matamaduranews.com-Sumenep sering disebut daerah yang kaya. Namun PAD-nya masih biasa saja.
PAD Sumenep tahun 2024, Rp 272 miliar. Lalu menyentuh angka di atas Rp 300 miliar,
Katanya, kenaikan PAD konsisten sekitar 6-8% per tahun. Karena didorong kebijakan Bupati Fauzi dalam memperkuat sektor pariwisata dan memanfaatkan sejumlah aset pemkab.
Padahal Sumenep memiliki banyak hal: 126 pulau, laut yang luas, pertanian yang kuat, populasi sapi besar, wisata indah. Juga sumur migas.
Lalu kenapa kas daerah belum ikut tumbuh pesat?
Masalahnya bukan pada potensi.
Masalahnya ada pada cara mengelola.
Kita tidak perlu terlalu jauh bicara konsep besar. Yang dibutuhkan konsistensi.
Kalau ingin PAD naik, mulailah dari yang paling nyata.
BUMD, misalnya. Badan Usaha Milik Pemkab itu seharusnya menjadi mesin pendapatan daerah. Bukan sekadar bertahan hidup meski memiliki aset besar.
Jika BUMD dikelola profesional, dividen bisa memberi kontribusi nyata.
Jika tidak, ia akan terus menjadi beban APBD.
Aset daerah pun demikian.
Banyak yang belum produktif. Padahal dengan kerja sama yang transparan dan pengelolaan yang serius, aset bisa menghasilkan tanpa harus membebani APBD.
Karena itu, menaikkan PAD sebaiknya tidak dimulai dari menaikkan beban rakyat. tarif demi tarif.
Masalah utama justru sering terjadi di sisi lain: kebocoran, sistem yang longgar, dan data yang belum tertata.
Sumenep selama ini lebih banyak memproduksi.
Nilai tambahnya justru dinikmati daerah lain.
Selama hilirisasi belum berjalan, PAD akan terus menjadi penonton.
Solusi nya adalah konektivitas.
Pulau-pulau itu indah, tetapi berjauhan. Logistik mahal. Aktivitas ekonomi tersebar.
Tanpa akses transportasi yang baik, potensi hanya berhenti sebagai cerita di ruang diskusi.
Jadi, jika ingin serius menaikkan PAD, arahnya perlu diperjelas:
bukan menaikkan tarif,
tetapi menutup kebocoran,
merapikan sistem,
dan mendisiplinkan data.
PAD bukan soal memeras.
PAD adalah soal mengelola.
Jika sistem rapi, pendapatan akan mengikuti.
Jika sistem longgar, potensi sebesar apa pun hanya menjadi kebanggaan di atas kertas.
Barangkali itu pula yang menjadi pesan Bupati Fauzi kepada Sekda Agus Dwi Saputra seusai pelantikan:
menaikkan PAD Sumenep bukan sekadar target, tetapi kerja membenahi sistem. (hambali rasidi)












