Menu

3,5 Tahun Fauzi-Eva

3,5 Tahun Fauzi-Eva
Achmad Fauzi dan Nyai Hj. Dewi Khalifa resmi menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumenep Periode 2021-2024, Jumat (26/02/2021). (Foto: IST/Kominfo Sumenep)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.com-Waktu singkat memimpin Kabupaten Sumenep menjadi tantangan tersendiri bagi Fauzi-Eva.

Link Banner

Selain waktu singkat. Ketersediaan anggaran juga bikin pusing. Ini

Solusinya?

Link Banner

Perlu memetakan hal-hal prioritas yang menjadi problem. Lalu melakukan inovasi dengan anggaran yang terbatas.

Apa bisa?

Di Jawa Timur, sejumlah kepala daerah bisa melakukan dengan anggaran terbatas.

Azwar Anas, Bupati Banyuwangi salah satu contohnya.

Bupati Azwar bisa mengubah Banyuwangi dengan APBD Rp 3,3 triliun.

Pendapatan Per Kapita Rakyat-nya melonjak 148% dari 2010-2019.

Ekonomi Kabupaten Magetan juga menggeliat di tengah keterbatasan anggaran.

Bupati Suprawoto punya strategi untuk mendekatkan pelayanan publik dengan pasar-pasar tradisional yang semula lesu.

Kabupaten di ujung barat Jatim ini, bisa membuat banyak kemajuan dengan anggaran sangat terbatas.

Kok bisa? Kuncinya komitmen dan kreatifitas.

Problem Sumenep yang sangat mendesak untuk diatasi adalah pengentasan kemiskinan karena masuk nomor urut dua se Jawa Timur.

Mengentas kemiskinan agar warga Sumenep sejahtera ada banyak hal.

Saya anggapp perludibuat program kebijakan yang menjadi satu kesatuan. Holistik.

Bersyukur, beberapa hari terakhir tersiar kabar rencana Bupati Fauzi yang ingin membuang ego sektoral OPD-OPD dalam merumuskan dan mengimplementasikan program APBD Sumenep.

Biar para tak seenaknya buat program yang penting anggaran terserap.

Program-program antar OPD itu dalam impian Bupati Fauzi diharap bisa mengcover dari hulu hingga hilir. Sehingga tercipta Sumenep Mandiri.

Lalu tak ada lagi program yang parsial. Tumpang tindih.

Apa bisa?

Dari gairah Bupati Fauzi dan Wabup Eva yang secara maraton rapat antar OPD menjadi gambaran impiannya.

Bahkan, Wabup Eva bercita dalam tempo setahun sudah ada produk UMKM Sumenep yang go internasional.

Memang tantangan kepala daerah hasil Pilkada 2020 begitu berat. Efek pandemi covid-19 salah satu problem pengentasan kemiskinan.

Sisi lain, APBD  Sumenep tersisa 20% yang bisa dinikmati masyarakat. Sebanyak 80% terkuras untuk biaya rutin. Seperti kebutuhan pendidikan dan kesehatan serta operasional ASN.

Untuk menyiasati minim anggaran, Bupati Fauzi secara diam-diam membuat Perbup yang mewajibkan belanja Dana Desa untuk pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan warga.

Ada 12 item yang harus dimasukkan dalam APBDes untuk meringankan beban APBD Sumenep. Kepala DPMD Sumenep, M. Ramli membocorkan hal itu. Biar saya urai dalam catatan tersendiri.

Langkah ini tentu sebagai wujud keseriusan Fauzi Eva dalam mengentaskan kemiskinan warga Sumenep.

Anggaran yang masuk ke Sumenep-dari berbagai arah- diarahakan terhadap hal-hal yang urgent dalam mewujudkan kesejahteraan warganya.

Memang, indikator masyarakat sejahtera bisa dilihat dari berapa hal.

Tapi, setidaknya pemerintah harus hadir. Biar tak terkesan rakyat hidup sendiri. Tanpa atensi pemerintah. Sementara pajak terus dipungut.

Juga Kepala daerah perlu ngerti berapa pendapatan dan pengeluaran warganya.

Bagaimana kondisi fasilitas tempat tinggal warganya.

Sejauhmana kemudahan mendapatkan akses pelayanan kesehatan, dan pendidikan serta kemudahan transportasi.

Hal di atas tentu sudah jadi referensi para Tenaga Ahli Bupati yang baru direkrut untuk melakukan gebrakan inovasi program di tengah anggaran terbatas.

Sebenarnya ada harapan Sumenep keluar dari angka kemiskinan nomor urut dua se Jawa Timur setelah Sampang.

Karena sejak 2013 hingga 2018, penderita stunting di Sumenep sudah mengalami penurunan 52,5 persen.

Penurunan stunting yang sangat fenomenal di Indonesia.

Angka ini bisa menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat Sumenep mulai membaik.

Para ibu hamil dan bayi sudah banyak terasupi makanan gizi yang baik.

Kalau tak sejahtera, bagaimana mau mengkonsumsi gizi? hehe

Barangkali penurunan stunting hanya satu bagian dari delapan indikator untuk menyebut masyarakat sejahtera.

Setidaknya, peletakan fondasi inovasi program selama 10 tahun kepemimpinan Bupati Kiai Busyro perlu dijadikan. Sebagaimana pernyataan Bupati Ach. Fauzi saat berpidato di acara purna tugas Bupati Kiai Busyro, 17 Februari lalu.

Singkatnya, ketika masyarakat Sumenep sejahtera dalam tempo 3,5 tahun.

Saya yakin untuk Pilkada Sumenep 2024, Fauzi-Eva sulit ditandingi oleh siapa pun. Karena rakyat Sumenep sudah jatuh hati atas kepemimpinan Fauzi-Eva.

Jika tidak? Perlu usaha berdarah-darah lagi untuk meyakinkan rakyat.

Sumenep 9 April 2021

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Disway

Catatan

Budaya

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: