan Balasan