OpiniPolitik

Pemilu Terbuka

×

Pemilu Terbuka

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Pemilu 2024
Ilustrasi

matamaduranews.com-: Dunia terasa gelap kalau memakai kacamata Prof. Denny Indrayana. Dalam beberapa hari belakangan Denny rajin mencuit di media sosial membocorkan hasil keputusan Majelis Konstitusi (MK) mengenai gugatan sistem pemilu terbuka menjadi tertutup.

Denny juga rajin menulis surat terbuka untuk mengingatkan elite politik supaya waspada terhadap apa yang disebutnya gerakan membajak demokrasi.

Banyak yang suka terhadap bocoran Denny, tapi banyak juga yang gerah. Menko Mahfud MD termasuk yang merasa gerah oleh pembocoran halus oleh Denny. Salah satu yang membuat Mahfud kesal adalah bocoran Denny bahwa MK akan mengembalikan sistem pemilu menjadi tertutup seperti yang berlaku di masa Orde Baru.

Tapi, ternyata bocoran Denny itu salah. Kamis 15 Juni. MK memutuskan bahwa sistem pemilihan umum tetap memakai proporsional terbuka. Artinya, siapa yang memperoleh suara terbanyak dan memenuhi syarat perolehan satu kursi dialah yang menjadi pemenang.

Kalau MK memutuskan sistem pemilu tertutup maka akan terjadi setback, mundur ke zaman Orde Baru. Ketika itu partai politik menjadi penentu siapa yang bakal menjadi pemenang kontes legislatif. Biasanya, calon yang menempati nomor urut 1 akan otomatis menjadi pemenang.

Untung ada Denny. Banyak yang menarik nafas lega atas munculnya keputusan MK ini. Banyak yang deg-degan selama berminggu-minggu menanti kepastian keputusan MK.

Banyak yang percaya kepada teori konspirasi bahwa MK sudah disandera oleh kekuatan politik tertentu, yang menginginkan agar sistem dikembalikan kepada zaman kuno. Dengan sistem tertutup, partai-partai besar akan berpeluang menyapu bersih suara.

Banyak juga yang jengkel terhadap Denny dan menyebutnya membocorkan rahasia negara. Denny mengaku mendapat bocoran dari sumber yang terpercaya. Juga disebutkan adanya hubungan antara keputusan perpanjangan masa jabatan komisioner KPK (Komisi Pemilihan Umum) dengan keputusan MK mengembalikan sistem pemilu menjadi tertutup. Katanya, ada barter antara kasus-kasus korupsi yang diduga menjerat hakim agung, dan menjadikan mereka tersandera untuk menuruti keinginan mengubah sistem pemilu menjadi tertutup.

Legalah semuanya. Tinggal Denny Indrayana yang harus mencari alasan untuk membenarkan bocoran cuitannya. Banyak yang berancang-ancang untuk memperkarakan Denny ke polisi. Setelah terbukti cuitan Denny salah bisa saja laporan pemidanaan terhadap Denny bermunculan.

Tidak ada yang tahu. Mungkin saja keputusan MK ini terpengaruh oleh opini publik yang kencang menyerang sistem tertutup. Serangan kencang ini dipicu oleh cuitan bocoran dari Denny.

Ibarat operasi intelijen, Denny sudah mengibarkan ‘’false flag’’ bendera palsu yang mengecoh lawan. Dalam operasi intelijen bendera palsu dikibarkan untuk membuat lawan salah sasaran.

Dalam dunia militer apa yang dilakukan Denny bisa disebut sebagai ‘’pre-emptive strike’’, yang bertujuan untuk menyerang lawan sebelum lawan siap. Istilah ini menjadi populer ketika Presiden George W Bush melakukan serangan ke Irak menyusul serangan teroris ke Menara Kembar WTC 11 September 2001.

Peristiwa yang dikenal sebagai 9/11 itu membuat Bush memutuskan untuk menyerang Irak yang dianggap melindungi Usamah Bin Laden, yang dicurigai sebagai master mind serangan terhadap WTC.

Presiden Irak Saddam Husein diduga menyimpan WMD (weapon of mass destruction) senjata pemusnah masal yang bisa dipakai untuk menyerang dan menghancurkan Amerika Serikat.

Maka, Bush pun memerintahkan untuk menyerang dan menundukkan Irak sebelum negara itu menyerang Amerika. Serangan dini itu disebut sebagai doktrin pre-emptive strike yang kemudian terkenal di seluruh dunia. Serangan Bush terhadap Irak itu belakangan terbukti salah, dan tidak ada WMD yang ditemukan di Irak.

Amerika meminta maaf dan mengaku salah, tetapi misi untuk mengalahkan Saddam Husein melalui doktrin preemptive strike berjalan sukses.

Mengacu pada serangan dini Bush, Denny sukses melakukan hal yang sama. Dia menyerang dengan bom cuitan yang menghasilkan ledakan yang dahsyat.

Denny mencurigai MK mempunyai senjata tersembunyi sejenis WMD yang bisa meledak setiap saat dan bisa menghancurkan demokrasi. Karena itu WMD milik MK itu harus dihancurkan sebelum dipakai untuk menghanacurkan demokrasi.

Ibarat perang, Denny berhasil mengumpulkan pasukan koalisi dalam jumlah yang besar. Dalam episode Perang Teluk, George W. Bush bisa meyakinkan negara-negara sekutunya untuk membentuk koalisi besar, dan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan WMD Irak.

Denny Indrayana berhasil menggalang koalisi besar dengan cuitannya sehingga muncul gelombang opini publik besar untuk menyerang WMD milik MK.

Tidak tanggung-tanggung, 8 fraksi di DPR tegas menyatakan menolak sistem tertutup. PDIP sebagai the ruling party menjadi terisolasi dan teraleniasi. PDIP menjadi satu-satunya fraksi yang mendukung sistem pemilu tertutup.

Delapan partai itu solid menentang PDIP. Padahal di antara mereka terdapat partai-partai yang mendukung koalisi pemerintah yang dipimpin oleh PDIP.

Ternyata koalisi baru bisa mengalahkan PDIP. Hal ini menjadi warning bagi PDIP bahwa koalisi yang mereka bangun tidak selalu solid. Jika ada isu yang merugikan salah satu partai bisa saja koalisi pecah.

Karena itu, serangan pre-emptive berikut yang patut diwaspadai adalah cuitan Denny Indrayana yang mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo layak dimakzulkan atau di-impeach, karena cawe-cawe dalam urusan penentuan calon pasangan presiden dan wakil presiden.

Doktrin preemptive strike ala George W Bush banyak dikecam oleh aktivis demokrasi dunia, tetapi doktrin itu sukses mengeliminasi musuh terbesar Bush, yaitu Saddam Husein. Doktrin preemptive strike Denny Indrayana dikecam oleh lawan-lawan politiknya. Tetapi doktrin Denny berhasil menahan MK supaya tidak memakai WMD yang menghancurkan demokrasi.

Tinggal satu bom besar lagi yang masih ditunggu oleh aktivis demokrasi, yaitu keputusan Mahkamah Agung (MA) atas peninjauan kembali (PK) Moeldoko terhadap keabsahan kepengurusan Partai Demokrat.

Lagi-lagi, teori konspirasi menyatakan bahwa MA akan mengabulkan PK Moeldoko, dan mencopet Partai Demokrat dari Agus Harimurti Yudhoyono.

Kita tunggu lagi apakah doktrin preemptive strike Denny Indrayana bisa membuat MA menolak gugatan Moeldoko. (kempalan)

 

KPU Bangkalan