Olahraga

Isu Politisasi & Piala Dunia U-17 2023

matamaduranews.com-Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 2023. Yang mengemuka isu politisasi. Terutama jika dikaitkan dengan Jakarta International Stadium (JIS). Salah satu tempat pertandingan Piala Dunia U-17 2023.

Dhimam Abror Djuraid menulis di situs kempalan.com. Berikut tulisannya:

JIS dan Pansos Politik

Inilah uniknya sepak bola Indonesia. Berita mengenai prestasi tim nasional kalah heboh oleh berita mengenai kaitan sepak bola dan politik. Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 Mei lalu gegara isu politik yang berhubungan dengan penolakan kehadiran timnas Israel.

Sekarang, ketika Indonesia diberi kompensasi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17, isu politik muncul lagi. Kali ini berkaitan dengan layak tidaknya Jakarta International Stadium (JIS) menjadi salah satu tempat pertandingan.

Kelihatannya para elite politik tidak pernah jera dan tidak pernah belajar dari pengalaman masa lalu. Politisasi sepak bola adalah persoalan yang sensitif. Indonesia dihukum oleh FIFA, otoritas tertinggi sepak bola dunia, karena politisasi sepak bola. Sekarang, ketika FIFA sudah berbaik hati memberi ganti, ternyata masih terjadi politisasi lagi.

Piala Dunia U-17 bakal digelar 10 November sampai 2 Desember. Stadion yang disiapkan untuk diajukan kepada FIFA adalah JIS, Gelora Bung Tomo di Surabaya, Stadion Manahan Solo, Stadion Wayan Dipta Denpasar, dan Stadion Jakabaring Palembang. Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang seharusnya menjadi venue utama untuk pembukaan dan penutupan, tidak bisa dipergunakan, karena akan dipakai untuk konser musik Coldplay, 15 November.

Karena GBK tidak bisa dipakai, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengajukan JIS. Akan lucu kalau Piala Dunia tidak dibuka dan ditutup di ibukota negara. Upacara pembukaan dan pertandingan pembuka akan menjadi pusat perhatian, karena tuan rumah akan bermain mengawali turnamen. Partai final juga akan afdhol kalau diselenggarakan di ibukota negara, apalagi kalau tuan rumah masuk final. Itulah sebabnya JIS diajukan sebagai venue sebagai ganti GBK.

Tetapi JIS dianggap tidak layak menjadi venue karena disebut tidak sesuai dengan standar FIFA. Presiden Jokowi kemudian memerintahkan Menpora Dito Ariotedjo untuk merenovasi JIS. Erick Thohir, ketua PSSI, menambahi bahwa fasilitas JIS tidak memenuhi syarat karena jumlah pintu masuk terbatas, akses masuk ke stadion dan tempat parkir terlalu sempit dibanding kapasitas stadion yang menampung 80 ribu penonton.

Dari sini kemudian isu berkembang menjadi isu politik yang berkaitan dengan pemilihan presiden 2024. Memakai JIS sebagai venue pertandingan pembuka dan penutup Piala Dunia adalah promosi gratis bagi Anies Baswedan. Tidak bisa dimungkiri, JIS adalah salah satu karya master piece yang paling dibanggakan oleh Anies Baswedan ketika menjadi gubernur DKI Jakarta.

Erick Thohir tahu persis bagaimana sepak bola menjadi sarana yang efektif untuk pansos (panjat sosial) politik, dan ia benar-benar memanfaatkannya semaksimal mungkin. Sebagai menteri BUMN Erick seharusnya membanggakan kinerja perusahaan negara yang dipimpinnya. Tetapi, sampai sejauh ini Erick terlihat lebih bersemangat memamerkan prestasi sepak bola ketimbang prestasi perusahaan-perusahaan negara.

Manuver Erick ini membuat gerah pesaing politiknya. Kalau Piala Dunia U-20 jadi digelar di Indonesia maka nama Erick Thohir akan moncer. Karena itu ada upaya untuk memainkan gergaji mesin untuk memotong gerakan Erick.

PDIP sebagai the winning party menolak kehadiran timnas Israel. Ganjar Pranowo, gubernur Jawa Tengah, dan I Wayan Koster, gubernur Bali, berduet menyanyikan lagu yang sama menolak timnas Israel. Piala Dunia U-20 batal diselenggarakan di Indonesia, dan Ganjar terkena getahnya karena suporter sepak bola menganggapnya sebagai biang kerok kegagalan. Sampai sekarang nama Ganjar belum pulih di kalangan penggemar sepak bola Indonesia.

Erick Thohir juga kehilangan panggung untuk unjuk gigi. Tapi, ibarat pemain bola yang lincah, Erick bisa menghindari tebasan tackling yang keras. Ia jatuh tapi cepat bangun dan bisa menguasai bola dan terus melaju menggiring bola.

Dalam waktu singkat Erick bisa melakukan recovery. Ia mendatangkan timnas Palestina bertanding di Indonesia. Publik sepak bola lumayan terhibur. Ercik juga mendatangkan juara dunia Argentina bertanding di Indonesia. Publik bola semakin terhibur, kendati banyak yang kecewa karena Lionel Messi tidak mau datang ke Indonesia.

Berkat lobinya yang lihai dan hubungannya yang rekat dengan presiden FIFA Gianni Infantino, Erick Thohir diberi hadiah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Peru yang sudah ditunjuk sebagai tuan rumah ternyata tidak siap. Maka rezeki nomplok pun jatuh ke Indonesia. Terima kasih, Erick Thohir, begitu bunyi baliho di beberapa kota.

Erick Thohir mendapatkan panggung besar untuk mendongkrak popularitas. Tahapan pilpres akan memasuki pendaftaran mulai 19 Oktober sampai 25 November. Jika Erick dipilih sebagai calon wakil presiden oleh salah satu capres, maka panggung besar terbuka lebar untuk mendongkrak popularitas.

Erick Thohir menjadi semakin seksi bagi para calon presiden. Erick disebut-sebut bakal dipasangkan dengan Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto. Sampai sekarang nama Erick menjadi salah satu yang terdepan sebagai calon wakil presiden. Piala Dunia U-17 akan menjadi salah satu daya tarik calon presiden untuk mempertimbangkan Erick sebagai calon pendamping. Piala Dunia U-17 akan efektif untuk memulihkan nama Ganjar Pranowo di mata penggemar sepak bola. Faktor ini bisa menjadi pertimbangan Ganjar untuk meminang Erick.

Di tengah persaingan yang sengit itu Anies Baswedan seperti mendapatkan rezeki anak sholeh. Upaya Erick Thohir untuk pansos politik bisa jadi akan sia-sia kalau JIS dipakai sebagai tempat pertandingan. Ini akan menjadi panggung gratis bagi Anies Baswedan. Berbagai komentar yang muncul mengenai kekurangan JIS kemudian dimaknai sebagai upaya untuk menenggelamkan reputasi Anies.

FIFA sudah menghukum Indonesia gegara isu politik yang panas menjelang Piala Dunia U-20. Sekarang, isu politik memanas lagi menjelang Piala Dunia U-17. Mudah-mudahan kali ini FIFA bisa lebih bersabar dan lebih memahami bahwa sepak bola Indonesia tidak bisa lepas dari politik. (Kempalan)

Exit mobile version