Catatan

Menanti Sekda Sumenep: Siapa yang Siap Memikul Beban?

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.com — Andaikan Bupati Sumenep memiliki hak prerogatif penuh dalam memilih Sekretaris Daerah, mungkin prosesnya tidak akan terasa rumit. Siapa yang paling diyakini mampu, dipilih. Selesai.

Namun realitas birokrasi tidak selalu sesederhana itu. Di balik proses yang berjalan formal, kerap muncul dinamika lain—termasuk apa yang oleh publik sering disebut sebagai “titipan”. Pertanyaannya kemudian: seberapa besar pengaruhnya hingga dapat ikut membentuk arah keputusan seorang kepala daerah?

Di titik inilah perhatian publik tertuju pada tiga nama yang kini berada di garis akhir seleksi Calon Sekda Sumenep.

Berikut tiga besar calon Sekda hasil seleksi yang kini menunggu keputusan akhir Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo.

1. Agus Dwi Saputra

Agus lahir di Tulungagung. Namun sejak menamatkan pendidikan di STPDN, pengabdiannya nyaris sepenuhnya berlangsung di Sumenep. Kariernya tumbuh bertahap: pernah menjadi ajudan Bupati Soekarno Marsaid, lalu meniti jalur struktural dari Sekcam hingga Camat, sebelum akhirnya menduduki jabatan eselon dua.

Namanya semakin diperbincangkan ketika dipercaya menjadi Ketua Panitia Resepsi Pernikahan putra MH Said Abdullah. Sebagian kalangan menafsirkan kedekatan itu sebagai representasi jejaring alumni STPDN/IPDN yang dikenal solid.

2. Rahman Riyadi

Nama Rahman pada awalnya tidak terlalu diperhitungkan. Namun perlahan ia muncul dan masuk tiga besar, bahkan melampaui sejumlah nama yang selama ini dianggap dekat dengan lingkar kekuasaan.

Publik pun bertanya: apa kelebihannya?

Pertanyaan itu wajar. Secara kasat mata, Rahman bukan figur yang tampak menonjol ataupun lekat dengan pusat kekuasaan. Tetapi justru di situlah daya tariknya. Ada kualitas yang mungkin tidak selalu terlihat di permukaan—dan sebagian memang tidak elok diurai terlalu jauh karena menyangkut ranah personal.

Yang pasti, rekam jejaknya pernah tercatat ketika lolos seleksi pejabat eselon dua pada 2017, di usia yang relatif muda, 47 tahun. Saat itu, sejumlah nama lain yang merasa lebih dekat dengan kekuasaan justru tersingkir.

3. Chainur Rasyid

Nama Chainur Rasyid sempat luput dari radar banyak pengamat. Namun menjelang pendaftaran dibuka, namanya perlahan menguat.

“Peta Sekda berubah, Mas. Pak Inung menguat,” begitu bisik seorang jurnalis.

Rasa penasaran pun muncul. Ketika ditimbang dari berbagai sisi, potensinya terlihat, meski semula masih menyisakan keraguan. Dan kini, ia berdiri sejajar dalam tiga besar.

Sejumlah faktor disebut ikut memperkuat peluang Chainur Rasyid. Meski demikian, tidak semua hal patut dibuka secara gamblang dalam ruang publik.

Lalu, Siapa yang Paling Siap?

Spekulasi mulai bergulir. Siapa yang akhirnya dipilih dari tiga nama tersebut?

Perlu diingat, jabatan Sekda bukan sekadar posisi administratif. Ia adalah penggerak utama birokrasi—penjaga ritme pemerintahan—sekaligus sosok yang kerap harus menanggung beban politik di balik kebijakan kepala daerah.

Publik boleh menilai dan menebak.

Siapa di antara tiga calon itu yang paling siap memikul beban tersebut?

Barangkali,..ah.. biarlah waktu yang menjawab. (*)

Exit mobile version