Kisah “Penjual Dawet” Kanjuruhan Malang

Komentar Pilihan Disway*

Edisi 12 Oktober 2022: Madura Minahasa

Lekas Jaya

nasib John sdh menjadi tukang make over yg sukses, Paulus menjadi koki bintang lima di lapak kaki lima milik sendiri, Indonesia pun tidak kena sanksi FIFA, dan hari ini tentang Jenderal Tedy yg harus mengemban tugas baru cuci2 di Polda Jatim, tp yg masih ttp buat penasaran adalah nasib Inayah bagaimana ya? apakah ada yg sdh tahu?

Pryadi Satriana

Irjen Teddy Minahasa,”KALAU INGIN KAYA JANGAN JADI POLISI. Polisi itu pengabdian”. (Disway, 12 Oktober 2022) Kata-kata di atas diucapkan oleh POLISI TERKAYA VERSI LHKPN (tempo.co, 12 Oktober 2022). Rincian kekayaannya sebagai berikut. 53 bidang tanah & bangunan: Rp25.813.200.000 Harta bergerak: Rp500.000.000 Kas: Rp1.523.717.203 Surat berharga: Rp62.500.000 Empat kendaraan: Rp2.075.000.000 (Sumber: Tribunnews). Ada kontradiksi yg “sangat mengganggu”: Ungkapan ‘kalau ingin kaya jangan jadi polisi’ diucapkan oleh ‘polisi terkaya versi LHKPN’. Kesimpulan saya: Itu “ungkapan gombal”. Jare kera Ngalam: ‘gombal Mukiyo’! Ah…, moga2 saja saya salah. Selamat bertugas Pak Teddy, tunjukkan bahwa tugas Anda di kepolisian adalah pengabdian dan bahwa kekayaan Anda – polisi paling kaya versi LHKPN – diperoleh dengan cara yang halal. Salam. Rahayu.

BACA JUGA :  EGB Gemilang, Thiago F Bimbang

agus budiarto

Suka bingung kalau ada petinggi polisi nasehati ttg kejujuran dan rejeki halal. Bgmn mungkin?

Jo Neka

Kaya jangan di larang.Wong kalau usaha halal kenapa tidak.Tetangga saya polisi istrinya punya toko bangunan dan lumayan kaya ukuran desa saya masa gak boleh kaya wong tokonya besar dan punya beberapa cabang.Selamat bertugas pak Teddi.Sesuatu yang di awali dengan niat baik akan berakhir dengan kebaikan pula.

Dacoll Bns

Setuju ,pak. Saya sendiri sudah tinggal di Bali dari 2004 merasakan betul perubahan di bawah beliau. Terutama seperti yg anda sebutkan, preman yang menjelma menjadi ormas (yang konon katanya sengaja dipelihara oknum) langsung tidak berani berkutik. Saya paling ingat sore hari saat pulang kerja menyaksikan sendiri, Satpol PP dikawal Brimob menurunkan baliho tidak penting milik ormas tsb, kemudian ada banyak juga kafe- kafe liar yang sebelumnya dibeking ormas2 tsb juga ditutup satu persatu tanpa kompromi… Semoga sekarang setidaknya masih bisa terjaga dan kondusif

Komentar