matamaduranews.com– Bupati biasanya sibuk. Jadwal rapat penuh. Sering ke luar kota. Jarang di kantor. Sulit ditemui warganya.
Jika rakyat ingin menyampaikan aspirasi. Sulit bertutur langsung ke bupati.
Tapi itu tidak terjadi ke Mas Rio, Bupati Situbondo. Mas Rio memilih jalur tiktok. Membuka ruang dialog via layar ponsel-nya. Live TikTok. Langsung. Tanpa sekat dengan warga-nya.
Saya sendiri kaget. Lewat beranda tiktok. Tumben ada Bupati bisa live TikTok, gumam dalam hati.
Mas Rio bisa vercanda dengan warganya. Itu bukan sekali saja. Berulang kali. Waktunya tak menentu.
Di tengah perjalanan dinas, kadang Bupati Rio menyempatkan live TikTok. Menyapa warganya. Lewat obrolan santai. Seperti Rabu, 28 Januari 2026. Ia siaran langsung dari dalam kendaraan dinas.
Ribuan penonton masuk. Satu per satu diberi kesempatan muncul di layar. Memperkenalkan diri. Mengeluh apa yang terjadi di daerahnya. Menyampaikan harapan langsung ke Bupati.
Salah satu yang berbicara itu Aisyah. Warga Desa Kedunglo, Kecamatan Arjasa. Keluhannya sederhana . Jalan rusak.
“Dusun saya jalannya rusak parah, Mas Rio,” katanya.
Mas Rio mencatat. Mendengar. Bahkan langsung diteruskan ke OPD terkait.
Dalam live TikTok itu. Isu yang muncul beragam. Infrastruktur desa. Normalisasi sungai. Hingga penguatan UMKM. Semua masuk dalam ruang diskusi yang cair. Tidak kaku.
Model komunikasi seperti ini mungkin sederhana. Tapi efeknya besar: warga merasa didengar langsung oleh Bupati.
Ada satu momen yang membuat siaran itu viral. Jumat dini hari, 20 Februari 2026. Live TikTok berlangsung di Pendapa Kecamatan Besuki. Tiba-tiba muncul kabar ada penangkapan maling sepeda motor di pojok alun-alun.
Mas Rio spontan bereaksi.
“Apa? Hah? Maling sepeda? Ketangkap?” tanyanya dalam bahasa Madura.
Ia lalu berpamitan ke penonton. Singkat saja: “Bentar, ada maling.”
Live berhenti.
Belakangan diketahui pelaku adalah residivis berinisial M, warga Desa Pesisir Besuki, yang membawa motor hasil curian dari Muncar, Banyuwangi. Situasi sempat tegang sebelum polisi datang mengamankan.
Sebuah adegan yang memperlihatkan: pemerintahan kadang berjalan di tengah kejadian nyata, bukan di balik meja rapat.
Bagi Mas Rio, media sosial bukan sekadar tempat pencitraan. Ia menjadikannya alat mendengar.
Waktu, bagi dia, terlalu berharga untuk dilewatkan tanpa menyerap suara warga. Bahkan beberapa menit di sela perjalanan pun bisa dipakai untuk menerima keluhan.
Inilah pola kepemimpinan baru: adaptif, cepat, dan langsung menyentuh akar persoalan.
Kepemimpinan hari ini tidak lagi cukup hanya hadir di podium. Rakyat sekarang ada di layar. Di komentar. Di live streaming. Di ruang digital yang bergerak cepat.
Mas Rio membaca perubahan itu. Ia masuk ke sana.
Yang jelas nyata. Jarak antara pemimpin dan rakyat kini hanya sejauh koneksi internet. Bukan sulit diakses. (hambali rasidi)






