Catatan

PR Sekda Agus

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.com –SELESAI sudah bursa Sekda Sumenep.

Agus Dwi Saputra resmi dilantik. Kursi sudah diduduki. Foto pelantikan sudah beredar di grup WhatsApp.

Biasanya setelah itu muncul dua hal: ucapan selamat… dan bla-bla.

Saya memilih yang ketiga: menulis PR.

Saya juga tidak mengirim ucapan lewat WA. Karena Sekda bukan jabatan pajangan. Ia mesin utama birokrasi.

Bupati boleh punya visi besar. Tapi yang membuat visi itu bergerak atau tidak, ya ada di Sekda.

Kalau Sekdanya kuat, birokrasi melaju. Kalau lemah, rapat bertambah. Hasilnya sering sama.

Kita boleh mengingat kembali. Di periode pertama Bupati Fauzi, pernah terucap satu kalimat penting: buang ego sektoral OPD.

Di sinilah posisi Sekda sebagai dirigen. Menyatukan irama. Menghasilkan solusi.

Kalau tidak, yang terdengar hanya kebisingan program.

Sebenarnya publik tidak peduli siapa Sekdanya. Publik hanya ingin satu hal: urusan pelayanan birokrasi cepat selesai, tidak ribet.

Kalau warga masih mondar-mandir mencari tanda tangan, berarti reformasi masih hidup di dokumen. Birokrasi seharusnya mempermudah, bukan menguji kesabaran.

Kita ingat capaian ETPD Sumenep yang mencapai 97 persen?. Itu bagus. Tapi angka sering membuat cepat puas.

Sementara 2026 sudah dicanangkan sebagai era pemerintahan digital.

Digitalisasi bukan soal aplikasi. Bukan sekadar layar dashboard. Digitalisasi adalah keputusan berbasis data.

AI harus masuk meja kerja. Bukan hanya bahan presentasi. Kalau teknologi hanya dipakai saat launching, itu bukan transformasi. Itu dekorasi, namanya.

Lalu bagaimana nasib Satu Data?

Data jangan hanya dikumpulkan, lalu disimpan. Data harus hidup.

Sekda baru harus berani menjadikan data sebagai dasar keputusan, bukan sekadar lampiran laporan. Karena keputusan tanpa data jauh lebih berbahaya.

Selain digitalisasi, kesejahteraan ASN berbasis kinerja juga perlu perhatian serius. Kita tahu dinamika ASN. Itu juga PR Sekda Agus.

Yang paling ditunggu banyak orang: bagaimana mengurai kemiskinan, stunting, dan persoalan dasar lainnya di Sumenep.

Rakyat tidak banyak teori. Mereka hanya ingin merasakan satu hal: hidupnya lebih mudah.

Sekda yang baik biasanya menyelesaikan masalah tanpa orang tahu pernah ada masalah. (hambali rasidi)

Exit mobile version