Menu

Sejarah Singkat Bahasa Madura

Sejarah Singkat Bahasa Madura
Beberapa buku lawas berbahasa Madura. (Foto/Istimewa)
Link Banner

matamaduranews.comDi lidah para penuturnya, bahasa Madura tidak memiliki masalah atau perbedaan. Namun lain halnya ketika harus dituangkan dalam bentuk tulisan.

Ejaan yang tertulis kemudian memiliki banyak seragam, sehingga penyeragaman ejaan menjadi hal yang sangat penting dalam suatu bahasa. Karena ejaan yang berbeda-beda, akan menumbuhkan kesalah pahaman, salah maksud, serta akan menyulitkan bagi para pembacanya.

“Secara historis, ejaan bahasa Madura sangat dinamis. Ejaan ini senantiasa mengalami perubahan dan penyempurnaan. Sejarah mencatat kali pertama penggunaan ejaan bahasa Madura yang baku dimulai puluhan tahun pra kemerdekaan RI. Kemungkinan besar di awal 1900-an, jika merujuk pada keberadaan literatur-literatur bahasa Madura,”kata salah seorang pemerhati bahasa Madura di Sumenep, Rabiatul Adawiyah, S.Pd,

Menurut Rabiatul, sejak sebelum tahun 1918 hingga 1939 digunakan ejaan Balai Pustaka yang berpedoman pada ejaan Ch. A. Van Ophuysen untuk bahasa Melayu, yang selanjutnya dikenal dengan ejaan Van Ophuysen.

Setahun setelahnya, yakni di tahun 1940, ejaan Van Ophuysen berganti pada ejaan Provinsi Jawa Timur. Ejaan ini disahkan oleh Kepala Inspeksi Pelajaran Provinsi Jawa Timur atau Inspekteur Hoofd der Prov Onderwijs aangelenheden van Oost Java.

“Nama Kepala Inspeksi tersebut E. van Stappershoef. Stappershoef merupakan orang Belanda di masanya yang sangat faham betul, sekaligus menguasai Paramasastra Madura. Ia yang kemudian menindak lanjuti usulan para guru dan penilik sekolah di Madura, terkait perubahan ejaan lama pada yang baru,”jelas salah seorang guru di SMP Negeri 1 Saronggi ini.

Pasca kemerdekaan, ejaan bahasa Madura atau ejaan Provinsi itu berubah lagi, atau diselaraskan dengan ejaan Suwandi atau ejaan Republik. Dan di tahun 1973, ejaan bahasa Madura disempurnakan dari hasil sarasehan tahun 1973 di Pamekasan, yang selanjutnya dipakai hingga saat ini.

“Namun, kini malah timbul perbedaan lagi di kalangan praktisi bahasa Madura. Ada yang ingin kembali ke ejaan lama, ada yang mempertahankan ejaan hasil sarasehan Pamekasan 1973. Nah, ini kalau tidak satu pendapat, dikhawatirkan akan jadi ganjalan besar dalam perkembangan bahasa Madura ke depan,”tambahnya.

sumber: matasumenep, 2015
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: