Menu

Konsekuensi Rasa Cinta

Konsekuensi Rasa Cinta
Konsekuensi Rasa Cinta. (By Design A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Rahmi Ummu Atsilah*

Suka cita meliputi rasa ketika menyambut datangnya bulan Rabi’ul Awal tiba. Bagi masyarakat Madura, utamanya Sumenep dan sekitarnya, menyambut bulan Maulid bak menyambut hari raya. Kehadirannya selalu dinanti dengan bahagia. Sebagai bentuk rasa cinta kepada baginda Rasulullah SAW, karena merupakan hari kelahirannya. Perayaan Maulid Nabi menggema di seluruh penjuru kota, tak terkecuali di desa-desa. Semua melaksanakannya meski pandemi masih merajalela. Tahun ke tahun senantiasa semarak dari masjid ke masjid hingga rumah ke rumah. Tentu tidak ada yang salah meskipun ada yang berbeda cara dalam menyikapi dan mewujudkan rasa cinta.

Kelahiran dan kematian manusia sebenarnya merupakan perkara yang lumrah. Setiap detiknya lahir dan meninggal manusia di berbagai penjuru dunia. Kelahiran Muhammad SAW pun sesuatu yang biasa, akan tetapi menjadi hal yang luar biasa  karena beliau adalah sebaik-baik ciptaan yang menjadi pilihan Allah untuk mengemban risalah yang mulia yakni Islam dan menjadi penghulu dan penutup para nabi. Selain merupakan pribadi terpuji, beliau mulia dan dimuliakan karena wahyu Allah yang diemban yakni Islam.

Islam adalah agama dan jalan hidup yang unik. Al-Quran dan as-Sunnah menjadi landasan dalam kehidupan, secara jelas direpesentasikan utuh dan praktis oleh sosok pibadi Rasulullah Muhammad SAW. Jadilah beliau manusia paling agung dalam sejarah penciptaan manusia karena wahyu yang dia emban. Maka mencintai beliau adalah keniscayaan, yang bukan hanya diwujudkan sebagai aktivitas batin, akan tetapi juga dengan gerak lahiriah. Dengan mencontoh dan menauladani segala perbuatan, perkataan, dan diamnya beliau terhadap suatu persoalan berlandaskan pada pada syariat Islam.

Mencintai Rasulullah haruslah menduduki tempat tertinggi setelah mencintai Allah SWT dibandingkan kecintaan kita kepada selain beliau. Allah SWT berfirman yang artinya: Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara istri-istri, dan kaum keluarga kalian; juga harta dan kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk  kepada orang-orang fasik. (TQS. At-Taubah: 24).

Mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya adalah kewajiban. Cinta ini menjadi parameter keimanan seorang hamba. Seorang muslim hanya akan dapat merasakan manisnya iman, pengampunan dari dosa dan kesalahan yang dilakukan, dengan bersungguh-sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya. Kecintaan semacam ini juga telah terpatri kuat dalam pribadi para sahabat Rasulullah. Secara praktis hal itu diwujudkan dengan cara mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW, sekaligus dengan menaati seluruh perintahnya dan menjauhi apa yang dilarang. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang artinya: “Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah”. (TQS. Al-Hasyr: 7)

Dalam ayat lain disampaikan bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah SWT, “Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berdasarkan hawa nafsu; sesungguhnya semua tidak lain kecuali merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya”. (TQS. An-Najm: 3-4).

Al-Zahari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.”

Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat.”

Al-Zujaj juga brkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya serta meridhai segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.”

Ekspresi cinta yang sebenarnya adalah meneladani segala prilaku beliau dalam segala aspek kehidupan dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya telah ada pada diri  Rasululllah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (TQS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah SAW adalah role model yang ideal dalam segala aspek kehidupan. Mulai aspek yang berhubungan dengan Allah SWT seperti akidah dan ibadah. Pun juga aspek yang berkaitan dengan diri sendiri yakni akhlak, berpakaian menutup aurat dan memakai jilbab bagi perempuan, serta dalam hal makanan, yaitu memakan makanan yang baik lagi halal. Hal berhubungan dengan sosial kemasyarakatan tak ketinggalan pula. Rasulullah adalah sosok pribadi panutan dalam berumah tangga, bermasyarakat, dan bernegara. Beliau adalah negarawan, politikus, ekonom, hakim, panglima perang yang bersih dan terpelihara. Semua aturan yang beliau terapkan dari sistem pemerintahan, politik luar dan dalam negeri, perekonomian, sistem pergaulan untuk sosial dan budaya, sistem hukum dan sanksi. Semua adalah hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT, yakni Islam sebagai agama dan jalan hidup yang sempurna dan paripurna.

Mencintai beliau mengharuskan kita menyelaraskan segala aspek kehidupan dengan Islam. Karena jika tidak, maka cinta kita kepada beliau sekadar ucapan dan seremonial belaka dan patut dipertanyakan. Sudah selayaknya kita umat Islam yang menempatkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya menyambut bahagia hari lahir beliau selain dengan banyak bershalawat juga menjunjung tinggi, memperjuangkan dan mengamalkan ajaran Islam dengan penuh semangat, ikhlas dalam keimanan. Wallahu a’lam bisshawab.

*Pemerhati Urusan Publik.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan

Hukum & Kriminal

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: