matamaduranews.com-Perubahan besar sedang berlangsung di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Perubahan yang dulu hanya terdengar sebagai wacana, kini mulai terasa nyata di ruang pelayanan, di meja administrasi, bahkan di cara rumah sakit memandang pasien.
Manajemen sadar, rumah sakit masa depan tidak lagi bertumpu pada bangunan megah semata, tetapi pada data, teknologi, dan kecerdasan buatan.
Di bawah komando dr. Erliyati, rumah sakit milik Pemkab Sumenep ini perlahan bergerak menjadi wajah baru layanan kesehatan di Madura. Integrasi AI dan digital health mulai menjadi arah utama. Rekam Medis Elektronik (RME), sistem antrean online, hingga penguatan database menjadi fondasi penting agar pelayanan lebih cepat dan akurat.
Perubahan itu terlihat dari banyak sisi. RSUD Sumenep mencatat sejarah medis melalui operasi tumor tiroid tanpa pisau dengan metode Radio Frequency Ablation (RFA), sebuah lompatan teknologi yang sebelumnya sulit dibayangkan hadir di daerah.
Di sisi lain, digitalisasi pelayanan berhasil mengurai keruwetan antrean panjang melalui sistem pra-booking dan pembayaran non tunai berbasis virtual account.
Kapasitas layanan juga diperkuat. Dokter spesialis bertambah, poliklinik baru hadir, termasuk Poli Nyeri yang menjadi satu-satunya di Madura. Rumah sakit ini tidak hanya memperluas gedung, tetapi memperluas harapan masyarakat agar tidak lagi harus dirujuk jauh keluar daerah.
Menariknya, modernisasi tidak menghapus budaya lokal. RSUD tetap menyediakan ruang tunggu keluarga pasien sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi gotong royong masyarakat Madura. Di sisi lain, layanan “La Sehat” — mobil antar pasien gratis — menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu harus rumit, tetapi bisa lahir dari kepekaan sosial.
Kini, CT Scan kedua disiapkan, layanan MRI dalam proses, dan sistem pintar rumah sakit terus dibangun. RSUD Sumenep sedang berubah. Pelan, tetapi pasti. Dan perubahan itu bukan lagi janji — melainkan kenyataan yang mulai dirasakan masyarakat.(*)












