Wisatawan Api Alam Sepi di Bulan Puasa, Bagaimana Rahasia Pedagang Sekitar Bertahan Hidup?

Suasana Wisata Api Alam yang beralamatkan di Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan pada Minggu, 04 Juni 2017. Foto UF for Mata Madura
Suasana Wisata Api Alam yang beralamatkan di Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan pada Minggu, 04 Juni 2017.
Foto UF for Mata Madura

MataMaduraNews.com – PAMEKASAN – Wisata Api Alam yang terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan biasanya tidak pernah sepi dari pengunjung, terutama hari libur seperti Sabtu dan Minggu. Memasuki Bulan Ramadhan, wisatawan mulai berkurang dan malahan sepi. Itu yang terjadi sekarang di Api Alam.

banyaknya pengunjung tersebut membuat masyarakat sekitar yang sudah menjadi pedagang di sekitar area wisata meraup keuntungan yang melimpah. Bagaimana tidak, pendapatan per hari bisa berkisar di angka 15 juta. “Sampai 15, 15 juta hari Minggu sama Sabtu. Tiap harinya itu kalau ngak 5, 4, 3 Juta,” ujar Rumyati (42) saat ditemui MataMaduraNews.com, Minggu (04/06/2017).

Sumyati (42), salah satu pedagang di sekitar wisata Api Alam. Foto Uf For Mata Madura
Sumyati (42), salah satu pedagang di sekitar wisata Api Alam.
Foto Uf For Mata Madura

Di Bulan Ramadhan, pengunjung sangat sepi tidak seperti biasanya. Akbibatnya, beberapa warung dan toko di Api Alam tutup, namun masih ada beberapa yang buka. Hal itu berdampak terhadap pemasukan masyarakat sekitar wisata yang sudah menggantungkan hidupnya terhadap berdagang. “Sebelumnya dan sesudah bulan puasa pasti ramai. Kan oreng ziarah berhenti (di bulan puasa, red),” tambahnya.

Namun, masyarakat Larangan Tokol yang menggantungkan nasibnya dengan cara berdagang tidak pernah risau, sebab pemasukan sebelum 11 bulan sebelum bulan puasa sudah mampu menutupi. Jadi, Bulan Ramdhan diistilahkan waktunya istirahat bagi pedagang di Api Alam tersebut. “Ooo, bisa menutupi kan cuman satu bulan sepinya. Libur satu bulan,” kata perempuan yang sudah berusia 42 tahun itu untuk menyiasati minimnya wisatawan di Bulan Ramadhan.

Syahid, Mata Madura

Tinggalkan Balasan