OpiniPolitik

KH Imam Jazuli, Sang Ideolog PKB

×

KH Imam Jazuli, Sang Ideolog PKB

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr KH Aguk Irawan Lc MA*

KH Imam Jazuli
KH Imam Jazuli, Lc MA

BEBERAPA tahun terakhir, kita mudah mencari sosok tokoh dengan nama KH Imam Jazuli Lc. MA melalui search enggine. Semula, opini-opini Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, ini berkenaan dengan pemikiran keislaman, utamanya NU. Satu tahun kemudian, pemikirannya mulai menyoroti dunia politik dan segala dinamikanya. Belakangan, alumni Al-Azhar, Kairo, ini tampak menjadi ideolog Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang memberi legitimasi rasional atas manuver-manuver Muhaimin Iskandar, ketua umum PKB.

Salah satu buah pemikiran kiai Imam Jazuli yang viral dan mengejutkan adalah tentang wajibnya warga Nahdliyin untuk ber-PKB. Lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), jurusan Political Strategic and Defense (2003) itu menggambarkan fakta-fakta historis sekaligus idealisme bagi NU dan PKB di masa-masa mendatang. Faktanya, PKB adalah partai politik yang lahir dari NU. Idealismenya, warga NU harus ber-PKB. Cara berpikir semacam ini adalah alasan kuat untuk mengatakan Kiai Imam Jazuli bukan semata-mata cendikiawan yang berpikir objektif, melainkan juga ideolog yang subjektif.

Objektif menurut Kamus Britannica (2022) adalah segala hal yang lebih didasarkan pada fakta-fakta dari pada perasaan dan pendapat. Objektif berarti tidak dipengaruhi oleh perasaan emosional. Keberadaannya berada di luar pikiran manusia. Bahwa PKB lahir dari rahim NU adalah fakta, yang tidak saja diyakini oleh pribadi Kiai Imam Jazuli. Sebaliknya, subjektif adalah segala hal yang didasarkan pada perasaan dan pendapat dari pada fakta. Perasaan dan pendapat ini boleh saja dibangun di atas fakta. Misalnya, karena PKB lahir dari NU, maka warga NU wajib ber-PKB.

Sebagai cendikiawan lulusan strategi dan pertahanan politik UKM, pandangan-pandangan yang memadukan objektifitas dan subjektifitas tersebut menempatkan Kiai Imam Jazuli sebagai seorang ideolog. Menurut Maurice Cranston dalam Kamus Britannica, ideologi adalah bentuk filsafat sosial dan politik yang menempatkan elemen praktis sama baiknya dengan elemen teoritis. Elemen teoritisnya, PKB lahir dari NU. Elemen praktisnya, warga Nahdliyin sudah semestinya ber-PKB. Sebagai seorang ideolog, Imam Jazuli tidak saja ingin menjelaskan tentang dunia, tetapi juga ingin mengubahnya.

Dalam rangka “mengubah” itulah, kita mudah memahami tulisan-tulisan Kiai Imam Jazuli, yang tampaknya berlawanan posisi dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf.

Gus Yahya ini berulang kali di media massa mengutarkan keengganannya membiarkan NU terseret kepentingan politik praktis parpol tertentu. NU adalah rumah bagi semua parpol dan politisi, sehingga NU tidak perlu mendukung parpol tertentu, seperti PKB. Dalam pandangan Kiai Imam Jazuli, fakta sosial sikap politik PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya ini perlu diubah ke arah lain, tepatnya warga Nahdliyin harus diarahkan mendukung PKB.

Dalam konteks sebagai ideolog PKB, pemikiran KH Imam Jazuli mengingatkan kita pada pernyataan Crane Brinton (1938) dalam The Anatomy of Revolution. Menurutnya, ideologi akan menyebar ketika ada keterputusan dengan rezim lama. Rezim lama PBNU, sejak kepemimpinan alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sampai KH. Said Aqil Siroj, cenderung pada politik praktis, bahkan Gus Dur adalah pendiri PKB yang mengarahkan suara warga Nahdliyin kepada PKB. Sejak jatuh ke tangan Gus Yahya, PBNU seakan mengundurkan diri dari politik praktis. Kiai Imam Jazuli berbeda pemikiran.

“Ngototnya” Kiai Imam Jazuli agar warga NU berpolitik praktis tidak bisa dilepaskan dari pemikirannya yang lain, terutama ideologi ekonomi yang dibangunnya. Dalam tulisannya berjudul Saatnya NU Mengubah Arah Perjuangan (Tribunnews, 2020), Kiai Imam Jazuli ingin melawan oligarki dan bentuk-bentuk intoleransi ekonomi yang hanya menyengsarakan rakyat kecil.

Cita-cita ini tidak akan terwujud jika warga NU tidak berada di kursi kekuasaan. Karenanya, menjauhkan warga NU dari kekuasaan praktis sama saja menjadi batu sandungan bagi upaya melawan oligarki dan intoleransi ekonomi secara lebih struktural, sistematis, dan massif.

Sebagai seorang ideolog, seluruh pemikiran kiai Imam Jazuli sebenarnya bisa dipahami dengan cara yang lebih sederhana; pertama, bagaimana warga NU bisa berperan aktif dalam urusan kebangsaan sekaligus kenegaraan, dan kedua, mencari cara paling cocok agar tujuan ideal tersebut tercapai.

Tentang bagaimana agar warga NU bisa aktif, Kiai Imam Jazuli menganjurkan agar mereka berpolitik praktis. Dan tentang bagaimana caranya yang paling cocok, Kiai Imam Jazuli mendorong warga NU sepenuhnya mendukung PKB. Ideolog politik akan selalu membicarakan tentang cita-cita ideal sekaligus langkah-langkah strategisnya.

Akhir kata, dari sekian banyak jenis ideolog, Kiai Imam Jazuli lebih cocok disebut aliran sosiologi. Berbagai pemikirannya dibangun di atas keyakinan-keyakinan kultural tentang warga Nahdliyin, partai politik yang didirikan oleh Nahdliyin, serta bagaimana warga Nahdliyin berkuasa di jajaran pemerintahan.

Bagi PKB sendiri, keberadaan para ideolog, seperti Kiai Imam Jazuli, sangat penting. PKB perlu menjadi satu-satunya partai politik yang keluar lebih awal dari kubangan citra negatif politik kekuasaan, yang selama ini distigmatisasi negatif oleh publik, sebagai simbol pengkhianatan atas kepercayaan rakyat, entah mulai dari korupsi sampai tidak terpenuhinya janji-janji politik selama kampanye. Parpol berideologi akan selamat dari jeratan pragmatisme dan transaksionalisme.

Bagi warga Nahdliyin, para ideolog, seperti Kiai Imam Jazuli, sangat berharga, terutama untuk menjelaskan kepada publik bahwa politik tidak selamanya tentang pengkhianatan akan janji-janji manis kampanye. Apalagi, track-record parpol tersebut bisa dibuktikan.

Misalnya, PKB selama ini telah banyak berjasa pada komunitas pesantren, kepada para santri, dengan adanya undang-undang pesantren, hari santri, dan lainnya; yang semua itu adalah aspirasi warga Nahdliyin. Ideologi yang didukung oleh bukti-bukti konkrit, ia akan menstabilkan keadaan bukan dengan ilusi dan penyembunyian, melainkan dengan kebenaran janji-janji politik saat kampanye. Inilah jenis ideologi yang kita harapkan bersama. (*)

*) Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta

sumber: disway.id
KPU Bangkalan