Warisan Ulama NU

Catatan: Hambali Rasidi

31 Januari 2021. NU berusia 95 tahun.

31 Januari 1926. Nama NU (Nahdlatul Ulama) dibuat sekedar untuk mengirim utusan Komite Hijaz ke Mekkah.

Ketika itu, KH Abdul Wahab Chasbullah mengundang para ulama pesantren untuk membentuk panitia kecil yang bertugas untuk menemui Raja Arab Saudi, Ibnu Sa’ud.

Para ulama pesantren Nusantara setuju jika harus ada utusan yang hadir ke Muktamar Dunia Islam di Mekkah.

Panitia kecil itu dikenal dengan istilah Komite Hijaz.

Selesai membentuk Komite Hijaz. Perlu pembicaraan siapa yang akan diutus ke Muktamar di Mekkah.

KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya di kediaman Kiai Wahab untuk membicarakan siapa utusan itu.

Dalam pertemuan itu hadir para ulama dari Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Para ulama itu, sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.

Tapi ada yang tanya. KH Raden Asnawi datang ke Muktamar Dunia Islam di Mekkah atas nama apa?

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz memberi usul Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab setuju nama NU sebagai institusi yang mengirim Kiai Asnawi ke Muktamar Dunia Islam di Mekkah.

Kiai Asnawi diberi mandat untuk menyampaikan aspirasi para ulama Nusantara dalam Muktamar di Mekkah.

Waktu itu. Raja Sa’ud hendak membongkar makam Nabi Muhammad Saw yang menjadi jujukan ziarah umat Islam dunia.

Raja Sa’ud menganggap berziarah ke orang mati adalah bid’ah.

Raja Sa’ud ingin menerapkan kebijakan menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya.

Si Raja hanya ingin menerapkan ajaran Wahabi sebagai madzhab resmi kerajaan.

Rencana Raja Sa’ud itu akan dibahas di Muktamar Dunia Islam (Muktamar ‘Alam Islami) di Makkah.

Sejarah kelahiran NU untuk merespons kondisi rakyat Nusantara yang sedang terjajah dan problem keagamaan global diulas lengkap oleh Choirul Anam.

Cak Anam-biasa orang memanggil-salah satu saksi sejarah saat NU berkembang.

Ulasan kesejarahan NU oleh Cak Anam melalui sumber langsung ke tokoh-tokoh NU. Maklum, Cak Anam masih keturunan pendiri (dzurriyah muassis) NU.

Cak Anam, lahir di Jombang, 30 September 1954.

Setelah tamat di Madrasah Nahdlatul Ulama di Jombang. Cak Anam berlabuh ke IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Fakultas Ushuluddin ia ambil di tahun 1978.

Selama 4 tahun, Cak Anam mendalami NU untuk penulisan skripsi.

Pada bulan Mei 1984, Cak Anam mendapat gelar sarjana Ilmu Aqidah dan Filsafat setelah menyelesaikan skripsi tentang NU yang berjudul: Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama.

Skripsi Cak Anam tentang NU nyaris tiada tandingnya. Karya Cak Anam ini merupakan jasa besar pada NU.

Kekuatan karya Cak Anam terletak di datanya yang sangat luas dan mendalam.

Meski karya mahasiswa Sarjana Strata Satu, dicetak menjadi buku induk bagi mereka yang ingin ngerti tentang NU.

Maklum. Saat merampungkan skripsinya. Cak Anam sambil lalu menjadi wartawan Majalah Mingguan TEMPO di Jawa Timur. Seangkatan dengan Dahlan Iskan, eks CEO Jawa Pos.

BACA JUGA :  Mengenal Rabi’ah al-Adawiyah; Sufi Perempuan Pencetus Mahabbatullah

Sewaktu mahasiswa. Cak Anam dikenal sebagai aktivis organisasi mahasiswa. Baik di internal dan eksternal kampus.

Di internal kampus, Cak Anam dua kali menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin.

Saat gerakan mahasiswa 1977/1978. Cak Anam termasuk salah satu mahasiswa yang diamankan selama 4 bulan karena mendemo Presiden Soeharto agar turun tahta.

Di ekstra-kampus. Cak Anam aktiv di Koorcab PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jawa Timur.

Lulus kuliah. Cak Anam aktiv di GP Ansor dan NU (Nahdlatul Ulama) di Jawa Timur.

Warisan Ulama NU

Cak Anam mencatat, Kiai Wahab bertindak cepat ketika umat Islam yang tergabung dalam Central Comite Al-Islam (CCI)–dibentuk tahun 1921–yang kemudian bertransformasi menjadi Central Comite Chilafat (CCC)—dibentuk tahun 1925–akan mengirimkan delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah pada 1926.

Sebelumnya, CCC menyelenggarakan Kongres Al-Islam keempat pada 21-27 Agustus 1925 di Yogyakarta.

Dalam forum itu, Kiai Wahab menyampaikan pendapat terkait diselenggarakannya Muktamar Dunia Islam.

Salah satu usul Kiai Wahab adalah “Delegasi CCC yang akan dikirim ke Muktamar Islam di Mekkah harus mendesak Raja Ibnu Sa’ud untuk melindungi kebebasan bermadzhab. Sistem bermadzhab yang selama ini berjalan di tanah Hijaz harus tetap dipertahankan dan diberikan kebebasan”.

Kiai Wahab beberapa kali melakukan pendekatan kepada para tokoh CCC yaitu W. Wondoamiseno, KH Mas Mansur, dan H.O.S Tjokroamonoto, juga Ahmad Soorkati.

Namun, usulan Kiai Wahab agar pesan ulama Nusantara tersampaikan kepada Raja Sa’ud selalu kandas di tengah kelompok modernis.

Fenomena ini yang mendorong Kiai Wahab untuk membentuk Komite Hijaz.

Meski sebelumnya, Kiai Wahab bersama para ulama pesantren mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918.

Dua organisasi ini dianggap tak fokus untuk menentang rencana Raja Sa’ud.

Bagi ulama pesantren. Sentimen anti-madzhab yang dicetuskan Raja Sa’ud ingin menghilangkan nilai-nilai tradisi Islam yang sudah menjadi kemajuan peradaban Islam wajib dibendung.

Kiai Wahab gelisah. Minta restu ke sang guru, Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim menyadari praktik berislam di bumi Nusantara perlu dilestarikan sebagai warisan para waliyullah dan sahabat-sahabat Nabi Saw.

Tapi, Kiai Hasyim perlu mendapat restu dari gurunya, Syekhona Kholil Bangkalan.

Melalui KH As’ad Syamsul Arifin. Pesan Syekhona Kholil tersampaikan ke Kiai Hasim Asy’ari.

Kiai Hasyim sumringah. Sang guru merestui untuk membentuk organisasi yang bertujuan merawat praktek berIslam yang mempertahankan tradisi di Indonesia.

Setelah NU lahir. Para ulama pesantren terus berpikir bagaimana kehidupan sosial masyarakat yang masih terjajah. Para ulama aktif merespon fenomena ukhuwah kebangsaan (wathaniyah).

Setelah Indonesia merdeka.

Para generasi NU perlu mewarisi sikap para ulama NU dulu dalam merespon fenomena keagamaan dan kebangsaan.

Tentu dengan problematika yang beda dengan awal berdirinya NU.

Apa itu?

Anda yang lebih paham.

Sumenep, 31 Januari 2021

Komentar