matamaduranews.com–PAMEKASAN-Warga Pamekasan masih terpengaruh isu hoaks terkait virus Covid-19. Akibatnya, banyak penolakan warga dalam penanganan virus corona.
Hal itu disampaikan Ketua Satgas Penanganan Pasien Covid-19 RSUD Smart Pamekasan, Syaiful Hidayat setelah melihat banyak penolakan warga Pamekasan terhadap penangan pasien corona.
“Masyarakat mulai tidak percaya dengan corona karena informasi hoaks di media sosial. Kami para dokter dan tenaga medis sering mendapat ancaman fisik dan psikologi,” kata Syaiful seperti dikutip kompas.com.
Kata Syaiful, banyak warga di Pamekasan tidak percaya bahwa keluarganya sakit karena Covid-19.
Seperti ancaman pembakaran di Puskesmas Bandaran, Tlanakan dan pengambilan paksa jenazah Covid-19 yang melibatkan 300 warga sambil menenteng senjata tajam (Sajam) jenis celurit di Kecamatan Waru, Pamekasan, Rabu malam (10/6/2020) sekitar pukul 22.00 WIB.
Melansir kompas.com, ratusan warga itu sambil menenteng dan mengayunkan Sajam mengadang ambulans yang melintas di jalan raya Waru.
Mereka mengambil paksa jenazah pasien berinisial S (60) yang meninggal di Rumah Sakit Moh Noer Pamekasan.
Semula petugas medis berhazmat mencoba mempertahankan jenazah. Namun, warga mengancam petugas. Para warga juga mengancam akan membakar ambulans.
Setelah jenazah berhasil diambil warga, petugas disuruh pulang. Baju hazmat yang dikenakan petugas dilepaskan warga dengan paksa.
Warga tidak ingin jenazah pasien itu dimakamkan dengan protokol Covid-19 di wilayah itu. Jenazah pasien akhirnya dimakamkan sendiri oleh warga tanpa protokol Covid-19.
“Warga ingin jenazah dimakamkan tanpa protokol Covid-19 karena daerahnya tidak mau ada orang yang terpapar corona,” cerita Syaiful, Selasa (16/6/2020).
Syaiful mengatakan, tenaga medis bekerja berdasarkan keilmuan, bukan rekayasa.
Karena semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap wabah virus corona, jumlah pasien positif dan PDP semakin hari di Kabupaten Pamekasan semakin bertambah.
Ruang isolasi sudah tidak mampu menampung pasien lagi. Petugas medis juga mulai kewalahan melayani pasien.
Ditambah pasien yang sedang diisolasi, sering berbuat ulah seperti mengamuk, mencaci maki tenaga medis dan minta pulang meskipun belum sembuh.
“Untuk menyadarkan masyarakat tentang corona, butuh peran tokoh agama dan ulama karena panutan masyarakat Madura adalah ulama. Kalau tugas kami hanya merawat pasien saja,” ucap Syaiful.
Kapolres Pamekasan, AKBP Djoko Lestari menyatakan akan mengusut kasus pengambilan paksa jenazah positif virus corona atau COVID-19 yang terjadi di Kecamatan Waru.
“Kami akan mengusut kasus itu,” kata Kapolres Djoko kepada antara di Pamekasan, Selasa (16/6/2020).
Selain akan menindak secara hukum, Kapolres Djoko juga akan melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga agar hal serupa tidak terulang lagi.
Johar, Mata Madura