Wow…Penderita Kusta di Madura Kian Meningkat. Berikut Penjelasan Dinkes Jatim

Sulistiyo Wibowo, Pengelola Program Kusta Dinas Kesehatan Jawa Timur. foto/Samsul, Mata Madura Biro Jatim
Sulistiyo Wibowo, Pengelola Program Kusta Dinas Kesehatan Jawa Timur.
foto/Samsul, Mata Madura Biro Jatim

MataMaduraNews.comJATIM-Penderita kusta di Provinsi Jawa Timur menempati peringkat pertama di Indonesia. Penderita kusta di Jawa Timur berjumlah 3.357 orang berasal dari data yang masuk ke Dinkes Jatim per 1 Januari 2017.

Diantara jumlah penderita itu, kabupaten di Pulau Madura tergolong tertinggi dibanding kabupaten/kota di Jawa Timur. Menurut Sulistiyo Wibowo, Pengelola Program Kusta Dinas Kesehatan Jawa Timur, jumlah penderita kusta di empat kabupaten Madura mengalami peningkatan, walau tidak signifikan.

Dia menyebut, hingga 1 Januari 2017, Kabupaten Bangkalan, ada 273 penderita kusta, Sampang153 penderita kusta. Sedangkan Kabupaten Pamekasan ada 125 penderita kusta dan Sumenep 461 penderita kusta. “Ada peningkatan penderita kusta di Madura. Tapi tidak signifikan,” terang Sulistiyo, kepada Mata Madura Biro Jatim, di kantornya, Jum’at (20/1/2017).

Pada tahun 2017, jumlah keseluruhan penderita kusta di Jawa Timur masih menunggu setoran dari masing-masing kabupaten/kota. Dikatakannya, sampai tri wulan keempat 2016, masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum menyetorkan data. Sehingga ia mengalami kesulitan untuk mengetahui jumlah pasti. Padahal, lanjutnya, data itu harus sudah masuk Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur, per 10 Januari 2017.

“Ada kabupaten/kota yang belum menyetor data. Seperti, Sampang, Pamekasan, Lumajang dan Jember. Semestinya 10 Januari 2017 sudah dikirim kesini,” tambah Sulistiyo.

Dengan jumlah penderita kusta itu, Dinkes Jatim menarget eliminasi (menekan) penderita kusta di Jatim. Dia menjelaskan, setiap 10.000 penduduk minimal pengidap kusta kurang dari 1 orang. Artinya, penduduk 10.000 tidak boleh ada penderita. “Setidaknya, 20.000 penduduk minimal ada 1 orang pengidap kusta,” sebut Pak Tiyo-panggilan akrabnya.

Setelah itu, Mata Madura Biro Jatim berusaha menemui Bapak Dr Kohar Hari, Kepala Dinkes Provinsi Jatim. Sayang, kata stafnya beliau sedang pergi ke Madiun.

Ibu Riska, selaku Staf Humas Dinkes Jatim menambahkan, pegawai Dinkes Jatim selalu berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten/Kota. Hanya saja, terangnya, Dinkes bersangkutan sampai saat ini tidak menyetorkan data. “Saya tidak diam, Mas. Saya selalu menghubungi tiap hari atau tiap bulan. Tapi mereka selalu menunda,” sebutnya, kepada Mata Madura Biro Jatim.

Menurut Ibu Riska, penyebab penderita kusta sulit dihilangkan di Madura. Dia menyebut karena gaya hidup orang Madura kurang baik. “Jika ada saudara menderita kusta malah dibiarkan atau dikucilkan. Sehingga virus itu berkembang di lingkungan tersebut. Mestinya, jika ada keluarga yang kena Kusta langsung bawa ke Puskesmas. Wong untuk penderita kusta pengobatannya gratis kok,” imbuh ibu yang berkaca mata ini.

Reporter: Samsul, Mata Madura Biro Jatim

Tinggalkan Balasan