Menu

PKB Masa Lalu, Hari Ini dan Masa Depan

PKB Masa Lalu, Hari Ini dan Masa Depan
Ilustrasi PKB Masa Lalu, Hari Ini dan Masa Depan. (By Design A. Warits/Mata Madura)
Link Banner

(Sebuah Refleksi Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa)

Oleh: Ach Wildan Al Faizi*

Pasca tumbangnya rezim Orde yang ditandai dengan pengunduran diri presiden Seoharto, pintu dan keran demokrasi di Indonesia semakin terbuka lebar. Situasi inilah menjadi cikal bakal lahirnya PKB sebagai kendaraan politik warga Nahdhiyin.

Lengsernya Soeharto dimanfaatkan betul oleh para kiai Nahdlatul Ulama untuk bersepakat mendirikan partai politik sebagai corong aspirasi politik warga NU. Maka, Tepat pada tanggal 29 Rabi’ul Awal 1419 Hijriyah/23 Juli 1998 lahirlah sebuah partai politik yang diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dideklarasikan langsung oleh KH. Munasir Ali, KH. Ilyas Ruchiyat, KH. Abdurrahman Wahid, KH. A. Mustofa Bisri, dan  KH. A. Muhith Muzadi.

PKB Masa Lalu

Pada Pemilu 1999, secara mengejutkan PKB menjadi satu kekuatan politik yang sangat diperhitungkan dan mampu mewarnai kehidupan politik Indonesia. Sebagai partai baru yang lahir dari semangat Reformasi, PKB berhasil menduduki posisi ketiga setelah PDIP dan Golkar dengan perolehan 12,61 persen suara. Di tahun yang sama berhasil mengantarkan pendiri sekaligus kader terbaiknya KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden RI ke-4 menggantikan BJ. Habibie melalui Sidang Umum MPR 1999. Ini prestasi luar bisa PKB selama keikutsertaan dalam perpolitikan Nasional. Walaupun pada akhirnya PKB tidak mampu mempertahankan posisi Gus Dur sebagai presiden yang dilengserkan secara paksa pada tahun 2001.

Pemilu 2004, PKB tetap pada posisi ketiga dalam perolehan suara setelah Golkar dan PDIP. Akan tetapi, perolehan suaranya berkurang menjadi 10,6 persen. Di tahun yang sama, PKB sebenarnya kembali mengusung KH. Abdurahman Wahid sebagai calon presiden. Namun, kandas di tengah jalan karena Gus Dur dianggap tidak memenuhi syarat kesahatan. Akibatnya, pasangan Abdurahman Wahid-Marwah Daud Ibrahim gagal ikut serta dalam Pilpres 2004. Di masa ini, partai berlambang bumi ini mulai mengalami konflik internal yang sangat luar biasa.

Menjelang Pemilu 2009 menjadi puncak konflik yang melahirkan dua kubu yaitu kubu Gus Dur dan kubu Cak Imin. Akibatnya pada Pemilu 2009 suara PKB merosot tajam baik secara Nasional maupun di berbagai daerah. PKB gagal masuk tiga besar dan hanya meraup 4,94 persen suara atau setara dengan 27 kursi anggota DPR RI. Partai ini terdepak dari posisi tiga besar sebagaimana pada Pemilu sebelumnya.

Pemilu 2014 menjadi awal kebangkitan PKB dengan meraih suara dua kali lipat secara Nasional yaitu 9,13 persen suara. PKB mempunyai nilai tawar tinggi dibandingkan dengan partai Islam atau partai berbasis Islam lainnya. Bersatunya kekuatan NU menjadikan partai ini naik sekitar 4,18 persen. Hadirnya Mahfud MD, Jusuf Kalla dan H. Rhoma Irama sebagai Capres sedikit banyak memberikan kontribusi terhadap kebangkitan PKB. Belum lagi peran beberapa artis juga ikut memberikan efek positif.

Jurus jitu lainnya adalah Cak Imin sukses mengajak Rusdi Kirana menjadi bagian dari partai. Tak tanggung-tanggung, pemilik maskapai Lion Air itu diposisikan sebagai Wakil Ketua Umum. Dengan hadirnya Rusdi Kirana sangat berdampak pada aspek pendanaan PKB, sehingga amunisi PKB bertambah dalam melakukan aktivitas politik selama Pemilu 2014. Cak Imin juga berhasil merangkul kembali beberapa tokoh penting PKB yang sempat keluar. KH. Ma’ruf Amin (mantan Ketua Dewan Syuro), Khofifah Indar Parawansa, Alwi Shihab (mantan Ketua Umum) adalah tiga dari sekian banyak tokoh lama yang kembali ke PKB. Bersatunya kekuatan PKB membuktikan kalau partai yang selalu dilanda konflik ini sudah kembali solid.

PKB Hari Ini

Hari ini, PKB baru saja melalui proses politik yang sangat luar biasa dalam keikutsertaannya di Pemilu 2019 yang mengantarkan 58 kader terbaiknya sebagai anggota DPR RI dengan perolehan suara sebesar 13.570.097 (9,69 persen). PKB juga sukses ikut adil mengantarkan Joko Widodo memenangkan Pemilu presiden untuk kedua kalinya yang berpasangan dengan Kiai Ma’ruf Amin. Menurut survei Indikator, 70,2 persen pemilih PKB juga memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hadirnya KH. Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, sedikit banyak ikut membantu pendongkrak suara PKB.

Selama ini, lumbung suara PKB terletak di Dapil Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ketergantungan PKB terhadap Jawa tidak lepas dari basis warga NU yang juga ada di Pulau Jawa. Langkah politik PKB dengan merangkul tokoh-tokoh lokal di berbagai daerah luar Jawa berhasil mencatat sejarah baru dengan pecah telur di beberapa dapil yang selama ini belum pernah mendapatkan kursi, baik di DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kota/Kabupaten. Itu artinya PKB bukan lagi partai jago kandang (Jawa Sentris). Ini prestasi yang patut disyukuri. Sehingga, ke depannya PKB lebih banyak mewarnai kondisi politik di Indonesia serta menjadi kendaraan dan pilihan politik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kunci dari keberhasilan tersebut tidak lepas dari mesin partai yang solid, kompak dan berjalan secara baik.

Kiprah PKB dalam perpolitikan Nasional masih dinantikan oleh masyarakat khususnya di kalangan umat Islam. Apalagi di tengah kondisi kehidupan kebangsaan Indonesia sekarang ini, yang banyak mengalami permasalahan serius mulai dari moralitas bangsa, nasionalisme, kebangsaan, nilai keagamaan dan terabaikannya hak dasar rakyat sebagai bagian dari proses politik. Eksistensi politik PKB dengan basis dukungan utama warga Nahdliyin memiliki potensi untuk berkiprah sebagai kekuatan politik yang strategis tidak hanya sebatas penggembira saja, tapi juga menjadi penentu utama arus kebijakan negara.

PKB Masa Depan

Tantangan ke depan yang harus dilewati adalah bagaimana menghindari terjadinya perpecahan di kalangan elit PKB. Berbicara PKB tentu tidak akan pernah lepas dengan konflik internal. Keberadaan PKB sebagai partai politik tidak selalu berjalan lurus sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam perjalanannya beberapa kali terjadi konflik di tubuh partai. Ini merupakan dinamika tersendiri bagi keberlangsungan PKB dalam konstelasi perpolitikan Nasional.

Tentu pengalaman konflik masa lalu yang begitu melelahkan itu tak ingin terulang kembali di masa-masa mendatang. Tersingkirnya nama-nama penting seperti Lukman Edy, Abdul Kadir Karding dan yang lain dari jajaran elit partai sedikit banyak mengganggu solidaritas partai walaupun tak begitu berdampak terhadap elektoral. Akan jauh lebih baik kalau bisa mengurangi konflik dan memperbanyak konsolidasi di kalangan para elit.

Selain dari itu, pekerjaan rumah besar ke depan adalah partai ini tak boleh membangun citra seola-olah PKB punya pribadi dan atau punya segelintir elit, apalagi sampai memposisikan elit tertentu lebih tinggi dari AD/ART partai. Kalau ini terjadi akan sangat berbahaya untuk masa depan partai. Pola kepemimpinan yang sentralistik cenderung merugikan dan tidak menutup kemungkinan akan melahirkan konflik-konflik baru.

Tantangan PKB selanjutnya adalah menjaga hubungan baik dengan NU. NU dan PKB sedikitnya memiliki tiga hubungan yaitu hubungan historis, kultural dan aspiratif. Secara histori lahirnya PKB tidak lepas dari keinginan warga NU untuk membentuk wadah politik. Secara kultur, NU dan PKB mempunyai budaya dan tradisi keagamaan yang sama yaitu sebagai bagian dari Ahlu Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sementara dari sisi aspiratif, disadari atau tidak PKB menjadi rumah anspirasi warga NU.

Secara jam’iyyah, NU memang tidak terikat dengan organisasi politik manapun. Namun, warga NU mayoritas manyalurkan anspirasi politiknya melalui partai ini. PKB harus tetap konsisten memperjuangkan pandangan, sikap dan aspirasi politik warga NU. Sudah sepantasnya PKB tunduk dan patuh terhadap apapun yang menjadi perintah NU, sudah seharusnya PKB mau diatur dan dinasehati oleh NU, bukan justru terkesan PKB yang terlalu mengatur NU. Karenanya, khidmat PKB kepada jam’iyyah dan jamaah NU tidak boleh dihilangkan.

Tantangan terberat PKB untuk di masa yang akan datang adalah soal pragmatisme politik. Diakui atau tidak sistem politik kita telah membawa demokrasi ini menjadi lebih pragmatis. Dalam proses politik saat ini hampir semua partai politik sudah mulai kehilangan arah. Kaderisasi partai terkesan sia-sia. Pada saat perhelatan pemilu, partai lebih mengedepankan figur instan. Partai politik lebih mengedapankan sosok figur yang memiliki finansial lebih daripada menawarkan potensi kader partai yang sudah banyak mengetahui garis perjuangan, ideologi, platform, dan visi-misi partainya.

Kekuatan utama PKB adalah mempunyai pemilih ideologis yang kuat di akar rumput. Walaupun tidak didukung kekuatan finansial, faktanya PKB masih bisa bertahan dalam kancah politik Nasional setidaknya sampai Pemilu 2019 lalu. Maka, elit dan kader PKB harus tetap yakin dengan tidak perlu merendahkan diri, seakan-akan PKB akan kalah dalam konstelasi politik kalau tidak didukung oleh kekuatan finansial yang melimpah, sehingga rela mengesampingkan potensi kader. Pragmatisme politik hanya membawa madharat nyata bagi sebuah partai politik. Dan biasanya sikap pragmatis tersebut lebih menjadikan politik sebagai sarana untuk mencapai keuntungan dan kepentingan pribadi daripada sebagai sarana memperjuangkan kepentingan rakyat.

Dengan semangat maju tak gentar membela yang benar, semoga PKB istiqomah menjadi partai pembela rakyat. Semakin bermanfaat bagi umat dan bisa memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa dan Negara. Lebah tidak pernah hinggap di tempat yang tidak baik, lebah tidak pernah makan kecuali makanan yang baik dan lebah juga tidak pernah memproduksi kecuali memproduksi hal-hal yang baik. Dengan simbol lebah ini, diharapkan kader-kader PKB banyak menghasilkan madu yang kaya akan manfaat. Selamat Hari Lahir ke-22 PKB-ku..!!

*Orang Sumenep, Simpatisan PKB

KOMENTAR

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Tasawuf

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: