matamaduranews.com-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi kabar baik bagi sekolah. Anak-anak makan lebih sehat. Konsentrasi belajar meningkat. Orang tua sedikit lega.
Tapi di lapangan, cerita tidak selalu seindah slogan Presiden Prabowo.
Keluhan mulai muncul. Menu disebut asal-asalan. Penyajian dipertanyakan. Dan yang paling berbahaya: muncul kekhawatiran soal kelayakan makanan yang masuk ke meja siswa.
Di tengah kegelisahan itu, suara tegas datang dari ruang dewan.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, M. Ramzi, memilih jalur yang sederhana tapi keras: wali murid harus berani bersikap.
Bukan sekadar mengeluh di grup WhatsApp. Bukan hanya menggerutu di depan pagar sekolah.
“Kalau makanan tidak layak, kembalikan,” ucap Ramzi.
Menurut Ramzi, kontrol sosial paling kuat justru ada di tangan orang tua. Mereka yang setiap hari melihat dampaknya pada anak-anak. Mereka yang tahu mana makanan yang pantas dan mana yang sekadar formalitas program.
“Kalau memang ditemukan menu yang tidak layak, jangan dibiarkan. Orang tua siswa harus kompak mengembalikan kepada pengelola dapur MBG,” tegasnya.
Bahasanya sederhana. Tapi pesannya jelas: jangan biarkan standar turun hanya karena program ini berlabel “gratis”.
Ramzi bahkan mendorong satu langkah yang lebih berani. Harus ada satu sekolah yang menjadi contoh. Wali murid bersatu. Datang bersama. Mengembalikan makanan yang dinilai tidak sesuai standar.
Karena perubahan, kata dia, sering dimulai dari satu keberanian kecil.
Jika satu sekolah bergerak, sekolah lain akan ikut. Efek domino itu yang diharapkan. Bukan untuk mempermalukan pengelola, tapi untuk mengingatkan bahwa makanan anak-anak bukan ruang coba-coba.
Program MBG sendiri punya tujuan mulia: mendukung tumbuh kembang dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Tapi niat baik tidak cukup jika pelaksanaan di lapangan dikerjakan setengah hati.
Bahan baku harus diperhatikan. Proses memasak harus higienis. Distribusi harus tepat. Karena sekali saja kualitas diabaikan, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra program — tapi kesehatan generasi.
Di titik ini, pesan Ramzi:Program boleh gratis. Tapi kualitas tidak boleh murahan.
Dan ketika orang tua mulai kompak bersuara, biasanya perubahan tidak butuh waktu lama untuk datang. (ai)












