Menu

Imam Ahman ibn Hanbal Mencari Cinta Ilahi Lewat Bisyri si Telanjang Kaki

Imam Ahman ibn Hanbal Mencari Cinta Ilahi Lewat Bisyri si Telanjang Kaki
ilsutrasi
Link Banner

matamaduranews.comImam Ahmad ibn Hanbal sudah banyak mafhum. Beliau salah satu imam madzhab fiqh yang diakui kealimannya. Karya-karyanya diikuti banyak pengikutnya.

Dalam kisah yang ditulis oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya, Imam Ahmad ibn Hambal yang sempat ditegur oleh sejumlah muridnya karena mengejar-ngejar Bisyri.

Dalam pandangan sang murid, Bisyr seorang yang dikenal oleh masyarakat, laki-laki yang abnormal karena saban hari kakinya bertelanjang saat berjalan.

“ ya …guru. Anda seorang  Imam. Ke’aliman guru disegani penguasa dan masyarakat. Mengapa guru, mengejar-ngejar seorang Bisyri si telanjang kaki, yang dinilai abnormal oleh banyak orang,” protes sang murid kepada sang Imam Ahmad ibn Hanbal.

Apa jawaban sang Imam Ahmad ibn Hanbal? “Benar kata-katamu ya muridku. Memang saya disegani penguasa dan masyarakat  karena penguasaan ilmu-ilmu kitab. Tapi ketahuilah, saya ingin banyak belajar  kepada Bisyri si telanjang, bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah Swt,” jelas sang Imam Ahmad ibn Hanbal, memberi alasan sikap merayu saban waktu kepada Bisyri si telanjang kaki.

Memang dunia tasawuf sebagai jalan mengenal Allah Swt, keberadaannya penuh misteri karena harus keluar dari dunia syahwat. Termasuk kehidupan selebritas, sebuah kehidupan yang dilalui al-Ghazali dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Dalam sejumlah kitab tasawuf dijelaskan, bagaimana seseorang bisa menjadi kekasih yang dicinta (Allah Swt, Red.), apabila kehidupan yang dilalui penuh ghairah selain objek yang dicinta (Allah Swt). Nilai cintanya menjadi gombal karena harus membagi dua objek untuk dicintai.

Siapa Bisyr Si Telajang Kaki?

Bisyr bin Harits memiliki nama lengkap Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi. Beliau lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi.

Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari Hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki.

Bisyr meninggal di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh khalifah al-Ma’mun.

Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya, sewaktu muda, Bisyr adalah seorang pemuda berandal.

Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”.

“Bisyr adalah seorang pemuda berandal”, si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi salah”. Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama.

Orang shaleh itu, mengulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya. Ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga.

Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban: “Bisyr sedang mengunjungi pesta minum anggur”. Maka pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu, dan menyampaikan pesan dari mimpinya tersebut kepada Bisyr.

Kemudian Bisyr berkata kepada teman-teman minumnya, “Sahabat-sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!”

Attar selanjutnya meriwayatkan bahwa sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki ‘si manusia berkaki telanjang’ (al-hafi).

redaksi

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional