Menu

Menakwil Mas Muwafiq (3)

Menakwil Mas Muwafiq (3)
Ilustrasi Menakwil Mas Muwafiq. (Foto Design by A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

Oleh: Gus Muhammad al-Fayyadh bin Malthuf Nurul Jadid Paiton*

Cara penyajian MAM atas kelahiran Rasulullah, meski niatnya mungkin hendak menonjolkan sisi manusiawi Rasulullah, sebenarnya agak mirip dengan pola pikir kaum Wahabi yang secara epistemologis menganut paham realisme vulgar dalam memaknai peristiwa-peristiwa metafisik. Kaum Wahabi tidak segan akan menolak adanya hal-hal “supranatural” lantaran semata-mata berpijak pada apa yang empiris, menolak takwil, dan bahkan menolak tasawuf. Ini sekadar catatan kritis. Bukan berarti MAM adalah seorang Wahabi. Dia, alfaqir yakin, adalah Nahdliyin tulen, bahkan juga dikenal aktivis hal-hal “supranatural” (ilmu kanuragan). Namun khusus mengenai poin ini, tampaknya ada kemiripan antara garis epistemologi kaum Wahabi dan tafsir MAM atas peristiwa pencahayaan pada momen kelahiran Rasulullah.

Bagi yang hendak memperdalam keimanan dan pemahaman atas dimensi-dimensi pencahayaan Rasulullah, sufi besar dari Andalusia, Imam Ibnu Sab’in (wafat 669 H), telah menulis karya yang sangat bagus tentang ini, “Anwar an-Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) Asraruha wa Anwa’uha” (Cahaya-cahaya Nabi: Rahasia dan Ragamnya). Di dalam karya tersebut, Ibnu Sab’in menyebutkan dua jenis cahaya Nabi yang relevan dalam kasus MAM, dan sayangnya disangkalnya, yaitu “nur al-maulid” (cahaya yang mengiringi kelahiran Nabi) dan “nur al-khilqah” (cahaya wujud fisik jasmani Rasulullah dari ujung rambut hingga ujung kaki).

Baca Juga: Menakwil Mas Muwafiq (1)

Soal kedua, dalam banyak riwayat, memang masa kecil Nabi pernah ditimpa sakit mata ringan (ramad). Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Itu semata-mata bukti bahwa jasad seorang Nabi pun bisa sakit, namun sakit yang manusiawi dan tidak merusak fitrah kenabiannya. Namun, ini tergantung dari konotasi dan denotasi apa yang dipakai MAM dengan kata “rembes”. Bila bermakna peyoratif, maka mengandung unsur penghinaan. Bila tidak, maka netral. Namun lagi-lagi ketika disampaikan dengan mimik dan intonasi yang terkesan menyepelekan, sebagian penonton pasti akan cenderung berpikir ini penghinaan. Di situ letak kekurangtepatannya. Menyebut sakit Nabi, selayaknya seorang Muslim melakukannya dengan menunjukkan rasa empati dan kesedihan, mengenang duka, derita, dan rasa sakit beliau.

Baca Juga: Menakwil Mas Muwafiq (2)

Soal ketiga, menyebut masa kanak Rasulullah tidak terurus, secara tekstual dan logis, bertentangan dengan dua ayat dalam surat Adh-Dhuha:

ما ودعك ربك وما قلى

“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”

الم يجدك يتيما فاوى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)”

Secara logis, bagaimana mungkin Allah (subhanahu wa ta’ala) akan membiarkan telantar tak terurus seorang anak yang kelak dipersiapkan-Nya sebagai Kekasih dan Pembawa Risalah-Nya? Tanpa perlu berspekulasi lebih jauh, berbagai riwayat telah menunjukkan, meski masa kanak Nabi dipenuhi duka-nestapa, beliau tidak telantar dan senantiasa memperoleh pengasuhan terbaik dari orang-orang di sekelilingnya. (Bersambung…)

*Alumni PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Pilkada 2020

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: